KEPADA GADIS SUNDA KELAPA
KEPADA GADIS SUNDA KELAPA Hari belum purna ketika kau sapa di antara wajah-wajah tak terbilang Entah kenapa, engkau seperti sosok yang menggentarkan serentak memikat Rupamu mengajakku menerka jiwa, meski kutahu itu kadang keliru. Ia mesti dialami, diselami. Tak cukup menduga-duga dalam ketidakpastian! Namamu baru saja kulafal di bibir ingatan yang terus bergetar, tapi sepertinya sudah lama kubaca di lorong-lorong kenangan yang menuju ke banyak alamat: aku sendiri tak tahu! Ingin selalu kupanggil namamu, aksara paling puitis, fonem paling merdu – rumah kenangan dan jantung puisi yang mengajarku bercinta dengan Sophia dan hanya melahirkan deretan tanya Tak peduli sudah berapa lama kita berjalan di lorong-lorong menuju ke banyak alamat, tak perlu menghitung sudah berapa kali kita menatap dalam semu Aku tak ingin menunggumu di senja yang lain, sebelum malam-malamku penuh cemburu yang kutumpahkan bersama ilusi-ilusi liar dan sunyi Bukankah hidup hanyalah deretan kemung...