Posts

Showing posts from December, 2009

MUTIARA YANG TERPENDAM

MUTIARA YANG TERPENDAM DI DASAR SAMUDERA SASTRA (Mengenang Chairil Anwar di Hari Kesusatraan Nasional) (Vianney Leyn) “Bukan karena perjuanganlah kita menjadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang-pejuang”. Nukilan singkat dari seorang penulis dan sastrawan, Goenawan Mohamad,ini menyiratkan hubungan yang wajar dan logis antara seni dan perjuangan. Kesenian yang dimaksudkan oleh Goenawan di sini adalah seni sastra, yang menurutnya merupakan suatu “revolusi”: secara langsung atau tak langusng ia memperjuangkan kembali untuk hati nurani yang pada suatu masa dikaburkan, atau belum ditemukan oleh sejarah (Goenawan Mohamad, Kesusastraan dan Kekuasaan, 1993). Sejarah telah mencatat bahwa dunia sastra melakonkan peran yang tidak kalah pentingnya dalam perjuangan merebut kemerdekaan sejak masa pergerakan nasional tahun 1920-an sebagai momentum awal dari semangat nasionalisme, yang oleh sejarahwan disebut sebagai “pembaptisan politik dari kelas bawah” yang dipel...

ECCE HOMO

Image
ECE HOMO: DUNIA KITA SEDANG TRSALIB* (Refleksi Prosesi Jumat Agung di Larantuka) (Vianney Leyn) Larantuka hingga saat ini masih memelihara sebuah ritus keagamaan yang begitu dikagumi dan dicintai (admiranda et Amanda) baik oleh anak-anak nagi (orang Larantuka) maupun yang bukan orang asli. Keberakarannya pada ritus ini sudah tertanam sejak kedatangan bangsa portugis pada tahun 1552 yang mengusung misi: Gold (mencari rempah), Gospel (menyebarkan agama), Glory (memperjuangkan “nama besar dalam hegemoni kekuasaan). Seiring waktu yang terus bergulir dan dalam pergulatan dengan aneka tantangan, prosesi akbar ini telah membentuk cita rasa iman (sensus fidelium) umat yang berakar kuat pada devosi kepada Bunda Maria. Umat Larantuka memberikan atensi yang luar biasa kepada devosi Bunda Maria dan ini sudah menjadi devosi populer. Devosi kepada Bunda Maria begitu melekat kuat dalam religiositas umat yang mengerucut pada prosesi akbar Jumat Agung, di mana umat bersama Bunda Maria, Mat...

NUBA NARA - LAMAHOLOT

NUBA NARA: SIMBOL WUJUD TERTINGGI DALAM KEPERCAYAAN ASLI MASYARAKAT LAMAHOLOT (Vianey Leyn) I. Pendahuluan Kekristenan yang berkembang di Flores sesungguhnya ditenun dari suatu proses sejarah yang panjang dalam bingkai waktu dan kompleksitas budaya umat atau masyarakat. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh para misionaris ketika mereka mulai menjejakkan kaki di setiap jengkal tanah misi. Ketika para misionaris mulai mengadakan kontak dengan penduduk asli, di sana bisa muncul perbenturan antara misi para misionaris untuk menyebarkan agama (gospel, di samping misi gold dan glory) dengan kubudayaan asli masyarakat seperti kepercayaan asli serta berbagai ritus yang dipraktikkan; tetapi juga ada pendamaian antara keduanya. Perjumpaan antara para misionaris dengan masyarakat asli membentuk suatu proses dialog antara agama (evangelisasi) dan budaya yang melahirkan berbagai kemungkinan: asimilasi, bila yang terjadi adalah saling mengambil yang terbaik; konfrontasi, yakni bila te...

PANGAN LOKAL

Image
KONSUMSI PANGAN LOKAL: MENGAPA RISIH? Vianney Leyn) Pada kesempaan liburan beberapa waktu lalu, saya bertamu ke rumah tetangga yang adalah juga keluarga saya. Pada saat makan siang kami dijamu dengan menu beras yang dicampur dengan jagung, sayur rumpu rampe, dan ikan kering bakar. Sambil menghidangkan semuanya itu, dengan malu tuan rumah menguc¬apkan kata-kata ini: “No, jangan marah, kita makan hanya ini saja. Nasi kita kuning sekali”, (maksudnya karena sudah tercampur dengan jagung). Pengalaman yang sama dengan ungkapan yang sama pula kembali dilontarkan ketika sya berrtamu dan makan di ruma keluarga yang lain. Ketika membaca beberapa berita dan opini tentang pangan lokal yang dilansir dalam beberapa koran lokal (Pos Kupang dan Flores Po)s maupun nasional (Kompas), saya teringat akan pengalaman kecil di atas. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kita merasa rendah diri atau malu bila mengkonsumsi pangan lokal seperti jagung, ubi kayu, jagung titi atau pangan ...

DIALOG JIWA

Image
DIALOG JIWA (Vianney Leyn) Ketika kubuka tirai jendela, kulihat sang mentari pagi membawa sosok seseorang yang tidak kukenal. Sosok itu lewat sebentar di lorong depan kamarku. Kuberanikan diri untuk menyapanya: Selamat pagi matahari Engkau menyinari hari Selamat pagi embun Engkau yang mencair di daun kemarau Selamat pagi… ……. Engkau yang membuka kelopak mataku Lalu kutitipkan sebait pesan baginya sebelum ia berlalu pergi. Sama sekali tidak terpikir olehku bahwa kami akhirnya hanyut dalam sebuah dialog yang panjang. (DIALOG JIWA 1) AKU : Katakan kepada setiap orang yang kamu jumpai hari ini, bahwa aku sedang mencari jantung hatiku. Aku merindukannya. Dan sebelum mentari menggelinding pergi pada lekak-lekuk langit kotaku, katakan sesuatu kepadaku tentang semuanya biar aku tidak hanya mendengar suaramu tapi juga menatap wajahmu sebelum tirai malam menudungnya dan kabut mengaburkannya. DIA : Aku hanya ingin katakan bahwa engkau adalah yang berharga bagiku. Aku...

KAUM MUDA

Image
KAUM MUDA DI TENGAH KEGELISAHAN BENCANA* (Vianney Leyn) Tentu masih terekam baik dalam ingatan kita peristiwa kosmik yang mengguncang Padang Pariaman, Sumetera Barat, 30 September 2009. Gempa yang berkekuatan 7,6 SR itu tidak hanya meruntuhkan gedung-gedung megah ataupun gubuk tempat tinggal masyarakat kecil tetapi juga merobohkan cita-cita dan masa depan para korban. Guncangan bumi sesaat itu menelan banyak korban. Skenario kehidupan yang telah dirancang oleh manusia akhirnya menjadi sebuah kisah dengan alur yang lain sama sekali, pada latar puing-puing duka reruntuhan. Kegembiraan dan tawa pun berubah menjadi kesedihan dan air mata; suka cita berubah menjadi duka cita ketika orang menyaksikan realitas kehancuran itu: bukan hanya tempat tinggal dan harta benda tetapi juga sanak keluarga dan sahabat kenalan yang hilang- terkubur dalam pejam abadi mereka. Cerita hidup seolah-olah diputuskan secara tiba-tiba tanpa meminta sebuah persetujuan atau kompromi ketika kafan kematian...