Posts

Showing posts from February, 2017

KEPADA GADIS SUNDA KELAPA

KEPADA GADIS SUNDA KELAPA Hari belum purna ketika kau sapa di antara wajah-wajah tak terbilang Entah kenapa, engkau seperti sosok yang menggentarkan serentak memikat Rupamu mengajakku menerka jiwa, meski kutahu itu kadang keliru. Ia mesti dialami, diselami. Tak cukup menduga-duga dalam ketidakpastian! Namamu baru saja kulafal di bibir ingatan yang terus bergetar, tapi sepertinya sudah lama kubaca di lorong-lorong kenangan yang menuju ke banyak alamat: aku sendiri tak tahu! Ingin selalu kupanggil namamu, aksara paling puitis, fonem paling merdu – rumah kenangan dan jantung puisi yang mengajarku bercinta dengan Sophia dan hanya melahirkan deretan tanya Tak peduli sudah berapa lama kita berjalan di lorong-lorong menuju ke banyak alamat, tak perlu menghitung sudah berapa kali kita menatap dalam semu Aku tak ingin menunggumu di senja yang lain, sebelum malam-malamku penuh cemburu yang kutumpahkan bersama ilusi-ilusi liar dan sunyi Bukankah hidup hanyalah deretan kemung...

Kemenangan BEREUN: antara Euforia dan Sinisme

Image
Kemenangan BEREUN: antara Euforia dan Sinisme Vian Lein Warga Desa Mokantarak - Flotim Media TV Jerman Tageschau.de dan siaran Radio ARD pada 15 Februari lalu merilis berita tentang Pilgub DKI Jakarta di bawah tajuk: Wählen in Jakarta: das Ende der Toleranz? (Pemilu di Jakarta: akhir sebuah toleransi?). Redaksi pertanyaan ‚harap-harap cemas‘ ini dilatarbelakangi oleh keyakinan publik internasional , bahwa Indonesia (hingga kini) adalah contoh islam toleran dan jakarta sebagai ibu kota negara menjadi sorotan utama. „Hingga kini Indonesia dianggap sebagai contoh islam yang toleran. Namun hujatan dan perlawanan terhadap Gubernur kristen di Jakarta menunjukkan tumbuh dan berkembangnya pengaruh kaum radikal. Pemilihan gubernur di ibu kota menjadi batu uji untuk toleransi“, demikian teras berita ( lead ) media Jerman. Di tengah perlawanan masif dari FPI dan kelompok-kelompok yang berjubah agama, keunggulan Ahok-Djarot dalam perhitungan suara putaran pertama bagi saya adalah sebu...

JANGAN GALAU KARENA MANTAN

JANGAN GALAU KARENA MANTAN Catatan hari Valentine untuk Republik "Malam ini aku harus menemuimu dan ingin berbicara dari hati ke hati“, tulis Heidegger dalam sebuah suratnya kepada Arendt. Relasi cinta antara Hannah Arendt dan Martin Heidegger boleh dibilang unik: kisah cinta Antara dosen dan murid. Pada musim gugur 1924 mahasiswi muda Hannah Arendt bersama teman-temannya berangkat ke Marburg untuk mendengarkan kuliah filsafat pada dosen muda Martin Heidegger. Pada masa itu ... Heidegger terkenal sebagai „pemberontak dan pembaharu“ dalam dunia filsafat. Bersama temannya Karl Jaspers, mereka ingin membaharui filsafat dan universitas-universitas mulai dari dasar. Dosen muda Heidegger jatuh cinta pada mahasiswa cantik dan intelegen Hannah Arendt. Hannah Arendt yang pada saat itu berusia 18 tahun pun terpikat pada pesona dosen muda yang terkenal itu. Keduanya memahami cinta mereka sebagai sebuah proyek filsafat eksistensi yang amat berharaga dan yang ingin mereka hidupi un...

KONSER DAN PANGGUNG POLITIK

KONSER DAN PANGGUNG POLITIK Vianey Lein Pada tanggal 4 Februari 2017 tim sukses dan pemenangan Paslon Basuki-Djarot dalam kontestasi Pilgub DKI menggelar konser „Gue 2“ yang dihadiri oleh artis dan musisi kenamaan seperti Slank dan Tompi. Sebagaimana yang dikabarkan, para artis dan musisi nasional itu hadir tanpa dibayar, bahkan banyak yang turut giat dalam usaha memenangkan Paslon nomor dua pada bursa Pilgub DKI. Lagu-lagu yang bertemakan demokrasi dan berisi seruan „pilih nomor dua“ masuk dalam dapur rekaman dan terus disebarluaskan. Aksi kreatif ini sudah tentu menuai beragam reaksi di media sosial, mulai dari acungan jempol, rasa haru, pernyataan dukungan untuk terus berkreasi hingga cibiran. Ini masih wajar; dan memang begitu dinamika hidup dalam jaringan sosial dengan dimensi sosiologis dan politisnya. Sejauh ini, perjumpaan antara dunia musik dan politik tidak sampai saling mencederai seperti persentuhan antara agama dan politik. Musik dan politik terkesan bisa membaw...

ENDORSEMENT POLITIK DAN SINYAL POLITIK IDENTITAS

ENDORSEMENT POLITIK DAN SINYAL POLITIK IDENTITAS Catatan Pinggir menjelang Pemilukada Flotim Vian Lein Warga Desa Mokantarak – Flotim Tinggal di Jerman Mencermati geopolitik Kabupaten Flores Timur akhir-akhir ini dalam kerangka Pemilukada, strategi penegasan identitas setiap calon turut bermain, entah secara laten di balik layar maupun blak-blakan di atas panggung Pemilukada. Elemen-elemen profil atau identas menjadi salah satu kekuatan untuk mendapat legitimasi pendukung. Cerita diri para kandidat dan eksplorasi identitas, baik oleh tim sukses maupun calon sendiri, pun mengusung tema ‚asal dan tanah kelahiran‘ atau ‚pemimpin muda‘ dengan dalih mewakili kelompok tertentu. Gerakan-gerakan tim sukses yang berbasis politik identitas itu muncul dalam cetusan-cetusan seperti: „Putra terbaik Adonara“, „saatnya Adonara memimpin“, „Solor akan membuktikan sejarah bupati pertama dua periode“, „pemimpin muda dengan jiwa muda“, „si calon adalah mantan guru dan birokrat“ dan lain-lai...

MENJADI GEREJA YANG MISKIN

GEREJA YANG ‚MISKIN‘ UNTUK KAUM MISKIN* Vian Lein Kurang lebih tiga tahun silam, tepatnya pada musim gugur 2013, gereja Jerman dan tentunya gereja sejagad mengalami guncangan oleh skandal finansial Uskup Keuskupan Limburg, Franz-Peter Tebartz-van Elst. Dilaporkan bahwa Sang Uskup menghabiskan dana kurang lebih 31 Juta Euro untuk renovasi rumah kediaman uskup di Keuskupan itu. Selama berminggu-minggu skandal mega proyek ini menjadi tajuk media-media di Jerman dan juga di negara-negara lainnya. Pemberitaan media secara gamblang – termasuk media-media katolik seperti „katholisch.de“ - dan suara tenor publik „mengharuskan“ mantan Profesor Teologi Pastoral dan Liturgi itu mengajukan pengunduran diri yang dikabulkan oleh Paus Fransiskus pada tanggal 26 Maret 2014. Pihak media pun mendapat kritik, bahwa pemberitaan-pemberitaan itu lebih merupakan kampanye dan provokasi atas kasus uskup Limburg dan bukan merupakan penyampaian informasi. Dalam dialognya dengan Paus Fransiskus, Uskup Teba...

OPINI DEBAT PASLON PILKADA

Image
DUET dalam DUEL* Catatan tentang Debat Paslon Pemilukada Vianey Lein Debat pasangan kandidat merupakan momen penting dalam suksesi politik, baik bagi masing-masing pasangan kandidat untuk pamer program dan serang lawan debat (sebagai salah satu strategi kampanye), maupun bagi publik pemilih dalam mengumpulkan data dan informasi-informasi penting untuk sebuah keputusan memilih, misalnya: sikap politik partai pengusung (koalisi) dan duet kandidat yang diusung serta visi-misi yang dirumuskan. Debat antar pasangan calon (Paslon) yang siap bertarung di Pemilukada bukan mustahil turut menentukan penilaian dan keputusan publik dalam memilih. Di hadapan publik, baik yang menyaksikan jalannya debat secara langsung di studio TV maupun yang mengikuti dari rumah lewat siaran live, para calon akan diajukan deretan pertanyaan oleh moderator dan lawan debat tentang visi-misi atau program. Momen debat lantas dilihat sebagi puncak kulminasi "perlawanan" antar paslon yang tampil ter...

OPINI PLURALITAS AGAMA

RAINBOW RELIGION atau RAMBO RELIGION* Tentang Pluralitas Agama di Indonesia Vianey Lein Keanekaragaman etnis, suku, budaya dan agama menjadikan bangsa kita Indonesia sebagai sebuah masyarakat „modern“ yang bercorak pluralistis. Di samping kebanggaan toleransi yang telah dibina di beberapa wilayah, mesti pula kita akui secara jujur, bahwa suatu hidup bersama di negara yang majemuk ini bukan tanpa konflik dengan berbagai macam akar persoalan. Konflik antaragama adalah persoalan yang hampir sering kita dengar akhir-akhir ini: larangan pembangunan rumah ibadat, pembatasan kebebasan merayakan ibadah tanpa alasan yang jelas, pengharaman penggunaan „atribut-atribut keagamaan“ disertai intimidasi mulai dari busana seperti topi Sinterklas hingga kemasan makanan. Pertanyaan krusial yang syah dan patut kita ajukan berhadapan dengan persoalan-persoalan yang ada adalah: apa peran agama dalam sebuah masyarakat yang berciri plural? Apakah (perbedaan) agama dan kaum beriman memberi kontribusi...