Posts

Showing posts with the label OPINI

DARI ANATOMI TUBUH KE ANATOMI JIWA - MEMBEDAH LUKA GEREJA

Image
DARI ANATOMI TUBUH KE ANATOMI JIWA - MEMBEDAH LUKA GEREJA Refleksi tentang Panggilan Romanus Tubo Ola, Calon Imam Keuskupan Larantuka Terkadang sebuah „obrolan“ filsafat atau teologis tidak lahir dan terjadi di ruang perpustakaan, di auditorium megah ataupun di gereja. Percakapan-percakapan yang bernas justru kadang muncul di tempat-tempat sederhana seperti warung kopi, di tepi pantai,   ketika lagi jalan santai, atau di rumah makan yang hampir tutup jam bukanya. Seusai perayaan vesper agung jelang perayaan tahbisan episkopal Mgr, Hans Monteiro, Uskup Larantuka, pada 10 Februar 2026 lalu di Weri, saya dan salah seorang teman mencari rumah makan di seputaran kota Larantuka. Kami tidak termasuk dalam daftar tamu jamuan malam resmi. Maka seperti banyak umat lainnya, kami harus mencari keselamatan sendiri; setidaknya keselamatan untuk perut yang lapar 😉. Sambil menunggu pesanan, perhatian saya tertuju pada seorang pria di sudut ruangan. Wajahnya terasa akrab. Beberapa kali kami ...

MEDUSA DAN MATA DEMOKRASI

Image
MEDUSA DAN MATA DEMOKRASI Vian Soda Lein – Warga Indonesia, berdomisili di Jerman. Alumnus Koelner Hochschule fuer katholische Theologie, Jerman Dalam mitologi Yunani, Medusa bukan sekadar salah satu gorgon yang mengerikan, melainkan figur paradoksal yang memadukan pesona lahiria dan kutukan eksistensial. Dengan rambut ularnya dan tatapan yang tajam sekaligus memikat, ia dapat mengubah segala yang bergerak menjadi batu, yang hidup menjadi diam atau mati. Juga dalam adaptasi perfilman modern seperti Clash of the Titan atau P ercy Jackso & the Olympians: The Lightning Thief , karakter Medusa tetap dipertahankan sebagai kekuatan dan kuasa yang begitu memikat sekaligus mematikan tanpa kompromi atau dialog. Romano Guardini (1885–1968), seorang teolog sekaligus filsuf aber ke-20, dalam analisis fenomenologisnya tentang kekuasan, memandang kekuasan pertama-tama bukan sebagai konstruksi politik, melainkan sebagai realitas   antropologis, bahwa kekuasaan adalah salah satu cara ...

EUFORIA KELULUSAN ATAU LITURGI SEBUAH KEGAGALAN?

Image
EUFORIA KELULUSAN ATAU LITURGI SEBUAH KEGAGALAN? Manusia adalah makluk liturgis (homo liturgicus). Ia tak hanya hidup, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menafsir dunia dan dirinya melalui ritus-ritus simbolik. Sejak awal, manusia purba telah menghadirkan ritus untuk memahami realitas. Jauh sebelum adanya sekolah-sekolah dan sistem pendidikan modern, ia berdiri pada dinding-dinding yang asing, lalu memulai untuk melukis. Liang-liang gua dan ceruk batu menjadi halaman pertama diary kehidup an; dinding-dindingnya merupakan altar perdana perayaan eksistensi; dan warna yang menunggal menjadi madah pagi dari untaian doa tanpa nama. Manusia purba homo sapiens tak meninggalkan buku-buku pelajaran, sertifikat maupun ijazah. Mereka meninggalkan jejak-jejak kehidupan yang adalah bukan sekadar dekorasi dinding atau reprensatis visual. Jejak-jejak itu mewartakan makna sederhana namun dalam: „Kami pernah ada di tempat ini. Kami belum mengerti banyak hal, tetapi kami mencari dan terus mencari“. Wa...

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

Image
KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“ Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan Mgr. Hans Monteiro Sebagai pemimpin baru agenda pertama seorang selalu berada dalam sorotan publik. Rasa ingin tahu mengemuka: langkah awal apa yang hendak diambil oleh sang pemimpin: duduk tenang di ruang bera-AC menanti ucapan selamat, atau kesiapan melangkah ke sudut paling terpencil sebuah wilayah yang dipercayakan kepadanya. Langkah pertama seorang pemimpin dapat mendefinisikan ulang seluruh makna tugas tanggung jawab dan tugas pelayanannya. Saya bersyukur bisa menghadiri rangkaian acara tahbisan episkopal Mgr. Hans Menteiro, Uskup terpilih Keuskupan Larantuka, yang dahulu adalah guru saya sewaktu masih di bangku sekolah SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Tulisan ini bukanlah  sebuah catatan nostalgia personal atau sebuah jurnal wisata spiritual pada liburan kemarin di kampung dan di kota Reinha Larantuka, melainkan refleksi atas gestur pastoral - yang menurut saya – sarat makna teologis. Mengawali ...

DEMOKRASI POST-TRUTH Tentang Hoax dalam Demokrasi

DEMOKRASI POST-TRUTH Tentang Hoax dalam Demokrasi Vianey Lein Alumni Philosphisch- Theologische Hochschule SVD St. Augustin Tinggal di Jerman Pada November 2016 silam seri kamus Inggris Oxford dictionaries dari Universitas Oxford   membaptis „post-truth“ (post-faktisch) sebagai „World of the Year“. Kata „post-truth“ merujuk pada fenomena politik internasional (luar negeri) sepanjang tahun 2016 seperti Brexit (keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa) dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat yang dinilai penuh manipulasi. Penetapan „post-truth“ sebagai istilah penting dalam tahun 2016 juga mengacu pada modus konsumsi media online masyarakat yang cenderung menjadikan media sosial sebagai sumber tunggal kebenaran sebuah informasi atau berita. Istilah „post-truth“ digunakan untuk menggambarkan situasi atau keadaan di mana fakta-fakta tidak menjadi relevan dalam politik dan pembentukan opini publik. Dalam setiap ruang politik dan diskusi publik data-da...

FLORES DAN KASIH YANG MENDESAK: Oleh Elvin Sagala

Image
FLORES DAN KASIH YANG MENDESAK Elvin Sagala Saya adalah seorang wanita kelahiran Medan – Sumatera Utara; dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya batak. Orang tua saya berasal dari Samosir. Saya merupakan anak sulung dari 4 bersaudara (3 adik wanita). Sejak saya berusia 9 tahun kedua orang tua memilih bercerai. Tentu masa-masa itu merupakan masa sulit   buat kami semua – tidak hanya untuk kedua orang tua tetapi juga kami anak-anak, terlebih adik bungsu yang masih berumur 3 tahun. Berkat keluarga besar di Medan kami semua dapat melewati masa-masa sulit itu. Mimpi Untuk Kuliah Jerman Setelah menamatkan Strata 1 Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Negeri Mendan, saya memutuskan untuk „berhijrah“ ke Jerman sebagai Au-Pair Mädchen. Pendidikan bahasa Jerman selama di Universitas merupakan modal dan motivasi yang mendorong saya untuk datang ke Jerman dengan harapan agar kemudian dapat melanjutkan kuliah di Jerman. Kesulitan finansial merupakan tantangan terbesar dalam...