Posts

Showing posts with the label Ruang Puisi

DARI KAMAR KE KAMAR

DARI KAMAR KE KAMAR I Julia, malam itu saat petak-petak tubuh kita dirundung kemarau yang sendiri kita menanak bulir-bulir rindu di tungku asmara Aku memintamu mencicip dari bibirku Dan kita bertukar lapar Lama sudah kita baringkan sepi di pondok tidur sejak aku memilih melaut dan engkau menabur di ladang Kelak bertemu di sungai waktu II Lekas-lekas kita bangunkan sepi karena rindu telah matang dipanggang jarak dan waktu "Kecaplah, tak ada hidangan selain kita yang sendiri-sendiri. Teguklah, tak ada cawan yang diangkat Selain sisa malam yang memabukkan“ VL, Sankt Augustin, 16 Juli 2018

TOBA

Image
TOBA Di danau ini aku belajar memeluk gelombang Digulungnya lembar- lembar rindu yang belum tuntas kau baca Di danau ini aku belajar mencium bibir pantai Ditinggalkan basah pada jantung karang Di danau ini aku belajar memandang jejak-jejak ombak yang silam Diciptanya jarak-jarak tanpa alamat Kepadanya tanganku melambai lesu Di danau ini aku belajar mendengar angin Dihanyutkan nama dan salammu antara buih-buih mencengkeram Di danau ini aku belajar menyusuri wajahmu berpasir Tergores kenangan demi kenangan Di danau ini aku belajar menggaram duka Diiris pisau jarak menembus rusuk-rusuk karang Di danau ini aku belajar menebar jala Yang pernah kita sulam di Simarjarunjung Menabur kembang yang kita tanam di Sapo Juma Tongging Di danau ini aku belajar mencintai badai yang menyimpan tangis Mengerang di dasar rumahmu abadi Mengegenang di jalan samudera menuju sana Menggetarkan batu-batu rindu Melengking ayat-ayat doa yang tercecer di...

MAAF

MAAF Julia, Maafkan aku Jika sering kuungsikan kata-kata ke ruang-ruang klausur Dan mereka menyerukan namamu bagai litani di lorong-lorong silentium Membisikkan kecemasan demi kecemasan pada ruas-ruas kontemplasi Maafkan aku Jika bait-bait puisiku sering terdampar di biru matamu Bersama buih-buih pesan merecik alismu yang terkadang lelah Menafsir misteri panggilan Padahal pada setiap larik-larik itu aku hanya mau bilang: Ada nafasku bersama angin yang mengibarkan layar setia Menggiring bidukmu menuju pantai yang kaurindu Menuju pulau orang-orang bernazar Maafkan aku ... Sankt Augustin, 25.06.2018

WANITA DAN BULANNYA_Kepada Wanitaku

Image
WANITA DAN BULANNYA Kepada Wanitaku Julia, Setiap bulan Kau kurung wajahmu di bilik luka paling intim mengandung bulan yang menyabit-nyabit rahim Membalut kuncup hidup akanan Setiap bulan Kau kunyah perih dengan matamu Seakan rusuk itu baru ditanam dalam-dalam pada tubuhmu Menjadikanmu ibu kehidupan Setiap bulan Kau rawat sakit di atas ranjang ketabahan Memberinya pil setia yang menetes dari jantung Mengobati bulan-bulan terluka Hingga purnama Dan bulan-bulan yang terluka Adalah usia setiamu V. Lein, Sankt Augustin, 18.06.2018 Foto: © Frank Lothar Lange/plainpicture - Zeit Online

ZIARAH

ZIARAH Dengan kaki ingatan kita berjalan ke rumah masa silam Bergandengan pada tangan-tangan mimpi yang masih bermalam Di rongga dada dan lorong-lorong nadi Kita telah membangun jalan-jalan itu Mulai dari pelosok rahim yang batunya adalah sunyi Dari kampung yang halamannya adalah masa kecil kita Dari hutan yang akarnya adalah kata Menuju negeri kekal dalam rindu sembahyang Di pucuk-pucuk pohon ziarah meninggih langit VL_07. Maret 2018  

SEBELUM HARI KE EMPAT PULUH

Image
SEBELUM HARI KE EMPAT PULUH Julia, Minggu kemarin aku mencari wajahmu di deretan bangku jati dan mahoni Di anak-anak tangga dan ubin menuju altar terus kupanggil namamu Aku mencari suaramu di mimbar kayu dan halaman-halaman kitab Merunut jejak-jejak jubahmu yang mewangi di lintas perarakan menuju ruang sempit sakristi Lalu menunggu di kamar pengakuan, tempat paling intim kita: Ketika aku menelanjangi diriku di atas ranjang matamu yang maha luas Berbaring di rahim bibirmu yang selalu siap melahirkan aku kembali di setiap jalan menuju pulang Dan engkau mulai meraba setiap lekak lekuk tubuhku juga punggungku yang merongga kau balut dengan gulungan kitab   Yang kau kunyah dengan secawan anggur paling merah Julia, Bild: Domradio   Aku ingin lagi, dan lagi Sebelum hari ke empat puluh Saat engkau datang membuahi telur yang kutanam di petak-petak tubuh VL_02.03.2018

Setelah Enam Tahun

Image
SETELAH ENAM TAHUN J ulia,  enam tahun sudah kita tak bertemu di musim yang putih-putih Membelai pipimu merah menimang dingin yang berguguguran Mengejar angan yang berkeliaran bersama angin dan hujan Lalu ingin beristirahat di bawah kelopak mata yang menopang beku embun Kini aku bertandang ke ruang matamu Melumat bibirmu hingga luka, ya karena aku adalah musim percintaan  yang mengetuk luka di ambang waktu Merayap ke bukit-bukit dadamu yang bergurun-gurun dalam puasa: „Peluklah aku hingga tiada“ VL_Februari 2018

ABU

Image
ABU Di Rabu yang abu aku mengingat ibu Mencuci periuk dan piring pakai abu Dipungutnya dari tiga tungku di dapur bambu Aku pun tak akan malu Saat semua orang tahu Kalau ada abu di umurku Karena di abu ada tangan ibu Yang telah menjadi monumen di hatiku Membatu dalam batin hingga runtuh waktu Menimbun aku jadi abu Selamat membersih diri dengan abu!!! Gambar: Das Kirchenlexikon_NDR.de VL_Gereja Paroki St. Elisabeth Gera - Thüringen

CIUM AKU SEKALI LAGI

Image
CIUM AKU SEKALI LAGI Julia,  cium aku sekali lagi, seperti mentari yang melahirkan pagi karena nafasmu lebih nikmat dari coklat Merci Cium aku sekali lagi, seperti pertama kali Dengan lidah yang basah meneteskan madu murni Cium aku sekali lagi, dengan jantung paling api Melumat segala luka yang mati Cium aku sekali lagi, dengan peluk hati hati Merangkul wajah cemburu memburu benci Julia … Foto: Wikipedia Ciummu selalu kubawa hingga kini Kukunyah pada mulut puisi Cium aku sekali lagi Hingga mati VL_14. Februari 2018

SULIYONO DAN NAFSUNYA

Image
SULIYONO DAN NAFSUNYA Di Minggu yang kudus, Suliyono datang bagai kecanduan  Ke ruang paling intim rumah Lidwina, tetangganya Meneriakkan libido yang disuntikkan ke ubun-ubun Entah di mana dan sudah berapa lama Ia memelihara bidadari-bidadari di selangkangan  Yang katanya hanya bisa disetubuhi setelah tidur yang panjang Di atas ranjang langit ke tujuh Ketika nurani telah mati karena impotensi Dan hanya kelamin terorisme yang berereksi Dihunuskannya nafsu dari sangkar ideologi Merobek tenunan baju kasih, menebas tali tali toleransi Suliyono terkapar oleh ejakulasi dini Sebelum sempat menjumpai bidadari Akh….Suliyono Bagaimana mungkin kau bersetubuh dengan pedang Karena itu membikin kekasihmu tak pernah tenang Jangan biarkan jiwamu pergi sebelum mati Oleh candu bidadari yang tak punya hati Sarungkanlah pedangmu  Dan bukan nuranimu VL_13 Februari 2018 Foto: news.idntimes.com  

ZIARAH KE RUMAH PURBA

Image
ZIARAH KE RUMAH PURBA Untuk Sareng Orinbao Dengan perut yang masih lapar tentang masalalu Dengan kaki ingatan yang masih meraba mencari jalan pulang Dengan mata ingin yang telah kuberi jendela kata Aku melata di antara rumpun nama-nama suku Di atas jejak-jejak kumal kau wariskan dari kampung Nita Membatu di atas Cabo de Flores, menjelma dalam Nusa dan Nipa Di sana kau kubur segala yang sudah-sudah Bersama manik-manik yang luruh dari tubuh bersisik Dan sarung adat yang membalut anggun Ine Pare – Tonu Wujo  Di sana aku tiba juga: koten rae lera matan, ikung lau lera helut loen(g) reta lero leman(g), iür le lero meseng ulu gheta ledja gedju, eko ghale ledja mele ulun awo par, ikon sale kolep kupetik kembang yang kau tanam  dan kupeluk menjadi diriku jadi cerita untuk yang datang nanti di Nusa Nipa – Nusa Bunga VL_12.02.2018 *Nita: salah satu kampung di Kabupaten Sikka, Maumere Flores, tempat lahir P. Sareng Orinbao, SVD a lias P. Pi...

SEPASANG TUBUH YANG SAKIT

SEPASANG TUBUH YANG SAKIT Kepada Christian dan Jutta Sejak istrinya lumpuh di kursi roda, ia memilih pensiun dini Membukakan pintu-pintu rumah , menyeberangkannya dari kamar ke kamar Sejak sembuh tak tumbuh-tumbuh di halaman tubuh istrinya Ia memilih menanam sabar di petak-petak tubuhnya sendiri Meski ginjalnya tinggal satu untuk meng-air-i seluruh Sudah bertahun-tahun mereka di rumah sendiri Tanpa menghitung jumlah hari, bulan maupun tahun Karena bagi mereka hidup adalah detik yang berdua Didetakkan pada tubuh yang luka Entah perih atau gatal:bersama untuk ada VL_Sontag, 11 Februari 2018

DINGIN

Image
DINGIN Malam tadi salju salju memanjat dinding kamar menyeberang ke ranjang dan menarik lengan-lengan mimpi diselipkannya dingin pada kantong kepala  Sebelum aku mengisinya dengan bulir bulir doa yang gigil Betapa hatiku beku  Menakar derajat-derajat musim kian meninggi Menutup jendela dan pintu  Juga di jalan yang belum subuh Sementara bulan yang kau tanam di lereng mata  tak tumbuh-tumbuh, lama sudah *** VL_04. Februari 2018

DJOU DAN OLE-OLE DARI ROMA

Image
DJOU DAN OLE-OLE DARI ROMA Kepada Almharum Rm. Yohanes Djou Niron, Pr Saat kembali studi dari kota tua Roma Djou tak hanya memikul Logos dalam kantong punggungnya Tapi juga Salib yang ia tancap di rongga dada Menikam bukit jantung misionernya Bersama itu dikemasnya Camera Digital   ukuran sedang dan   DVD-Player Sering dipinjamkannya Camera itu kepada kami Memotret panorama kebun kopi  Yang harum bunganya menembus pendopo patres   Hingga kamar belakang dan bilik-bilik seminaris Bau pengap bercampur asap rokok dan ketenggi Juga lahar dan asap belerang dari bara asmara  Gunung Lewo Tobi laki-kali dan perempuan yang hampir setiap  malam bercinta dalam gelap-gelap memberi subur pada rahim Lembah Hokeng , buah pada semai San Dominggo Membidik dengan Camera pada rimbun sawo coklat-hijau, mangga, rambutan, salak, jambu, alpukat yang selalu menggoda mata  Tak lupa kami memotret wajah Djou yang teduh, sambil kami menyus...

Kepada Bulan

Image
Kepada Bulan Baru saja kita berjumpa di halaman buku harian Kemarin tanpa pamit engkau pergi Karena aku masih bersetebuh dengan sisa angka di kamar waktu Dan hari ini engkau mengirimkan aku undangan pernikahan  Entah yang ke berapa, waktuku tak mencatat pasti Di Timur anak-anak bumi telah menanti Melihat pernikahanmu dengan matahari Tak ada dari mereka yang mempersoalkan apa agamamu,  dari mana asal-usulmu dan apa kelaminmu (?) Dan mereka terkagum-kagum  Melihatmu bersetubuh dengan dewa atau dewi matahari itu Di atas ranjang kabut beludru Di balik selimut malam menudung restu Dengan cinta yang berdarah-darah Menetes jatuh ke kubah Mesjid yang patah sabitnya Ke atap menara Gereja yang terbakar lengan salibnya Ke pucuk-pucuk Pura yang gugur candinya Ke Vihara dengan patung-patung Budha yang terpenggal Ke tiang-tiang gapura Litang tercoreng „Baal“ Ternyata cinta itu lebih indah, ketika ia dinikmati dalam gelap  saat mata han...

ANGIN BULAN JANUARI

Image
ANGIN BULAN JANUARI* Adakah yang lebih geram Selain angin bulan Januari Ditelanjangi bulir-bulir birahinya Kepada pohon-pohon yang meranggas d(g)aunnya Meremas-remas badai di selangkangan Kepada bunga-bunga kampung perawan meliuk-liuk puting (beliung) yang seksi menggusur dalam bagai gasing di kamar-kamar gelap Adakah yang lebih licik Dari angin bulan Januari Ditinggalkannya jejak-jejak puing reruntuhan Tergeletak bisu di atas jalan itu Adakah yang lebih gila Dari angin bulan Januari Melucuti segala topeng penuh luka Melumat bibir bibir berbelit dusta Lari terbirit-birit keluar masuk rumah yang sakit lambungnya Karena pondok-pondok persalinan sudah patah kakinya Menopang lumbung-lumbung yang kemarau Adakah yang lebih nafsu Dari angin bulan Januari Ditidurinya rumah-rumah Dan pohon-pohon di sepanjang jalan? VL_30.01.2018 *bdk. Puisi Sapardi Djoko Damono „Hujan bulan Juni“ Ilustrasi Gambar: Pixabay

ANGIN DAN DAHAN

Image
ANGIN DAN DAHAN Untuk Larantuka Julia,  Hari ini angin mengirim kabar Tentang dahan yang patah Setelah kemarin mereka bertengkar Tentang camar yang mati dipanah „Mengapa engkau tak mengubah  arah anak-anak panah Sebelum mereka menembus sangkar?“, Tanya dahan dengan urat gemetar „Mataku dan mata panah kadang tak searah Dan busur mereka membuncit angin serakah. Lalu, mengapa tak kau sembunyikan camar  di balik rahasia wajah daun dan rambutmu yang belukar?“,  „Semuanya telah ditebas luka, rontok di musim-musim yang membakar,  dan aku pun akan segera digusur setelah lengan-lenganku patah menimang petir dan kakiku tak kuat lagi menopang kemarau yang selalu  bertengger di pucuk-pucuk nasib yang layu sebelum mekar seperti dahulu VL_30.01.2018 Ilustrasi Gambar: Scott's Blog

NIREN DAN CINTA YANG MENDOA

Image
NIREN DAN CINTA YANG MENDOA Niren,   sepotong nama yang selalu menumpuk rindunya di tekuk lutut,  menyimpan rapat-rapat dalam katup tangan cinta yang pernah memanggilnya tak pernah lalai nama „Kopong“ melengking dari bibir mungilnya bersama ayat-ayat mazmur dan bait kidung. Dan „Kopong“ sendiri pun begitu yakin,  bahwa Niren – pujaan hatinya tak pernah alpa untuk itu.   „Buat apa aku harus menipu suara hati, apalagi menipu Dia yang aku percaya penuh, bahwa kita pernah saling mencintai  dan akan selalu mencintai“, begitu sekali Niren mengingatkan „Kopong“.  Bagi Niren, „Kopong“ adalah lirik-lirik doa yang paling dia cintai; karena itu, berdoa adalah caranya ia mencintai „Kopong“. Sebaliknya Niren bagi „Kopong“ adalah puisi terindah dalam hidupnya,  syair yang senantiasa memberi warna baru dalam petualangan imajinatifnya,  sosok yang selalu menginspirasi – bukan hanya dalam lautan puisi,  tapi juga dalam pelayaran hidup den...

BALI DAN KITA

Image
BALI DAN KITA Julia, semalam aku melihatmu di Bali berjalan dengan kaki telanjang dan senyummu yang basah di bibir pantai menetes hingga ke tilam remang  Mengajakku berenang ke laut Bali Tapi kita ragu-ragu Pada ombak yang terus merayu Jejak kita terhapus  Juga wajahmu yang malu-malu Mungkin di sini kita tak harus bertemu Atau juga saling menunggu  Tapi di sini, di hamparan kenangan dan doa-doa yang selalu Julia, K au yang tak habis kucintai, Aku tak ingin kau berlalu Kusembunyikan kau dalam puisi Dan ke Bali aku akan kembali Membacakan bait-bait ini  Kepada ombak, kepada pantai  Kepada mimpi yang membawamu ke sini VL_17.01.2018 Foto: Bali Golden Tour_Kuta Beach

SARAPAN MUSIM DINGIN

Image
SARAPAN MUSIM DINGIN Foto: Jagung Titi_Pictame Julia,  ijinkan aku larutkan wajahmu  dalam secangkir kopi pagi ini juga sehelai jiwamu  ingin kukecap pada sekerat roti Aku tak lagi punya „jagung titi“ Karena tungku telah lama sepi dipadam zaman Dan tembikar warisan itu telah dibawa pergi Di lahan petani telah ditabur benih-benih onani Orgasme politik penuh utopi Sejak itu ibu hanya menanak batu Merebus nasib nasib yang pahit membeku Memanggang sisa-sisa mimpi yang basi  Dan ayah hanya mencangkul matahari Karena hujan terperangkap di lubang tambang penuh benalu Julia, Terima kasih kamu telah membuat pagiku hangat  Ketika sisa-sisa mimpi membuat kopiku terasa dingin dan pahit Semoga aku menjumpai lagi wajahmu di dasar cangkir kopi Di mulut cangkir aku menanti  Dengan bekas bibirmu yang masih melekat VL_17.01.2017 *Jagung titi: makanan khas masyarakat Flores Timur dan Lembata; biasanya dihidangkan saat sa...