Posts

Showing posts from March, 2017

KEBAHAGIAAN

Image
TENTANG KEBAHAGIAAN Julia, Pertanyaan tentang definisi kebahagiaan dan arti kesempurnaan yang pernah kita diskusikan masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan baru. Lalu, kebahagiaan seperti apa, yang sesungguhnya menjadi hakikat pencaharianmu? Apakah kamu telah meraih kebahagiaan yang kamu impikan itu? Momen atau peristiwa apa yang paling membahagiakan dalam hidupmu? Apakah itu pengalaman ciuman pertama yang membakar asmara cinta di jiwamu? Atau mungkin sebuah pertemuan kembali yang tak terduga dengan orang yang telah sekian tahun hilang dari peredan hidupmu, atau kelahiran ciptaan baru dalam lingkaran keluarga? Aku sendiri hanya bisa menebak. Tapi satu hal yang aku yakini pasti adalah, bahwa momen-momen atau potongan cerita bahagia yang kita alami senantiasa terjadi dalam pengalaman keterlibatan dengan yang lain, entah itu keluarga, sahabat atau kenalan. Dan itulah hakikat hidup manusia yang tak bisa kita sangkal sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang filsuf fenomenologi dan ek...

PASAR KOMODITI DI NTT: FREE TRADE VS FAIR TRADE

PASAR KOMODITI DI NTT: FREE TRADE VS FAIR TRADE Catatan Sambung atas Opini Willem Openg Vian Lein Anak Petani Desa Mokantarak – Flotim Willem W. Openg dalam opininya „Pak Bupati, Lahan Kering dan Kesejahteraan“ (PK Senin 27/2/2017)   menantang pemerintah di setiap Kabupaten dan seluruh warga NTT untuk mengusahakan pertanian lahan kering. Usaha garam di Sabu Raijua, perkebunan jagung di Malaka, kacang dan tebu di Sumba, jambu mete di Flores Timur dan kopi di Manggarai, Ngada dan Nagekeo adalah contoh pemanfaatan lahan kering yang diangkat Openg dalam tulisannya. Saya, dan tentu juga penulis Willem Openg, berharap agar pemerintah pro aktif dalam usaha pengolahan lahan kering dan agar masyarakat dibangungkan dari mimpi untuk mencari „emas“ di tanah rantau serta termotivasi untuk mengolah lahan-lahan tidur. Tulisan ini merupakan catatan sambung atas opini Willem Openg. Pada awal semester musim dingin lalu, pihak kampus tempat saya kuliah mengadakan kampanye „Fairtrade“ ...

Politik antara Caritas dan Cupiditas

Image
Politik antara Caritas dan Cupiditas Vianey Lein Alumni Philosophisch- theologische Hochschule SVD St. Augustin - Jerman Laura de Weck, penulis dan sutradara asal Swiss, dalam sebuah karyanya mengemas secara metaforis relasi (cinta) antara negara (yang diberinya label maskulin) dan rakyat (feminin). Dalam sebuah adegan dialog ia mencampuradukan ruang terbuka untuk umum dengan ruang intim, seperti kuota kaum perempuan dan gender didiskusikan dalam kamar tidur. Suatu ketika negara dan rakyat mesti menjalani terapi khusus untuk pasangan karena akurasi hubungan mereka terancam rusak oleh hilangnya rasa percaya satu sama lain (Laura de Weck: Politik und Liebe machen: 2016). Filsuf Hannah Arendt yang pernah menjalin relasi cinta dengan dosennya, Martin Heidegger, meyakini, bahwa „politik adalah kasih yang diwujud-nyatakan kepada dunia“. Nukilan singkat ini bagi kita mungkin lebih merupakan sebuah cita-cita atau idealisme bahkan terkesan paradoksal ketimbang sebagai konklus...

SURAT MINGGU PAGI

Image
SURAT MINGGU PAGI Julia, Pagi yang dingin masih melulur tubuh di atas pembaringan yang entah sudah berapa lama menatang malam-malamku dengan tumpukan mimpi. Engkau hadir dalam goresan, bagai mentari musing semi yang pecah di ubun-ubun kepala – gagap mengeja semesta hari baru. Kata-katamu mengurai jiwaku yang kusut mendengkur pada dinding malam berlalu, menggetarkan pilar-pilar batin yang kaku-gigil karena dingin meradang. Kubasuh wajahku di aliran kata-katamu yang menyegarkan ketika embun di kota ini masih membeku die kelopak musim. Dan dari atas pembaringan ini aku akhirnya lahirkan kata-kata – sesuatu yang tak biasa meski sepanjang malam aku berkali-kali disetubuhi malam genit hingga mengandung mimpi. Adalah sebuah kehormatan dalam hidup dan petualangan kata-kata, bahwa aku mendapatkan sahutan resonansi atas lirik jiwa yang kugetarkan pada abjad-abjad computer. Apa yang telah kugoreskan biasanya hanya mengambang dalam sunyi dan memaksaku untuk mencari dan temukan sendiri bal...

UNTUK JULIA

Image
Julia, Langit pagi hari ini terlihat cerah setelah beberapa hari ditudung mendung dan kabut dingin yang meradang sampai ke tulang-tulangku. Namun aku masih saja mendekam di balik selimut, sementara orang-orang pada bergegas ke tempat aktivitas mereka. Di balik selimut kumal aku menemukan, bahwa tidak ada yang berubah atau yang tampak baru dalam hidupku – Ya, seperti kata Pengkhotbah: tidak ada yang baru di bawah matahari. Semuanya adalah sia-sia. Ach, aku tak mau tinggal di dalam kesia-siaan, atau hidup untuk sebuah kesia-siaan, meskipun segala apa yang aku lakukan dan perjuangkan nanti berakhir pada titik kematian yang tak dirindu setiap insan manusia. Sebelum hari ini menjadi lampau dan cerah padam di batas senja, aku ingin memberi makna perubahan pada hidup yang puluhan tahun telah berlalu, memberi arti tentang kebaruan pada mimpi-mimpi yang keras menggumpalkan tanya misterius. Adagium latin yang kupelajari waktu SMA dulu seakan memberi interupsi padaku: „Tempora mutantu...

TETAPLAH MELANGKAH MAJU

TETAPLAH MELANGKAH MAJU Julia, Bahwa hidup merupakan deretan kemungkinan yang mesti disiasati, itu menuntut keterbukaan terhadap realitas peluang dan tantangan. Tangan yang lapang untuk siap merangkul keduanya dan bola mata yang memotret jauh-dekat pengalaman - entah itu di masa lampau, kekinian atau masa akanan - merupakan modal besar dalam mendesign hidup di atas sketsa keserbamungkinan. Ibarat merangkai puzzle, kita juga merangkai kepingan-kepingan kemungkinan di atas pijak-pijak hidup. Artinya, kita tak bisa lari menghindar dari apa yang disebut tantangan. Lari dari persoalan hidup bukanlah cara tepat untuk mengatasinya. Kita mesti selalu siap dan tegar melewati setiap aral dan rintangan. Ya, seperti puzzle, menghilangkan sekeping akan menjadikan suatu lukisan atau gambar tidak sempurna; dan semakin banyak kamu menghilangkan kepingan puzzle, lukisan yang kamu hasilkan juga akan jauh dari keindahan. „Orang juga tidak boleh pasif menghadang ketika menjumpai pegunungan“, be...