Posts

MEDUSA DAN MATA DEMOKRASI

Image
MEDUSA DAN MATA DEMOKRASI Vian Soda Lein – Warga Indonesia, berdomisili di Jerman. Alumnus Koelner Hochschule fuer katholische Theologie, Jerman Dalam mitologi Yunani, Medusa bukan sekadar salah satu gorgon yang mengerikan, melainkan figur paradoksal yang memadukan pesona lahiria dan kutukan eksistensial. Dengan rambut ularnya dan tatapan yang tajam sekaligus memikat, ia dapat mengubah segala yang bergerak menjadi batu, yang hidup menjadi diam atau mati. Juga dalam adaptasi perfilman modern seperti Clash of the Titan atau P ercy Jackso & the Olympians: The Lightning Thief , karakter Medusa tetap dipertahankan sebagai kekuatan dan kuasa yang begitu memikat sekaligus mematikan tanpa kompromi atau dialog. Romano Guardini (1885–1968), seorang teolog sekaligus filsuf aber ke-20, dalam analisis fenomenologisnya tentang kekuasan, memandang kekuasan pertama-tama bukan sebagai konstruksi politik, melainkan sebagai realitas   antropologis, bahwa kekuasaan adalah salah satu cara ...

Kirche „nebenan“

Image
Kirche „nebenan“ Im Kirchenpavillon der Landesgartenschau in Leinfelde steht ein schlichtes Holzkreuz, zusammengesetzt aus sieben Bausteinen – gestaltet von sieben Kirchorten unserer Pfarrei, jeder mit eigenen Bildern, Erinnerungen, Geschichten und Gesichtern: Spuren von Vergangenheit, Zeichen gelebter Gegenwart, Hinweise auf das Heute, auf Gruppen, Begegnungen und all das, was Kirche vor Ort trägt und lebendig hält. Ein Kreuz aus vielen Teilen – fast ein Bild des corpus permixtum , des „gemischten Leibes“ unseres Herrn Jesus Christis, der Haupt der Kirche. Im kirchlichen Denken geraten wir dennoch schnell in vertraute Kategorien: Zentrum und Rand, wichtig und weniger wichtig, sichtbar und unscheinbar. Dieses Kreuz widerspricht dieser Ordnung. Jeder Baustein ist anders und steht „nebenan“ am Kreuzrahmen – nah genug, um dazuzugehören, ohne gleich im Zentrum zu sein. Jesus selbst hat auffällig selten das Zentrum gesucht. In gewisser Weise war auch er: nebenan. Kirche muss nicht im ...

SEHNSUCHT NACH DEM UNBEKANNTEN?

Image
SEHNSUCHT NACH DEM UNBEKANNTEN?   Als ich im Dezember von Deutschland auf meine Heimatinsel Flores ankam, traf ich auf eine Welt ohne Schnee, ohne Winter. Mein vierjähriger Neffe beobachtete mich beim Auspacken des Koffers mit großen Augen und fragte: „Onkel, warum hast du keinen Schnee mitgebracht?“ „Ich habe es versucht“, sagte ich lachend, „aber Indonesien ist viel zu warm. Der Schnee wäre längst geschmolzen.“ Um ihn nicht zu enttäuschen, holte ich zerstoßenes Eis aus dem Kühlschrank und legte es vorsichtig in seine kleine Hand. „Schau, das ist wie Schnee, nur dass er nicht bleibt.“ Er erschrak, ließ es fallen, lief davon und rief laut: „Es ist heiß!“ Wir alle mussten lachen. Er hatte kein Wort für das, was er da gerade spürte. Sein Staunen war wie ein feiner Riss in seiner vertrauten Welt; seine Neugier auf das, was größer ist als seine eigene Erfahrung. Ja, eine Sehnsucht nach dem Unbekannten und zugleich die Grenze seiner Sprache.   „Alles beginnt mit der Sehnsuc...

In der Heimat – doch nicht zu Hause?!

Image
In der Heimat – doch nicht zu Hause?!   In diesem Sommer war ich in meiner Heimat. Doch die Reise verlief anders als geplant: Wegen eines Vulkanausbruchs konnte ich nicht nach Flores weiterfliegen. Plötzlich war ich „gestrandet“ – weder wirklich zu Hause, noch richtig unterwegs. Drei Wochen verbrachte ich in der Hauptstadt, lernte neue Menschen kennen, erlebte überraschende Begegnungen. Auch dort, mitten auf dem Weg spürte ich: Hier bin ich gehalten, hier darf ich sein. „Heimat“ und „Zuhause“ – zwei Worte, die ähnlich klingen und doch nicht dasselbe meinen. Indonesien ist meine Heimat: der Ort meiner Herkunft, die Landschaft meiner Erinnerungen und der Klang vertrauter Stimmen. Zuhause hingegen ist kein fester Ort. Zuhause entsteht immer wieder neu, manchmal ganz unerwartet, mitten auf dem Weg. Heimat ist mehr als ein Ort auf der Landkarte. Sie wächst da, wo wir uns öffnen, wo wir teilen, wo Vertrauen entsteht. Zuhause ist dort, wo wir füreinander da sind. Ich wünsche uns all...

Advent braucht (k)eine Stille

Image
Advent braucht (k)eine Stille   In Deutschland verbinde ich Advent oft zuerst mit Kälte und Schnee, Stille und Kerzenlicht. In meiner Heimat auf der Insel Flores dagegen ist Advent warm, manchmal regnerisch; und erfüllt von einer lebendigen, frühen Freude. Die Menschen warten nicht im Schweigen; sie warten singend und tanzend. Nicht, weil ihr Alltag leichter wäre, sondern weil sie wissen: Gott kommt nicht erst, wenn alles geordnet ist. Gott ist unterwegs mitten im Leben.   Ja, Advent ist kein Zustand, den wir herstellen. Advent ist die Bewegung Gottes auf uns zu. Er kommt in das, was wir gerade leben: in das Unfertige, in das Müde, in den vollen Terminkalender, in Veränderung in unserer Pfarrei und im lebendigen Miteinander, das manchmal mehr Regen als Sonnenschein kennt. Advent geschieht, wenn wir spüren, dass Gott seinen Weg zu uns findet – selbst dort, wo wir keinen vorbereiteten Weg sehen. Vielleicht ist das genau der Raum, den wir in diesem Jahr öffnen können: Nicht ...

EUFORIA KELULUSAN ATAU LITURGI SEBUAH KEGAGALAN?

Image
EUFORIA KELULUSAN ATAU LITURGI SEBUAH KEGAGALAN? Manusia adalah makluk liturgis (homo liturgicus). Ia tak hanya hidup, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menafsir dunia dan dirinya melalui ritus-ritus simbolik. Sejak awal, manusia purba telah menghadirkan ritus untuk memahami realitas. Jauh sebelum adanya sekolah-sekolah dan sistem pendidikan modern, ia berdiri pada dinding-dinding yang asing, lalu memulai untuk melukis. Liang-liang gua dan ceruk batu menjadi halaman pertama diary kehidup an; dinding-dindingnya merupakan altar perdana perayaan eksistensi; dan warna yang menunggal menjadi madah pagi dari untaian doa tanpa nama. Manusia purba homo sapiens tak meninggalkan buku-buku pelajaran, sertifikat maupun ijazah. Mereka meninggalkan jejak-jejak kehidupan yang adalah bukan sekadar dekorasi dinding atau reprensatis visual. Jejak-jejak itu mewartakan makna sederhana namun dalam: „Kami pernah ada di tempat ini. Kami belum mengerti banyak hal, tetapi kami mencari dan terus mencari“. Wa...

NTT: NEGERI TERDAMPAR TANPA-TUJUAN?

Image
  NTT: NEGERI TERDAMPAR TANPA-TUJUAN? Odysseus, raja Ithaka, adalah salah satu saksi kehancuran kota Troya. Ketika armada perang Yunani berlayar pulang setelah perang usai, Odysseus bersama sebagian besar prajurit Yunani terjebak malapetaka: mereka terlempar dalam pengembaraan yang panjang dan tak menentu. Berpuluh tahun lamanya ia berkelana mengarungi samudera yang sering tak bersahabat; arus pelayarannya dibungkam badai, rute yang tertunda, bahkan tersesat oleh kekuatan-kekuatan yang melampaui dirinya. Kapal pelayarannya bukanlah sekadar alat transportasi, tapi tubuh yang menatang rindu, identitas, juga harapan untuk kembali pulang. Petualangan Odysseus bukanlah gerak koordinat lurus. Ia terhenti, tertunda, terpenggal dalam ketidapastian waktu. (Edith Hamilton, Mitologi Yunani, 1942: 189-208).   „NTT Sejahterah“ Foto ini diambil pada liburan tahun kemarin di pantai depan Hotel Sotis, Kupang, NTT. Perahu motor yang bisu mesinnya dan kemudi yang digerogoti garam dan waktu terd...

KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

Image
 KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI Sebuah Catatan Kaki Sambutan Uskup Emeritus Mgr. Frans Kopong Kung pada Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro Uskup Emeritus Frans Kopong Kung pada perayaan tahbisan episkopal Mgr. Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka, sejenak memecah alur perayaan liturgis dan menghadirkan jedah reflektif: "KWI harus menjadi kompas moral. Tetaplah menjadi sauh yang menyentuh dasar laut. Kalau kapal KWI mengalami guncangan, jangan sampai tenggelam." Sambutan Uskup Frans tidak hanya berhenti sebagai peristiwa sesaat dalam arus waktu yang sekilas hadir lalu menghilang. Sudah banyak tulisan dan komentar yang mereflesikan lebih lanjut interupsi reflektif sang Uskup – juga Ketua KWI langsung merespon suara profetis Sang Gembala yang telah menuntun Gereja Keuskupan Larantuka selama kurang lebih 22 tahun. Dalam horison persepsi sebagian umat dan rekan imam, Uskup Frans tidak tampil sebagai figur intelektual dalam arti...

HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN

Image
HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN Melukis Tuhan Pada suatu kesempatan mengajar agama Katolik dengan tema "Siapa itu Tuhan?" di kelas 3 Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Jerman, saya memberikan tugas kepada murid untuk melukis atau menggambar konsep atau pemikiran mereka tentang Tuhan. Setelah sekitar 15 menit, saya berjalan berkeliling melihat proses pengerjaan tugas mereka, seperti yang sering saya lakukan setiap kali memberikan tugas. Saya kerap memberi apresiasi atas apa yang sudah dan sedang mereka kerjakan; kadang rasa ingin tahu membuat saya bertanya, dan sering kali kami sampai pada diskusi tentang tema pengajaran, bahkan kehidupan pribadi mereka. Tak jarang, mereka juga meminta tanggapan dari saya atas ide-ide yang mereka tuangkan di atas lembaran tugas. Sebagian besar murid melukis "Tuhan mereka" dengan gambaran wajah lonjong, berambut panjang, berjenggot, dan berkumis. Ada pula yang menggambar malaikat pelindung, lilin atau cahaya, pemandangan...

SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

Image
  SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA P. Laurensius Woda, SVD, dosen Antropologi pada IFTK Ledalero dan pengasuh museum Bikon Blewut Flores, pernah mengguratkan mimpinya tentang sebuah institut Antropos di Bukit Sandar Matahari Ledalero pada dinding Facebook „Bikon Blewut“. Dalam nada penuh optimisme dia menulis: „ Tahun ini ada 78 mahasiswa/i yg mengikuti ujian tesis dengan penelitian lapangan yg mendalam dan ketat. Semuanya menulis tema2 yg berkaitan isu sosial budaya dalam hubungan dgn ajaran Gereja. Hampir 70% menulis tentang ritus budaya tertentu. Ketika ada yg bilang, 'anthropos tradition is dying out', tapi saya kok malah yakin, 'it is about to bloom'. Yah, dalam nada optimisme bisa kelihatan bahwa tradisi anthropos akan bermekaran lagi ke depannya. Akan tetapi, bukan dari Wina atau Jerman ke seluruh dunia, tapi dari Ledalero ke seluruh dunia.“ Bild: Domradio.de Tentu ini sebuah pemikiran yang bagus sebagai langkah awal memulai geb...

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

Image
KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“ Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan Mgr. Hans Monteiro Sebagai pemimpin baru agenda pertama seorang selalu berada dalam sorotan publik. Rasa ingin tahu mengemuka: langkah awal apa yang hendak diambil oleh sang pemimpin: duduk tenang di ruang bera-AC menanti ucapan selamat, atau kesiapan melangkah ke sudut paling terpencil sebuah wilayah yang dipercayakan kepadanya. Langkah pertama seorang pemimpin dapat mendefinisikan ulang seluruh makna tugas tanggung jawab dan tugas pelayanannya. Saya bersyukur bisa menghadiri rangkaian acara tahbisan episkopal Mgr. Hans Menteiro, Uskup terpilih Keuskupan Larantuka, yang dahulu adalah guru saya sewaktu masih di bangku sekolah SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Tulisan ini bukanlah  sebuah catatan nostalgia personal atau sebuah jurnal wisata spiritual pada liburan kemarin di kampung dan di kota Reinha Larantuka, melainkan refleksi atas gestur pastoral - yang menurut saya – sarat makna teologis. Mengawali ...