Posts

Showing posts from February, 2018

ABU

Image
ABU Di Rabu yang abu aku mengingat ibu Mencuci periuk dan piring pakai abu Dipungutnya dari tiga tungku di dapur bambu Aku pun tak akan malu Saat semua orang tahu Kalau ada abu di umurku Karena di abu ada tangan ibu Yang telah menjadi monumen di hatiku Membatu dalam batin hingga runtuh waktu Menimbun aku jadi abu Selamat membersih diri dengan abu!!! Gambar: Das Kirchenlexikon_NDR.de VL_Gereja Paroki St. Elisabeth Gera - Thüringen

CIUM AKU SEKALI LAGI

Image
CIUM AKU SEKALI LAGI Julia,  cium aku sekali lagi, seperti mentari yang melahirkan pagi karena nafasmu lebih nikmat dari coklat Merci Cium aku sekali lagi, seperti pertama kali Dengan lidah yang basah meneteskan madu murni Cium aku sekali lagi, dengan jantung paling api Melumat segala luka yang mati Cium aku sekali lagi, dengan peluk hati hati Merangkul wajah cemburu memburu benci Julia … Foto: Wikipedia Ciummu selalu kubawa hingga kini Kukunyah pada mulut puisi Cium aku sekali lagi Hingga mati VL_14. Februari 2018

SULIYONO DAN NAFSUNYA

Image
SULIYONO DAN NAFSUNYA Di Minggu yang kudus, Suliyono datang bagai kecanduan  Ke ruang paling intim rumah Lidwina, tetangganya Meneriakkan libido yang disuntikkan ke ubun-ubun Entah di mana dan sudah berapa lama Ia memelihara bidadari-bidadari di selangkangan  Yang katanya hanya bisa disetubuhi setelah tidur yang panjang Di atas ranjang langit ke tujuh Ketika nurani telah mati karena impotensi Dan hanya kelamin terorisme yang berereksi Dihunuskannya nafsu dari sangkar ideologi Merobek tenunan baju kasih, menebas tali tali toleransi Suliyono terkapar oleh ejakulasi dini Sebelum sempat menjumpai bidadari Akh….Suliyono Bagaimana mungkin kau bersetubuh dengan pedang Karena itu membikin kekasihmu tak pernah tenang Jangan biarkan jiwamu pergi sebelum mati Oleh candu bidadari yang tak punya hati Sarungkanlah pedangmu  Dan bukan nuranimu VL_13 Februari 2018 Foto: news.idntimes.com  

ZIARAH KE RUMAH PURBA

Image
ZIARAH KE RUMAH PURBA Untuk Sareng Orinbao Dengan perut yang masih lapar tentang masalalu Dengan kaki ingatan yang masih meraba mencari jalan pulang Dengan mata ingin yang telah kuberi jendela kata Aku melata di antara rumpun nama-nama suku Di atas jejak-jejak kumal kau wariskan dari kampung Nita Membatu di atas Cabo de Flores, menjelma dalam Nusa dan Nipa Di sana kau kubur segala yang sudah-sudah Bersama manik-manik yang luruh dari tubuh bersisik Dan sarung adat yang membalut anggun Ine Pare – Tonu Wujo  Di sana aku tiba juga: koten rae lera matan, ikung lau lera helut loen(g) reta lero leman(g), iür le lero meseng ulu gheta ledja gedju, eko ghale ledja mele ulun awo par, ikon sale kolep kupetik kembang yang kau tanam  dan kupeluk menjadi diriku jadi cerita untuk yang datang nanti di Nusa Nipa – Nusa Bunga VL_12.02.2018 *Nita: salah satu kampung di Kabupaten Sikka, Maumere Flores, tempat lahir P. Sareng Orinbao, SVD a lias P. Pi...

SEPASANG TUBUH YANG SAKIT

SEPASANG TUBUH YANG SAKIT Kepada Christian dan Jutta Sejak istrinya lumpuh di kursi roda, ia memilih pensiun dini Membukakan pintu-pintu rumah , menyeberangkannya dari kamar ke kamar Sejak sembuh tak tumbuh-tumbuh di halaman tubuh istrinya Ia memilih menanam sabar di petak-petak tubuhnya sendiri Meski ginjalnya tinggal satu untuk meng-air-i seluruh Sudah bertahun-tahun mereka di rumah sendiri Tanpa menghitung jumlah hari, bulan maupun tahun Karena bagi mereka hidup adalah detik yang berdua Didetakkan pada tubuh yang luka Entah perih atau gatal:bersama untuk ada VL_Sontag, 11 Februari 2018

THESIS: KULTUR UND SPRACHERWERB DURCH AU-PAIR-EINSATZ VON INDONESIERINNEN IN DEUTSCHLAND UND IHRE IMPLIKATIONEN FÜR DEN DAF-UNTERRICHT IN INDONESIEN

Friedrich-Schiller-Universität Jena Philosophische Fakultät Institut für Deutsch als Fremd- und Zweitsprache und interkulturelle Studien KULTUR UND SPRACHERWERB DURCH AU-PAIR-EINSATZ VON INDONESIERINNEN IN DEUTSCHLAND UND IHRE IMPLIKATIONEN FÜR DEN DAF-UNTERRICHT IN INDONESIEN Masterarbeit zur Erlangung des akademischen Grades Master of Arts (M.A.) vorgelegt von Elvin Septiani Sagala Matrikelnummer: 148434 geboren am 22. September 1987 in Medan Erstgutachterin: Dr. phil. Ruth Eßer Zweitgutachterin: Dr. phil. Eva Chen Jena, 14. September 2016 ***** EINLEITUNG Das Erlernen einer fremden Sprache geschieht immer kontextgebunden. Das bedeutet, dass dieses Erlernen stets in einem engen Zusammenhang mit der kulturellen und gesellschaftlichen Umgebung des Erlernenden steht. Menschen kommen dabei mit einer neuen Sprache und neuen Kultur in Berührung. Auch die Begegnung mit dem Fremden und die Auseinandersetzung mit Eigenem spielt darin eine wichtige Rolle. Die...

DINGIN

Image
DINGIN Malam tadi salju salju memanjat dinding kamar menyeberang ke ranjang dan menarik lengan-lengan mimpi diselipkannya dingin pada kantong kepala  Sebelum aku mengisinya dengan bulir bulir doa yang gigil Betapa hatiku beku  Menakar derajat-derajat musim kian meninggi Menutup jendela dan pintu  Juga di jalan yang belum subuh Sementara bulan yang kau tanam di lereng mata  tak tumbuh-tumbuh, lama sudah *** VL_04. Februari 2018

DJOU DAN OLE-OLE DARI ROMA

Image
DJOU DAN OLE-OLE DARI ROMA Kepada Almharum Rm. Yohanes Djou Niron, Pr Saat kembali studi dari kota tua Roma Djou tak hanya memikul Logos dalam kantong punggungnya Tapi juga Salib yang ia tancap di rongga dada Menikam bukit jantung misionernya Bersama itu dikemasnya Camera Digital   ukuran sedang dan   DVD-Player Sering dipinjamkannya Camera itu kepada kami Memotret panorama kebun kopi  Yang harum bunganya menembus pendopo patres   Hingga kamar belakang dan bilik-bilik seminaris Bau pengap bercampur asap rokok dan ketenggi Juga lahar dan asap belerang dari bara asmara  Gunung Lewo Tobi laki-kali dan perempuan yang hampir setiap  malam bercinta dalam gelap-gelap memberi subur pada rahim Lembah Hokeng , buah pada semai San Dominggo Membidik dengan Camera pada rimbun sawo coklat-hijau, mangga, rambutan, salak, jambu, alpukat yang selalu menggoda mata  Tak lupa kami memotret wajah Djou yang teduh, sambil kami menyus...

Kepada Bulan

Image
Kepada Bulan Baru saja kita berjumpa di halaman buku harian Kemarin tanpa pamit engkau pergi Karena aku masih bersetebuh dengan sisa angka di kamar waktu Dan hari ini engkau mengirimkan aku undangan pernikahan  Entah yang ke berapa, waktuku tak mencatat pasti Di Timur anak-anak bumi telah menanti Melihat pernikahanmu dengan matahari Tak ada dari mereka yang mempersoalkan apa agamamu,  dari mana asal-usulmu dan apa kelaminmu (?) Dan mereka terkagum-kagum  Melihatmu bersetubuh dengan dewa atau dewi matahari itu Di atas ranjang kabut beludru Di balik selimut malam menudung restu Dengan cinta yang berdarah-darah Menetes jatuh ke kubah Mesjid yang patah sabitnya Ke atap menara Gereja yang terbakar lengan salibnya Ke pucuk-pucuk Pura yang gugur candinya Ke Vihara dengan patung-patung Budha yang terpenggal Ke tiang-tiang gapura Litang tercoreng „Baal“ Ternyata cinta itu lebih indah, ketika ia dinikmati dalam gelap  saat mata han...