KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“
Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan
Mgr. Hans Monteiro
Sebagai pemimpin baru agenda pertama seorang selalu
berada dalam sorotan publik. Rasa ingin tahu mengemuka: langkah awal apa yang
hendak diambil oleh sang pemimpin: duduk tenang di ruang bera-AC menanti ucapan
selamat, atau kesiapan melangkah ke sudut paling terpencil sebuah wilayah yang
dipercayakan kepadanya. Langkah pertama seorang pemimpin dapat mendefinisikan
ulang seluruh makna tugas tanggung jawab dan tugas pelayanannya. Saya bersyukur
bisa menghadiri rangkaian acara tahbisan episkopal Mgr. Hans Menteiro, Uskup
terpilih Keuskupan Larantuka, yang dahulu adalah guru saya sewaktu masih di
bangku sekolah SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Tulisan ini bukanlah sebuah catatan nostalgia personal atau sebuah
jurnal wisata spiritual pada liburan kemarin di kampung dan di kota Reinha
Larantuka, melainkan refleksi atas gestur pastoral - yang menurut saya – sarat makna
teologis.
Mengawali masa pontifikatnya di Keuskupan
Larantuka, Mgr. Hans Monteiro mengunjungi Desa Konga, sebuah wilayah sunyi di
Kabupaten Flores Timur yang termasuk dalam teritori tepi pastoral Keuskupan
Larantuka. Konga bukanlah sebuah metropolitan geografis maupun religius. Pilihan
ini tidak lahir dari romantisme sejarah misi atau napak tilas misi kekatolikan
di keuskupan, sekalipun kawasan tersebut pernah dikenang sebagai “kampung
Kristen tua di pantai tenggara,” yang dalam catatan sejarah tidak selalu
menjadi pusat intensitas karya para misionaris (bdk. Karel Steenbrink, 2006:
146ff). Keputusan itu pun bukan karena daya pikat investasi ekonomis kemilau
mutiara dari pulau Konga yang tersembunyi dari hiruk-pikuk narasi besar
pembangunan dan asing untuk penduduk lokal. Keputusan Mgr. Hans lahir dari
sebuah kemendesakan kemanusiaan, bahwa di tempat itu, di Konga, tinggal para
penyintas letusan gunung Lewotobi yang beruntun. Para korban itu datang dari
wilayah pinggiran Kabupaten Flores Timur yang sebelumnya bermukim secara normal
di sekitar kaki gunung berapi Lewotobi.: punya rumah, punya lahan, punya mata pencaharian.
Namun tiba-tiba rentetan letusan gunung Lewotobi menyabu habis semuanya. Mereka
kehilangan tempat berteduh dan harus dievakuasi di Konga, memulai hidup dari
nol besar. Mereka tinggal dalam kemah-kemah sempit dengan ruang gerak yang
terbatas dan kehilangan privasi.
Tanpa bermaksud memaksakan paralel historis,
langkah ini mengingatkan pada gestur awal Paus Fransiskus. Pada awal
pontifikatnya, Paus Franziskus tidak memilih metropolitan dunia barat, meskipun
ia memiliki akses ke banyak ibu kota megah di Eropa. Beliau bisa saja memulai tour
kepemimpinannya ke pusat-busat peradaban barat yang gemerlap. Beliua justur
memilih terbang ke Lampedusa, - pulau kecil yang menjadi tempat pendaratan para
pengungsi, pulau di ujung selatan Italia, titik pendaratan ribuan pengungsi
yang lari dari perang dan kelaparan. Banyak yang tenggelam sebelum menyentuh
daratan. Di sepanjang pantai Lampedusa gelombang pengungsi mencari harap dan
hidup yang layak. Esensinya serupa yang terjadi di Konga. Juga di Konga tinggal
para penyintas dalam kemah-kemah sempit tanpa kepastian hidup: sampai kapan
mereka berjuang di tempat ini, meradang kecemasan letusan susulan yang tak
sulit ditebak dan tak dapat diajak kompromi.
Kepemimpinan dengan spirit melayani dimulai
dari titik nol penderitaan manusia, memilih untuk hadir di pusat luka umat dan
masyarakatnya. Dalam terang moto kegembalaan: „Satu Tubuh, Satu Roh, Satu
Pengharapan“ rantai persatuan itu diuji dan diwujudkan. Di sini kehadiran sang
Gembala bukanlah sekadar inspeksi atas batas-batas teritorial Gereja lalu
berhenti pada afirmasi administratif atas wilayah pastoral, melainkan sebuah
ziarah menuju „heterotopos“ di padang luas kegembalaan (Michel Foucault:
„Andere Räume“: Ruang-ruang Lain: 1967).
Konga menjadi heterotopia pastoral: ruang di
mana waktu seolah berhenti dan masa depan penghuni lenyap. Konga menjadi ruang
ketidakpastian absolut: mereka waspada akan letusan susulan setiap saat. Di
sana, di kemah-kemah sempit, Gereja ditantang untuk tinggal dan berkarya di
antara ketidakpastian, bukan sekadar singgah. Sebagai „ruang (yang) lain“ dalam
reksa pastoral, Konga tidak hanya merupakan konfigurasi spasial melainkan juga
interupsi temporal (eschatologi): hidup dalam solidaritas kebersamaan sebagai
satu tubuh, dibakar dalam api roh keberanian , dan menapaki setiap ambang
kemungkinan perubahan dengan harapan yang selalu waspada di tengah rapuhnya
kehidupan umat. Visitasi perdana ini hendak mengafirmasi, bahwa „locus
theologicus“ – kebenaran dan refleksi iman - tidak lahir dari pusat yang aman,
melainkan dari “horizon ancaman”, di mana Gereja dan umatnya menyadari rapuhnya
eksistensi mereka.
Langkah awal Uskup Hans tidak bergerak menuju
pusat, melainkan menuju tepian; bukan ke ruang yang telah mapan dalam peta
devosi, melainkan ke horizon yang ditandai ketidakpastian alam. Di sana, di
bawah bayang-bayang gunung berapi Lewotobi, pastoralitas menemukan topografinya
yang konkret—sebuah ruang di mana iman tidak berdiri di atas kepastian sejarah
dan menara gading kesalehan, melainkan berhadapan dengan rapuhnya kehidupan. Langkah
awal sang gembala bukanlah sebuah perjumpaan di kapela dan gereja megah sarat
simbol kekudusan dan memori misi, melaikan perjumpaan dengan bulir abu vulkanik
dan bongkahan kegelisan umat akan hidup mereka. Di bawah tudurng erupsi, visi
dan misi kesatuan umat juga sungguh diuji. Kata pengharapan berubah dari antifon
mimbar dan altar menjadi kebutuhan primer untuk bertahan hidup.
Dalam arti ini, Konga menyingkapkan dirinya
sebagai locus theologicus: tempat di mana pengalaman manusiawi, alam, dan
kecemasan kolektif menjadi medan pewahyuan dan refleksi iman. Konga adalah
tentang Gereja yang berdiri di bawah tudung kabut dan ruang awal kepulan
erupsi, bukan di atas singgasana stabilitas; sebuah deklarasi diam, bahwa
teologi tidak lahir pertama-tama di pusat kekuasaan religius, melainkan di
tepian—di tempat di mana para penyintas menatap gunung yang dapat sewaktu-waktu
meletus kembali.
Konga dan pulau budidaya mutiaranya menjadi
simbol tajam dari kehidupan umat yang terpinggirkan. Di sana mutiara berkilau
di dasar laut, tetapi tangan-tangan penduduk lokal tak kuasa menyentuhnya.
Mereka seperti kerang di dasar laut. Mutiara terbentuk dari penderitaan. Seekor
kerang pada awalnya hidup tenang. Lalu, tiba-tiba ada benda asing yang masuk
dan melukai tubuh yang lunaknya. Benda asing itu menyakiti kerangnya; maka
untuk bertahan hidup, kerang itu melindungi dirinya dengan mengeluarkan cairan –
lapisan demi lapisan untuk membungkus iritan luka agar tidak merobek organ
dalam. Proses ini terjadi bertahun-tahun dalam kesunyian yang gelap. Hasilnya:
mutiara yang berkilau.
Ya, para penyintas dan mungkin juga masyarakat
Konga hanya mengeram luka di tenda darurat dan ketabahan mereka itulah
mutiaranya. Namun ada ironi tragis dari proses bilogis: mutiriara itu tidak
bisa disentuh, apalagi dimiliki oleh kerang yang melahirkannya. Setelah
mutiaranya dipanen olah orang lain, kerang yang telah kosong dan kelelahan itu
ditinggal begitu saja. Ini seperti eksploitasi dan solidaritas yang hanya dibatasi
oleh selaput luka di tubuh kerang: di hadapan realitas keterpurukan, apakah
kita datang untuk menyembuhkan luka atau hanya untuk memanen, mengambil cerita
ketabahan dan penderitaaan untuk kepentingan lain.
Sebagaimana pernah ditegaskan Paus Fransiskus
ketika masih menjabat sebagai kardinal Jorge Mario Bergoglio:
„Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya
sendiri dan bergerak ke pinggiran; bukan sekadar ke pinggiran geografis, tetapi
juga ke batas-batas eksistensi manusia: batas misteri dosa, penderitaan,
ketidakadilan, masa-bodoh , batas minimnya praktik keagamaan, batas pemikiran
dan batas kemiskinan. Jika Gereja tidak keluar dari dirinya sendiri untuk
mewartakan Injil, ia akan hanya berkutat pada dirinya sendiri. Pada saat itu,
ia menjadi sakit. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam institusi Gereja
dalam ziarah waktu berakar pada sifat mementingkan diri sendiri. Dan ini adalah
manifestasi dari roh narsisme teologis“ (Bergoglio: Die Kirche, die sich um
sich selber dreht: 2013).
Fransiskus menegaskan, bahwa institusi Gereja
memiliki panggilan absolut untuk keluar menuju pinggiran dan bukan menjadi narsistis,
yang sibuk memoles citra dan urusan internal, mulai dari marmer gedung hingga „nama
baik“ Gereja. Narsisme teologis itu tercipta ketia Gereja kehilangan pijakan
realitasnya dan lupa akan panggilan pelayanan bagi yang terluka. Gereja yang
berorientasi pada perjumpaan dengan „kaum pinggiran“ harus juga berani
meredakan bara ketegangan, membuka ruang dialog dan hadir di tengah situasi
"keterlukaan" umat. Kepemimpinan dengan spirit melayani adalah
tentang menciptakan ruang baru, tempat harapan bisa dirakit kembali darin o,
juga di atas luka kehancuran.
Akankah kelompok penyintas segera tiba di
sebuah lahan subur sebagai akhir dari exodus panjang mereka? Akankah luka-luka
mereka yang terendap di abu vulkan dan pasir belerang kelak juga menjadi
mutiara indah milik sendiri?
Semoga empati kita pada korban murni
solidaritas, bukan wajah lain eksploitasi di tepian pulau Konga!
Vian Lein
WNI (Warga Negara Indonesia, Mokantarak,
Larantuka
), tenaga pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman.