PENULIS - AUTOR

My photo
Gera, Thüringen, Germany
Pernah Belajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Sekarang Mahasiswa pada Philosophisch-Theologische Hochschule SVD St.Augustin - Jerman

SUARA - KODA

KODA

Pana mai tada lewung, gawé mai tiru tana.
Pana éka sépat lewo, gawé éka sigan tana.

Gelekat tuén Lera Wulan, gewayang golén Tana Ékan.
Beta doré doan-doan, bauk tematan léla-léla.
Nubung nala méi menung, barang nala raa loma.

27 February 2026

KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

 KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

Sebuah Catatan Kaki Sambutan Uskup Emeritus Mgr. Frans Kopong Kung pada Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro

Uskup Emeritus Frans Kopong Kung pada perayaan tahbisan episkopal Mgr. Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka, sejenak memecah alur perayaan liturgis dan menghadirkan jedah reflektif: "KWI harus menjadi kompas moral. Tetaplah menjadi sauh yang menyentuh dasar laut. Kalau kapal KWI mengalami guncangan, jangan sampai tenggelam."

Sambutan Uskup Frans tidak hanya berhenti sebagai peristiwa sesaat dalam arus waktu yang sekilas hadir lalu menghilang. Sudah banyak tulisan dan komentar yang mereflesikan lebih lanjut interupsi reflektif sang Uskup – juga Ketua KWI langsung merespon suara profetis Sang Gembala yang telah menuntun Gereja Keuskupan Larantuka selama kurang lebih 22 tahun.

Dalam horison persepsi sebagian umat dan rekan imam, Uskup Frans tidak tampil sebagai figur intelektual dalam arti akademis, melainkan sebagai gembala yang mengartikulasikan iman dan imamatnya lewat praksis pastoral. Oleh sebab itu, sebagian orang cenderung (terlanjur) menempatkan Frans Kopong Kung di luar kategori „intelektual“ dalam pengertian sempit lalu mengabaikan kedalaman refleksi yang tersembunyi di balik kesederhanaan bahasa Sang Uskup. Namun dalam momentum bersejarah Gereja Indonesia Frans Kopong menyuarakan ketegasan yang terang benderang tanpa kekaburan makna serta kedalaman pastoral tanpa berlindung di balik kerumitan bahasa. Suara Frans Kopong seperti hadir pada momentum yang menentukan bagi KWI, sebuah momen kairos bagi Gereja.

Gereja tidak (hanya) hidup dari Struktur, melainkan nurani yang membentuk kemanusiaan manusia. Pada alur sejarah Gereja (Indonesia) yang tergoncang kepercayaannya, KWI diharapkan dapat memberi orientasi bagi umat. Harapan ini berakar kuat pada tradisi Gereja sebagaimana ditegaskan oleh Karl Rahner, seorang Teolog terkenal Jerman, yang memahami Gereja bukan semata sebagai sebuah institusi, melainkan sebagai ruang rohani, di mana tangung jawab dan hati nurani saling terjalin. Dalam horison pemahaman ini, Konferensi Waligereja tidak dapat berhenti pada fungsi administratif belaka (verwalten), melainkan dipanggil untuk bersuara, menafsirkan tanda-tanda zaman, dan menuntun umat di tengah kepercayaan yang terguncang (Rahner: Schriften zur Theologie 1980: 287). Di sini, interupsi reflektif Frans Kopong bukanlah sebuah serangan frontal terhadap lembaga KWI atau menghakiminya, melainkan sebuah seruan pastoral untuk sebuah pembaharuan dalam tubuh Gereja. Justru dari pengalaman seorang gembala yang telah melayani selama bertahun-tahun, suaranya memperoleh bobot yang khas: bukan sekadar „asal omong“, tapi sebuah kesaksian dan kegelisahan.

Kegelisahan dan suara profetis Frans Kopong ini menunjukkan, bahwa intelektualitas bukan terutama terletak pada formulasi bahasa akademis yang rumit dipahami umat, melainkan kemampuan membaca kemendesakan persoalan (tanda-tanda zaman) dan membahasakannya pada waktu yang tepat secara jujur dan tegas. Dalam situasi kehilangan arah dan guncangan, justru suara yang kerap diabaikan atau kurang diperhitungkan itulah yang menjadi kompas penuntun.

Terima Kasih Mgr. Frans! Selamat Melayani, Mgr. Hans.

Goresan ini hanyalah catatan kaki yang turut membingkai kesatuan tubuh, spritualitas dan harapan iman umat Keuskuspan Larantuka di bawah tongkat kegembalaan Mgr. Hans Monteiro; ya seperti kaki yang turut melangka, mencari arah dan harapan bagi masa depan Gereja.


Vian Lein

Alumnus Kölner Hochschule für Katholische Theologie Köln, Jerman dan tenaga pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman.

Foto: Komsos Keuskupan Larantuka


HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN

HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN


Melukis Tuhan

Pada suatu kesempatan mengajar agama Katolik dengan tema "Siapa itu Tuhan?" di kelas 3 Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Jerman, saya memberikan tugas kepada murid untuk melukis atau menggambar konsep atau pemikiran mereka tentang Tuhan. Setelah sekitar 15 menit, saya berjalan berkeliling melihat proses pengerjaan tugas mereka, seperti yang sering saya lakukan setiap kali memberikan tugas. Saya kerap memberi apresiasi atas apa yang sudah dan sedang mereka kerjakan; kadang rasa ingin tahu membuat saya bertanya, dan sering kali kami sampai pada diskusi tentang tema pengajaran, bahkan kehidupan pribadi mereka. Tak jarang, mereka juga meminta tanggapan dari saya atas ide-ide yang mereka tuangkan di atas lembaran tugas.

Sebagian besar murid melukis "Tuhan mereka" dengan gambaran wajah lonjong, berambut panjang, berjenggot, dan berkumis. Ada pula yang menggambar malaikat pelindung, lilin atau cahaya, pemandangan, matahari, bulan dan galaksi bintang, pelangi, roh halus, seorang ibu atau wanita, neraca keadilan, biji mata yang menatap bumi, tangan yang menyentuh bumi, hingga hati sebagai simbol cinta.
Di salah satu sudut kelas, tampak Matz (nama disamarkan) yang menopang dagu, memandang lembaran soal yang masih kosong kecuali namanya yang ia tulis di pojok kanan atas. Saya menghampiri Matz dan berjongkok di samping kursinya agar kami bisa berdiskusi tanpa mengganggu teman-temannya. "Pak Lein, memang boleh kita melukis Tuhan di atas kertas? Di Kitab Suci dibilang bahwa kita dilarang membuat gambaran tentang atau yang menyerupai Tuhan." Sebelum saya sempat menjawab, Matz melanjutkan, "Lagi pula, saya belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan, dan menurut saya Tuhan itu tidak ada. Bagaimana saya bisa melukiskan sesuatu atau seseorang yang saya sendiri tidak kenal atau belum pernah jumpai?"

Pendidikan Agama dan Katekese

Baru dua minggu lalu, Matz menerima komuni pertamanya di gereja tempat tinggalnya, dan hari ini dia mempertanyakan Tuhan yang telah disambutnya. Nomenklatur kurikulum pelajaran agama di sekolah-sekolah Jerman memang tidak membenarkan indoktrinasi atau penyebaran agama tertentu secara terbuka dan terstruktur. Bahkan, pelajaran agama merupakan alternatif di samping pelajaran etika bagi siswa yang tidak dibaptis atau terdaftar dalam konfesi apapun. Berbeda dengan katekese yang menekankan misi gereja dan proses evangelisasi, pendidikan agama di sekolah harus memungkinkan siswa untuk berpikir kritis tentang Tuhan, manusia, dan dunia tanpa memaksa mereka untuk menjadi katolik atau kristen, serta berperilaku secara bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, juga dengan yang berbeda aliran kepercayaan, dan alam (bdk. Dokumen Konferensi Para Uskup Jerman tentang "Katekese dan Pendidikan Agama"). Berbeda dengan mata pelajaran lain, pendidikan agama mempertanyakan asal dan tujuan hidup, situasi batas, dan makna kehidupan manusia berdasarkan refleksi tradisi dan sejarah. Pendidikan agama bukanlah sekadar transfer ilmu atau dogma (indoktrinasi), tetapi harus menuntun siswa untuk pada akhirnya mengambil keputusan sendiri secara sadar dan bertanggung jawab atas hidupnya.


Anak Kecil dan Pertanyaan-Pertanyaan Besar

Kembali kepada Matz kecil dengan pertanyaan-pertanyaan besar-nya: Apakah Tuhan itu sungguh ada? Dan jika Tuhan memang ada, siapakah Dia atau seperti apa sosoknya? Di mana kita dapat menjumpainya? Pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan ini juga menjadi refleksi kritis di universitas-universitas dalam karya kajian ilmiah mahasiswa.

Pada giliran untuk mempresentasikan "gambaran" tentang Tuhan yang sudah mereka lukis, Matz meletakkan potretnya di lantai. Berbeda dari lukisan teman-temannya yang berwarna-warni, gambaran Tuhan versi Matz sangat abstrak dalam balutan hitam-putih. "Sketza berwarna putih menggambarkan momen ketika Tuhan ada; dan coretan hitam adalah saat di mana Tuhan tidak ada dalam hidup, atau mungkin ada, tapi saya tidak bisa melihat-Nya," jelas Matz dengan santai, layaknya seorang teolog atau filsuf yang sedang memberikan kuliah filsafat ketuhanan. Saya lalu meminta teman-temannya memberikan aplaus atas sketsa dan refleksi teologisnya.

Tuhan yang Paradoksal

Jauh sebelum Matz, biarawati dari Ordo Benediktin dan Penulis Silja Walter (1919-2011) juga pernah mendefiniskan Tuhan dalam sebuah sajak tanpa judul. Silja menulis: "Abwesenheit ist dein Wesen - darin finde ich dich" (Kealpaan [Ketiadaan] adalah ada-Mu. Dalamnya aku menemukan-Mu). Bagi Silja, hanya gambaran paradoksal seperti inilah yang dapat menghantar manusia lebih dekat pada pemahaman tentang Tuhan. "Abwesenheit" - (indonesia: Ketidakhadiran) dipahaminya dalam penggalan kata "Ab" (=fort) (pergi, berlalu) dan "Wesenheit"(keberdaaan). Artinya, hanya dalam "ketidakhadiran-Nya" Tuhan itu (dapat/mesti) ditemukan; dan ini merupakan suatu usaha manusia untuk mengungkapkan pengalaman mitis-religios dalam bahasa manusia.

Gambaran paradoksal ini juga juga ia gurat dalam bait-bait sajak selanjutnya.

Abwesenheit ist dein Wesen  - darin finde ich dich

Die Nägel meiner Sehnsucht bluten vom Kratzen

an den Eismeeren der Welt

Verkohlt ist die Sucht meiner Suche in seiner Kälte

Aber da bist du

darin - seit das Kind schrie bei den Schafen

und brennst lichterloh zu mir  

„Kuku-kuku kerinduanku mengucur darah – mencakar lautan es dunia. Hanguslah hasrat pencaharianku dalam dinginya. Namun di sana Engkau ada sejak sang bayi menangis di antara domba-domba. Dan kau kobarkan terang-Mu untukku“.

Dalam lirik-lirik ini, Silja membahasakan hasrat kerinduan (Sehnsucht) sebagai sebuah pencaharian (Suche), sebagai upaya untuk mengisi kekosangan atau kealpaan/ketidakhadiran agar dapat mengalaminya secara dekat. Namun tampak pencaharian itu sia-sia: „mencakar-cakar pada lautan es dunia hanyalah mendatangkan darah pada kuku, dan rindu pencaharian itu membara hangus dalam dingin“ Seperti yang kita tahu, membara hangus selalu bersinggungan atau berpaut  pada api, dan bukannya dipicu oleh dingin es. Itu realitas yang dilihat dan dirasakan penulis sang pengembara, bawa hubungan antara Tuhan dan Manusia itu begitu dingin. Namun kembara iman sang penulis tiba oada Kristologi inkarnasi, bahwa Tuhan yang ia sapa dengan „Engaku“ hadir untuk pertama kalinya ke dunia dalam sosok bayi yang menangis di antara domba-domba. Bayi itulah yang membawa terang untuk menyinari kerinduan akan pencaharian Tuhan yang hangus dalam dinginnya lautan es. Dari kata ganti diri orang kedua tunggal yang ia gunakan, puisi Silja ini juga merupakan sebuah doa yang melengking dari hasrat pencaharian, keraguan serta pengakuan akan suatu yang pasti. Lukisan manusia sebagai pengembara dalam pencaharian ini sesungguhnya dia persembahan untuk saudaranya yang ragu akan Tuhan dan keberadaannya.

Hari ini Matz tidak hanya melihat "hitam-putih" gambar(an) tentang Tuhan. Ia, teman-temannya, dan saya memandang pancarona lukisan tentang Tuhan. Usaha mereka untuk melukis gambaran tentang Tuhan bukan sekadar sebuah pergulatan nalar untuk berpikir ulang tentang gambaran Tuhan yang telah mereka wariskan, melainkan berusaha untuk menemukan gambar(an) sendiri – milik kepunyaan – tentang Tuhan.

Pertanyaan tentang Tuhan telah lama "mengganggu" kesalehan fundamentalis dan ketulian apatisme yang memandang dunia dan manusia dalam dikotomi "hitam-putih": baik vs jahat, surga vs neraka, saleh-kudus vs kafir. Lukisan-lukisan tentang Tuhan di kelas adalah kepingan puzzle yang tidak sempurna dan belum tuntas; ia membutuhkan kepingan lainnya untuk membentuk spektrum warna yang lebih luas. Bukan hanya hitam-putih!


Leinefelde, 06.10.2024

Vian Lein

Keterangan Foto: Lukisan anak-anak tentang konsep Ketuhanan mereka di kelas agama saya.

SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

 SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

P. Laurensius Woda, SVD, dosen Antropologi pada IFTK Ledalero dan pengasuh museum Bikon Blewut Flores, pernah mengguratkan mimpinya tentang sebuah institut Antropos di Bukit Sandar Matahari Ledalero pada dinding Facebook „Bikon Blewut“. Dalam nada penuh optimisme dia menulis:

Tahun ini ada 78 mahasiswa/i yg mengikuti ujian tesis dengan penelitian lapangan yg mendalam dan ketat. Semuanya menulis tema2 yg berkaitan isu sosial budaya dalam hubungan dgn ajaran Gereja. Hampir 70% menulis tentang ritus budaya tertentu.

Ketika ada yg bilang, 'anthropos tradition is dying out', tapi saya kok malah yakin, 'it is about to bloom'. Yah, dalam nada optimisme bisa kelihatan bahwa tradisi anthropos akan bermekaran lagi ke depannya. Akan tetapi, bukan dari Wina atau Jerman ke seluruh dunia, tapi dari Ledalero ke seluruh dunia.“

Tentu ini sebuah pemikiran yang bagus sebagai langkah awal memulai gebrakan baru untuk tidak hanya mempertahankan salah satu matra penting dalam karya misi Serikat Sabda Allah yang telah dirintis oleh Wilhelm Schmidt, Paul Arndt dan juga Piet Petu atau Sareng Orinbao (untuk menyebut beberapa nama), tetapi juga mengembangkan proyek-proyek penelitian dan merefleksikannya dalam konteks dunia kita dewasa ini.

Di sini saya tidak ingin mengurai mimpi besar teman kelas Rukhe Woda (Nama Akun FB). Goresan optimisme yang ia letupkan pada dinding dunia maya memantik tanya pada diri. Jika hampir 70% mahasiswi/a melebur diri dalam riset tentang budaya lokal, adakah dari yang tersisa 30% mahasiswi/a mengkiblatkan pemikiran intelektual mereka pada (teologi) pastoral Gereja? (Tentu kita tidak menafikan, bahwa karya pastoral Gereja hampir pasti beririsan dan berurusan dengan budaya yang adalah konteks berteologi; dan usaha untuk menceburkan diri ke dalam budaya setempat adalah bagian dari proses karya pastoral).  

Hampir sebagian besar lulusan IFTK Ledalero sudah dan akan berkarya dalam ruang lingkup pastoral Gereja, entah sebagai imam, biarawati, maupun awam (katekis, guru agama, penyuluh agama, dll).

Jika Laurensius dalam mimpinya mengenang Institut Antropos Sankt Augustin -  Jerman atau Sankt Gabriel – Austria, saya teringat akan Seri Pastoralia terbitan Nusa Indah yang tidak hanya membuat kajian teologis dogmatis atau teologi kontekstual, tetapi juga memberi bingkai pada refleksi pengalaman pastoral bersama umat.

Bila mengenang kembali masa perkuliahan di Bukit Leda, saya mendapat kesan, bahwa mata kuliah „Kateketik“ – yang oleh Dosen Pengasuh P. Bunga Ama Keban, SVD, dibaptis sebagai „payung segala ilmu“ itu, tidak se-atraktiv mata kuliah lain (mohon koreksi jika keliru atau ada pengalaman dan kesan lain) seperti Filsafat Ketuhanan-nya P. Leo Kleden, SVD atau Teologi Sosial-nya Almh. P. John Prior, SVD.

Saya merasa tertarik ketika Dosen Kateketik berulang kali mempersoalkan perumusan tujuan proyek kateketis di komunitas basis: antara membangung atau mendirikan; memajukan atau mengembangkan, dstrnya (bisa ditambahkan 😊). Di sini sebenarnya dia ingin menegaskan, bahwa suatu tindakan pastoral itu mesti dimulai dengan pertanyaan dasar „ What“.

Dalam setiap inisitiativ, rencana atau program pastoral kita mesti mengajukan pertanyaan pertama: Apa yang ingin saya capai bersama umat (Pertanyaan tentang tujuan). Tujuan-tujuan itu mesti dirumuskan secara konkret dan kemudian dapat diuji kembali. Tanpa ada tujuan yang jelas dari seluruh aksi yang akan dibuat, kita seperti kembara dalam belantara repetisi tradisi: mempertahankan, mengulang atau juga menghilangkan apa yang sudah diwariskan beratus tahun  tanpa ada pemaknaan secara baru. Kita tentu tahu: berjalan tanpa tujuan dan arah yang jelas adalah sebuah tugas dobel yang melelahkan.

Di balik pertanyaan “The What” tersirat visi dari seluruh proses karya pastoral. Pertanyaan selanjutnya adalah: “The How”: Bagaimana cara untuk mencapai tujuan yang telah dijabarkan. Pertanyaan “The How” berkaitan dengan metodologi sebagai alat untuk mencapai visi yang tertuang dalam tujuan-tujuan itu (aksi).

Kita bersyukur bahwa Flores memiliki Sekolah Tinggi Pastoral seperti STIPAR Ende, STP Reinha Larantuka dan juga IFTK Ledalero dengan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik. Para mahisiswi/a yang adalah calon katekis, guru agama dan imam atau pastor paroki mesti ditantang dan diberi ruang untuk berani menganalisis isu-isu pastoral Gereja dan model pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Karya pastoral Gereja - mulai dari rutinitas misa mingguan atau harian, persiapan penerimaan sakramen inisiasi seperti Permandian, Ekarisiti dan Krisma, pelayanan sakramen lainnya, hingga struktur Gereja dan persoalan pelecehan seksual di kalangan Gereja - adalah isu-isu penting dan selalu relevan untuk terus dikaji. Katekese bukanlah soal transfer nilai-nilai katekismus. Begitu pula dengan pelajaran agama di sekolah bukan sekadar penguasaan doktrin atau ajaran Gereja tanpa melibatkan peserta didik untuk berpikir „kritis“ tentang iman, Tuhan dan Ciptaan-Nya sesuai dengan alam pikir atau konsep “teologi anak-anak” (Teologi “untuk” dan “bersama” anak-anak). Ketika para mahasiswi/a telah dibekali secara teologis, pastoral dan dalam kerangka pedadogik agama, maka mereka siap untuk ditempatkan dalam karya pastoral dan dunia kerja. Dan itu tidak cukup hanya di ruang kuliah. Kesempatan praktek di lingkungan paroki akan membuka perspektiv mereka tentang cara hidup iman umat atau persoalan mereka seperti ketidakpuasan dengan kebijakan Gereja dalam urusan pelayanan sakramen.   Paroki-paroki di Flores, Solor, Adonara dan Lembata dapat berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di atas dalam karya pastoral, seperti persiapan penerimaan komuni atau krisma, pekan anak muda atau SEKAMI.

Tapi perkara iman dan karya pastoral bukan hanya sakadar urusan mempersiapkan umat untuk menerima sakramen, bukan hanya urusan misa mingguan atau doa rosario. Ruang karya pastoral itu kompleks; juga di Gereja Lokal Nusa Tenggara Timur. Sekolah-sekolah pastoral dan teologi di dipanggil untuk memulainya berdasarkan prinsip: Sehen (melihat), Urteilen (menilai/berefleksi) dan Handeln (bertindak). Siapa tahu nanti di Ledalero tidak hanya ada Institut Antropos, tetapi juga Institut Pastoral.

 

Vianey Soda Lein

Tenaga Pastoral pada Keuskupan Erfurt - Jerman

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan Mgr. Hans Monteiro

Mengawali masa pontifikatnya di Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro mengunjungi Desa Konga, sebuah wilayah sunyi di Kabupaten Flores Timur yang termasuk dalam teritori tepi pastoral Keuskupan Larantuka. Pilihan ini tidak lahir dari romantisme sejarah misi atau napak tilas misi kekatolikan di keuskupan, sekalipun kawasan tersebut pernah dikenang sebagai “kampung Kristen tua di pantai tenggara,” yang dalam catatan sejarah tidak selalu menjadi pusat intensitas karya para misionaris (bdk. Karel Steenbrink, 2006: 146ff). Keputusan itu pun bukan karena daya pikat investasi ekonomis kemilau mutiara dari pulau Konga yang tersembunyi dari hiruk-pikuk narasi besar pembangunan dan asing untuk penduduk lokal. Keputusan Mgr. Hans lahir dari sebuah kemendesakan kemanusiaan, bahwa di tempat itu, di Konga, tinggal para penyintas letusan gunung Lewotobi yang beruntun. Para korban itu datang dari wilayah pinggiran Kabupaten Flores Timur yang sebelumnya bermukim di sekitar kaki gunung berapi Lewotobi. Mereka kehilangan rumah, lahan, mata pencaharian dan harus menata hidup baru dari nol.

Pada awal pontifikatnya, Paus Franziskus tidak memilih metropolitan dunia barat, melainkan sebuah pulau di pinggiran Eropa, yakni Lampedusa. Di sepanjang pantai Lampedusa gelombang pengungsi mencari harap dan hidup yang layak.

Juga di Konga tinggal para penyintas dalam kemah-kemah sempit tanpa kepastian hidup: sampai kapan mereka berjuang di tempat ini, meradang kecemasan letusan susulan yang tak sulit ditebak dan tak dapat diajak kompromi.

Dalam terang moto kegembalaan: „Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan“ rantai persatuan itu diuji dan diwujudkan. Di sini kehadiran sang Gembala bukanlah sekadar inspeksi atas batas-batas teritorial Gereja lalu berhenti pada afirmasi administratif atas wilayah pastoral, melainkan sebuah ziarah menuju „heterotopos“ di padang luas kegembalaan (Michel Foucault: „Andere Räume“: Ruang-ruang Lain: 1967). Di sana, di kemah-kemah sempit, Gereja ditantang untuk tinggal dan berkarya di antara ketidakpastian. Sebagai „ruang (yang) lain“ dalam reksa pastoral, Konga tidak hanya merupakan konfigurasi spasial melainkan juga interupsi temporal (eschatologi): hidup dalam solidaritas kebersamaan sebagai satu tubuh, dibakar dalam api roh keberanian , dan menapaki setiap ambang kemungkinan perubahan dengan harapan yang selalu waspada di tengah rapuhnya kehidupan umat. Visitasi perdana ini hendak mengafirmasi, bahwa „locus theologicus“ bukan lahir dari pusat yang aman, melainkan dari “horizon ancaman”, di mana Gereja dan umatnya menyadari rapuhnya eksistensi mereka.

Langkah awal Uskup Hans tidak bergerak menuju pusat, melainkan menuju tepian; bukan ke ruang yang telah mapan dalam peta devosi, melainkan ke horizon yang ditandai ketidakpastian alam. Di sana, di bawah bayang-bayang gunung berapi Lewotobi, pastoralitas menemukan topografinya yang konkret—sebuah ruang di mana iman tidak berdiri di atas kepastian sejarah dan menara gading kesalehan, melainkan berhadapan dengan rapuhnya kehidupan. Langkah awal sang gembala bukanlah sebuah perjumpaan di kapela dan gereja megah sarat simbol kekudusan dan memori misi, melaikan perjumpaan dengan bulir abu vulkanik dan bongkahan kegelisan umat akan hidup mereka.

Dalam arti ini, Konga menyingkapkan dirinya sebagai locus theologicus: tempat di mana pengalaman manusiawi, alam, dan kecemasan kolektif menjadi medan pewahyuan dan refleksi iman. Konga adalah tentang Gereja yang berdiri di bawah tudung kabut dan ruang awal kepulan erupsi, bukan di atas singgasana stabilitas; sebuah deklarasi diam, bahwa teologi tidak lahir pertama-tama di pusat kekuasaan religius, melainkan di tepian—di tempat di mana para penyintas menatap gunung yang dapat sewaktu-waktu meletus kembali. Konga dan pulau budidaya mutiaranya menjadi simbol tajam dari kehidupan umat yang terpinggirkan. Di sana mutiara berkilau di dasar laut, tetapi tangan-tangan penduduk lokal tak kuasa menyentuhnya. Mereka seperti kerang yang hanya mengeram luka di dasar lokan agar mutiara terbentuk; dan kelak ditinggal setelah biji mutiara dipanen.

Akhirnya, seperti yang diingatkan Paus Fransiskus ketika masih menjabat sebagai kardinal:

„Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri dan bergerak ke pinggiran; bukan sekadar ke pinggiran geografis, tetapi juga ke batas-batas eksistensi manusia: batas misteri dosa, penderitaan, ketidakadilan, masa-bodoh , batas minimnya praktik keagamaan, batas pemikiran dan batas kemiskinan. Jika Gereja tidak keluar dari dirinya sendiri untuk mewartakan Injil, ia akan hanya berkutat pada dirinya sendiri. Pada saat itu, ia menjadi sakit. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam institusi Gereja dalam ziarah waktu berakar pada sifat mementingkan diri sendiri. Dan ini adalah manifestasi dari roh narsisme teologis“ (Bergoglio: Die Kirche, die sich um sich selber dreht: 2013).

Ya, Gereja yang berorientasi pada perjumpaan dengan „kaum pinggiran“ harus juga berani meredakan bara ketegangan, membuka ruang dialog dan hadir di tengah situasi "keterlukaan" umat.

Akankah kelompok penyintas segera tiba di sebuah lahan subur sebagai akhir dari perjalanan exodus mereka?

Akankah luka-luka mereka yang terendap di abu vulkan dan pasir belerang kelak juga menjadi mutiara indah milik sendiri?

Vian Lein

WNI (Warga Negara Indonesia, Mokantarak, Larantuka ), tenaga pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman.

01 April 2021

PRO DEO ET PATRIA (Goresan untuk Almahrum Bpk. Josep Laka Hurint)

 PRO DEO ET PATRIA

Goresan untuk Almahrum Bpk. Josep Laka Hurint

„No, bagaimana engko lihat Besa (Bapa Besar)? Besa makin kurus toh?“, itu pertanyaan yang ia lontarkan ketika kami videocall beberapa minggu silam. „Besa memang kelihatan makin kurus, tapi wajah dan semangat masih seperti dulu, tidak ada yang berubah“, begitu jawab saya dan disambut gelak tawa kami berdua. Itu pembicaraan terakhir kami sebelum ia berjuang intensiv beberapa minggu terakhir di atas pembaringan melawan sakitnya. Malam tadi, pukul 22:00 waktu Jerman saya menerima telepon dari seorang adik. Dari balik balik telepon ia menyampaikan: „Tata (Kakak), Besa sudah jalan.“ Kami tak lagi bercerita lama; hanya sebentar, lalu pamit. Malam saya pun menjadi jalan panjang kenangan – mengingat momen-momen kenangan tentang dan bersama Bapa Besa Yosep Laka Hurint. Sebgaimana kata Pengkhotbah, hidup ini memang terbatas – untuk apapun di bawah langit ada waktunya – ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati - tetapi kenangan itu abadi. Dan kenangan-kenangan itu menjadi jendela bagii saya untuk memandang Bapa Besa dari jauh, kapan dan di mana pun – tak terbatas jarak dan ruang. Dan semua kita yakin, seorang tak akan mati jika masih ada orang mengenakan gambar kehidupan dalam hatinya.

Antara actio dan contemplatio

Bagi banyak orang, identfikasi pertama dan dominan yang muncul saat melihat atau mengenang Bapa Josep adalah doa, ekaristi, Kitab Suci. Seluruh hidup Bapa Josep sama sekali tak pernah lepas dari aktifitas rohani dan latihan spiritual. Itu benar. Ketika masih kecil, kami selalu diajaknya untuk berdoa bersama (keluarga) sebelum menonton siaran televisi. Doa pribadi, doa bersama, membaca kitab suci – apalagi misa dan ibadah hari minggu – menjadi santapan rohani yang tak boleh dilalaikan. Bahkan sebelum berangkat ke kantor beliau selalu menempatkan diri mengikuti misa harian. Mungkin bagi segelintir orang cara hidup seperti itu „menggelikan“ dan bahkan memandang aneh apa yang ia buat. Saya sendiri pun pernah merasa lucu menyaksikan kesetiaannya dalam berdoa: berdoa dan membaca Kitab Suci sebelum bekerja, doa malam sebelum tidur. Namun, dalam perjalanan waktu, perasaan geli itu berubah menjadi tamparan dan cambuk di hati dan pikiran: bukankah itu menjadi kebajikan seorang pengikut Tuhan? Kerinduan akan Tuhan dan penyerahan diri padaNya adalah sikap dasar orang beriman.

Tapi, hidup rohani yang ia lakukan bukanlah hanya untuk dirinya semata. Beliau selalu mengajak kami keluarga dan anak-anak untuk berdoa. Dan pada hari minggu, ketika tidak ada pastor yang melayani di Stasi Lewokung, Bapa Besa siap menghubungi pastor-pastor yang ia kenal agar bisa memimpim misa di Gereja. Tidak hanya sampai di situ. Beliau masih sempat mendata umat yang lanjut usia dan sakit agar bisa menerima komuni kudus dari pastor. Tidak heran jika ada yang menyebutnya „Diakon“ – karena memang dia setia mendampingi imam dalam melayani umat. Bahkan sampai akhir hidupnya, dia masih aktif sebagai anggota konferia (salah satu paguyuban awam yang bertugas membantu pastor dalam tugas pelayanan liturgis di Keuskupan Larantuka). Dan saat menutup mata untuk abadi, belia mengenakan pakaian konferia yang pernah ia kenakan selama tugas pelayanan. Besa, terima kasih untuk kesaksian hidup rohanimu yang luar biasa dan maaf jika mata hati kami buta untuk semuanya itu!

Lantas, apakah Bapa Josep hanya menghabisi hari-hari hidupnya hanya dengan doa dan latihan rohani? Saya sendiri baru mengetahui jejak karya Beliau di tahun 2018 kemarin, saat liburan di kampung halaman. Baru malam itu beliau mengisahkan petualangan hidupnya di dunia kerja. Lama Beliau mengabdikan diri sebagai kepala keungan daerah, pernah menjabat Kepala Desa Mokantarak, pengurus Dewan Gereja Stasi dan Paroki. Bahkan setelah masa pensiun Beliau masih ingin mengabdikan hidupnya untuk Gereja Keusukupan Larantuka dalam dunia pendidikan (Yayasan Persekolahan Umat Katolik Flores Timur: YAPERSUKTIM). Namun bagi Besa, deretan jabatan atau titel yang pernah melekat pada dirimu sama sekali tidak menjadikan diri kita „besar“. Saya setuju dengan Beliau. Banyak pejabat pemerintahan hanya karena kedudukan/status dan uang menjadi hancur; keluarga pun berantakan. Jabatan dan nilai rupiah yang memelekan mata itu menjadikan nama dan harga diri mereka diinjak-injak. Bagi Bapa Josep, jabatan dan kedudukan adalah atribut seorang pelayan.

Kerendahan Hati

Jabatan-jabatan yang ada sama sekali tidak menjadikannya orang penting dan dihormati. Setelah jam kerja kantor dan kembali ke rumah, Bapa Josep tetap menjadi orang kecil, menjadi seperti orang pada umumnya. Semua orang tahu, ia pernah menjadi peternak babi selama hidupnya – bahkan sampai saat saat sebelum sakit, beliau masih aktif memelihara babi. Saat berangkat ke kantor, ia lebih memilih jalan kaki hingga di Oka-Lewoloba (6-7 km) baru dilanjutkan dengan menumpang bemo ((transportasi umum). Pemandangan pagi seperti ini menjadikan saya dan teman-teman yang saat itu masih SMP malu karena kami dimanjakan oleh transportasi umum.

Bapa Besa tahu menempatkan diri dalam masyarakat atau kelompok di mana ia berada. Rutinitas kehidupan doa dan jabatan publik tidak menjadikan dia sebagai sosok yang asing atau aneh di masyarakat. Pada hari minggu setelah perayaan ekaristi Bapa Besa sering berekreasi bersama dengan orang-orang di kampung seperti bermain catur atau kartu. Tidak suit baginya untuk memberi senyum pada orang lain dan tertawa bersama yang lain. Bapa Josep sama, yang duduk main kartu di atas tikar bersama orang-orang di kampung, juga pernah duduk bersama para uskup, imam atau pejabat pemerintahan lain yang bertugas dan  menggembala di Keuskupan Larantuka – Kabupaten Flores Timur.

Sikap kerendahan hati ini juga ia tunjukkan dan ajarkan pada anak-anak. Mengalah untuk kebaikan anak-anak dan keluarga adalah pilihan yang sering dia ambil. Semua itu karena ia mencintai keenam anaknya. Mungkin kadang harus menyimpan sendiri semua gundah hati, lalu ia tumpahkan dalam doa-doa yang senantiasa ia ucap. Meski persoalan datang melanda, tatapan tegar dan senyum harapan bahagia tetap terlihat di wajahnya. „Akh, Besa ini hadapi persoalan-persoalan dalam keluarga biasa saja e…“, begitu pernah saya berujar. Saya sangat yakin, kekuatan doa dan kedekatan dengan Tuhan menjadikan Bapa Besa seperti itu.

Adikku mengisahkan, kalau sebelum ia menutup mata abadi, ia meminta anak sulungnya yang adalah pastor (Romo Bonnie Hurint, Pr) untuk memberikan komunio. Romo Bonie yang saat itu berada di sampingnya, mengiyakan permintaan sang ayah. Hosti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Tuhan disantapnya sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Itu adalah momen perjamuan terakhir beliau, ekaristi yang ia rindukan setiap hari. Segala sakitmu kau serahkan ke dalam tanganNya. „Akh, begitu damainya Besa engkau meninggal. Saya juga ingin seperti itu ketika hari itu tiba“. Hidupmu telah menjadi berkat bagi banyak orang, bagi Gereja dan Tanah Air – pro Deo et patria.  Saya jadi teringat lirik lagu ini:

Hidup ini adalah kesempatan Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini hanya sementara

Oh Tuhan, pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat

Besa, malam ini engkau berada bersama Tuhan pada perjamuan malam terakhirnya; sementara kami masih berjuang melewati hari-hari duka kami dengan air mata. Tapi kami percaya, engkau yang selama hidupmu tekun berdoa, tetap mendoakan kami darii Surga. Kami percaya, Dia yang tergantung di kayu salib menanggung segala sakit dan penderitaan kita – Dia yang terluka karena salah dan dosa kita akan menyembuhkan luka-luka kita dengan bilur-bilur lukaNya. Karena luka-lukaNya kita disembuhkan.

Besa, selamat jalan!

Terima Kasih untuk kesaksian dan teladan hidup. Terima Kasih telah mengingatkan kami untuk tetap mejaga keseimbangan antara vita activa dan vita contemplativa, ketika semua kami lebih sibuk dan menghabiskan waktu untuk mengumpulkan harta dan lupa memberi waktu untuk Tuhan.

Pana teti Tua Alla lango, tonga hau tede kame ana moen!

Vianey Lein – Erfurt, Jerman, 01. April 2021

Bildnachweis: oleh Katja Fissel dari Pixabay 

09 March 2021

BLICK AUS DEM FENSTER



                                                            Freude

                                                            Ehrlichkeit

                                                            Natürlichkeit

                                                            Stille

                                                            Tiefe

                                                            Entfernung

                                                            Ruhe
 

Alles beginnt von vorne


 

27 December 2020

NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI MYTHOS (Bagian 2)

 NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI MYTHOS

Suatu Renungan atas Cerpen „Baju Natal Buat Sang Cucu“ karya Silvester Hurit

Bagian 2: Inkarnasi Logos dan Reinkarnasi sosio-politis

Kelahiran Yesus – meski dalam kelemahan dan keterbatas di kandang hewan – membawa kegembiraan dan harapan karena Ia adalah Mesias yang dinanti-nantikan „untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yan tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang“ (Luk 4,18-19).

Lukisan Natal dalam balutan budaya Sumba. Foto ©FB Jack Umbu Warata

Warta dan pemaknaan Natal seperti ini sama sekali tak terpikirkan oleh anak kecil seperti Tala. Bahkan untuk kebanyakan orang di kampung Tala „kegembiraan Natal dan berita pembebasan“ masih terdengar sunyi. Yang terpenting adalah „baju baru“ dan „pesta“ pora natal di lingkungan. Makna perayaan Natal telah bergeser dari kemilau kesederhanaan di Betlehem kepada glamor konsumerisme pasar. Dalam dialog tentang perjuangan Kakek Ama Tobi untuk dapat membeli baju natal buat sang cucu, penulis menunjukkan kepada pembaca tentang apa yang ia temukan, bahwa situasi kosmos - chaos itu tidak hanya terbatas pada proporsional ruang geometris dan askpek estetis atau keindahan, melainkan juga tentang keteraturan dalam sosialiatas hidup masyarakat, keteraturan dalam politik, sebagaimana Plato dalam Politeia: „negara yang adil membutuhkan jiwa-jiwa yang adil. Kota yang tertata rapi/adil dan jiwa yang tertata rapi/adil akan tercapai jika masing-masing bagian dari mereka memenuhi tugas dan tanggung jawab“ (Politeia 433b). Di sana ia berani menggeledah „ketidak-beresan“ (ketidakteraturan) dalam institusi gereja dan institusi pemerintah. Aspek kesederhanaan dan spirit kemiskinan bayi Yesus lalu ditempatkan pada kontras kemewahan gereja: mobil Fortuner buat Romo Deken, sumbangan untuk pesta Natal dari kepala kantor agama senilai 3 juta dan pungutan wajib dalam lingkungan Gereja.

Masyarakat lokal mungkin masih ingin religius memaknai natal dalam kesederhanaan, tetapi mereka diganjal oleh realitas kehidupan dalam gelora pergeseran nilai-nilai dan terkikisnya kearifan lokal, seperti Gereja yang tidak lagi berpihak pada kaum miskin dan tertindas – melainkan berkompromi dengan penguasa dan pemegang modal, dan Natal yang lebih mengutamakan penampilan lahiriah daripada perkara batin. Kakek Ama Tobi menjadi semakin tidak berdaya di hadapan Bapa Uskup, Romo Deken dan ketua komunitas basis sebagai simbol penjaga moral gereja dan anggota DPR dan kepada Kantor Agama sebagai aktor politik untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Dramaturgi politik yang dimainkan sudah tentu mencederai misi pembebasan dan penyelematan gereja. Inkarnasi diri Allah menjadi manusia adalah opsi keberpihakanNya kepada manusia yang lemah dan tak berdaya, yang terpinggirkan dari masyarakat. Palungan, kandang dan para gembala adalah simbol kedekatan dan keberpihakan Allah dengan orang-orang kecil dan miskin serta yang menderita. Dalam kesederhanaan Natal di Betlehem para penguasa dan pemimpin Gereja serta pemimpin masyarakat justru menyibukkan diri dengan hadiah-hadiah dan ritual pesta pora. Konsumerisme dan Kapitalisme sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari perayaan Natal. Metafor lain yang menunjukkan bahwa kapitalisme juga telah merambat sampai ke pelosok-pelosok kampung adalah „Coca-Cola“ (bdk. Cocacolonialism): „Ia mengambil sebotol Coca-Cola dan memberikannya kepada Ama Tobi“.

Bujuk untuk menenangkan Sang cucu menjadi klimaks cerita: „Yesus menerima semua yang mau berteman dengan dia, termasuk yang tak punya baju baru“. Begitu pula dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan (harus) bersifat telanjang, tak perlu dibajui sehingga tampak. Ia tak perlu didandani agar tampil dalam keaslian dan ketulusan.

Kenosis, Yesus yang mengosongkan dirinya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia – Allah yang rela menjadi senasib dengan manusia – adalah hadiah terindah untuk semua umat. Natal: Allah menjadi manusia, Ia datang membawa terang ke dalam dunia yang penuh dengan ketidakadilan dan krisis ekologis. Natal: perayaan Tuhan hadir di kandang hina mengajarkan kita untuk tidak kehilangan iman akan dunia yang lebih baik, harapan untuk dapat mengubah dunia menjadi lebih berarti dan cinta pada mereka yang miskin dan membutuhkan. Meng-inkarnasikan diri dalam hidup kebersamaan, terlebih menjadi bagian dari kaum lemah dan terpinggirkan dan terlibat dalam perjuangan mereka adalah hadiah natal terindah.

Penulis telah berhasil menjembatani kisah Natal di Betlehem 2000-an tahun silam dengan mitos dan kesejarahan sebuah kampung terpencil pada masa lampau dan juga saat ini. Upaya mendialogkan Natal Tuhan dengan tutur cerita lokal Nogo Letek-Pelatin Lela merupakan pendekatan kontekstual dalam berteologi yang sangat dibutuhkan, ia tidak melulu berfokus pada teks-teks Alkitabiah atau doktrin-doktrin, melainkan terbuka dengan nilai-nilai kultural dan praktik-praktik kehidupan sehari-hari agar dapat menolong berbagai pelayanan di gereja-gereja secara efektif (Bevans: 2009, 320). Kisah kelahiran Yesus dari Nazaret, kisah Penulis dan kisah Dunia bersua dalam simpul hic et nunc, kini dan di sini. Silvester berhasil melahirkan kembali mitos dan kesejarahan penduduk lokal. Dengan pisau bedah sastra ia berani mem-bidan-i kaum kecil yang telah lama bunting dengan aneka krisis dan persoalan-persoalan. Mereka dan juga alam tempat mereka hidup bagai wanita hamil yang ditinggal pergi setelah disetubuhi. Tentang hal ini, penulis menghadirkan figur Pelatin Lela yang disandingkan dengan ketokohan Santo Yosef: lebih menjadi pendengar yang setia ketimbang banyak bicara, tidak memarken diri atau menempatkan diri sebagai pusat perhatian, ya, dalam diam mereka melakukan cinta dan menebarkan damai. Usaha mencari dan menemukan jalinan kesamaan „benang merah“ antara warisan sabda leluhur (koda kirin) dalam budaya lokal dan ajaran-ajaran Kristen (logos: warta Ilahi) ini adalah proses „melahirkan“ kandungan „teologis-inkarnatoris“ yang terkandung dalam khazanah budaya (bdk. Ulin Agan:2006, 297-332]

Sebagai penutup, saya mengutik kata-kata penyair Angelus Silesius: „meskipun Christus ribuan kali lahir di Betlehem, tapi tidak dalam palung hatimu, maka kamu akan hilang selamanya“.

Selesai!

Baca bagian 1 di sini

Oleh: Vianey Lein - Warga Lewokung - Flores Timur

NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI MYTHOS (Bagian 1)

 NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI MYTHOS

Suatu Renungan atas Cerpen „Baju Natal Buat Sang Cucu“ karya Silvester Hurit

 Bagian 1: Inkarnasi Logos dan Rekonsiliasi Manusia – Kosmos

Dalam memaknai perayaan Natal tahun 2020 Silvester Hurit menulis sebuah cerpen di mana kisah kelahiran Tuhan Yesus – Isa al Masih, 2000-an tahun silam ditorehkan dalam kehidupan dan pengalaman seorang kakek Ama Tobi dan cucunya Tala („Baju Natal Buat Sang Cucu“, Jawa Pos, 25.12.2020). Dengan plot cerita campuran maju -mundur dan latar waktu masa lampau (sejarah dan mitos) dan masa kini yang disajikan, penulis berusaha memproyeksikan kisah Natal dan perayaannya pada dinding sejarah serta legenda atau cerita mitos dari kampung-kampung di wilayah Lewo Lema. Di sini penulis berhasil merancang sebuah konstruksi „teologi kontekstual“ dengan metode literer, meski ia dalam karyanya tidak menggunakan terminologi teologis-dogmatis seperti inkarnasi logos, teologi inkulturasi, atau pun eko-teologi. Dengan gayanya yang bebas mengalir ia mengekspresikan dinamika berteologi-kontekstual. Dalam tulisan ini, saya mencoba menunjukkan unsur-unsur teologis itu.


„Baju Natal buat Sang Cucu“ merupakan sebuah cerpen tentang alam pemikiran: alam pemikiran masa dulu dan kini, global (Eropa) dan lokal, mitologis dan teologis-ilmiah, tentang yang sakral dan profan. Proses kreativ penulis yang memadukan narasi teologis natal dan narasi tradisional Nogo Letek – Pelatin Lela menunjukkan bahwa penulis tidak hanya mengembara dalam dunia imajinasinya, tetapi juga tenggelam dalam eksplorasi intelektual, seperti mempelajari mitologi dan kesejarahan. Ia lalu tidak hanya menuliskan teks tetapi juga membaca konteks lalu menulisnya kembali sebagai sebuah teks baru, atau lebih tepat melahirkan logos baru.

Inkarnasi Logos dan Rekonsiliasi Manusia – Kosmos

Perayaan Natal merupakan kenangan akan misteri inkarnasi logos (Sabda) – penjelmaan diri Allah menjadi Manusia – Sabda yang menjadi daging – dalam diri Yesus Kristus yang lahir di kandang hina (bdk. Prolog Yohanes 1,1-18: „Pada mulanya“ adalah firman/logos). Logos mengacu pada diri Allah, lewat logos (dengan ber-sabda) segala ciptaan dijadikan, logos membawa terang untuk hidup. „Firman (logos) itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.“ Inkarnasi Logos tak terlepas dari seluruh penciptaan kosmos - dunia dan segala isinya (kosmos: keteraturan). Dalam taurat Musa, yakni dalam kitab Genesis juga tertulis: „Allah melihat bahwa semuanya itu baik“.

Silvester pada awal ceritanya melukiskan suasana kosmis/natur menjelang Natal, bahwa alam di bagian timur Flores itu indah dan subur: bunga Natal yang bermekar, sayuran tumbuh subur, padi yang bertunas, daun jagung yang bergoyang, hingga ular tanah yang begitu banyak. Keindahan dan kesuburan alam itulah yang menjadi tunas lahirnya nama Flores: cabo de flores – tanjung bunga, oleh orang portugis. Tapi, mengapa dalam memeriahkan perayaan Natal orang-orang di kampung selalu berkiblat pada pemandangan kosmis di Eropa seperti pohon cemara dan salju, bukan pada pohon Desember yang disebut Silvester, atau pada rinai hujan atau kemarau?

Lebih lanjut dalam babak mitis tentang Pelatin Lela relasi harmonis antara manusia-alam mendapat sorotan penting. Atas tuntutan saudara-saudara Nogo Letek: binatang-binatang hutan datang bergotong royong membantu Pelatin Lela mendirikan korke hanya dalam sehari; kura-kura membantunya mengisi cairan gula tuak ke wadahnya tanpa sedikit pun tercampur air lait; semut-semut bergotong royong memisahkan biji jewawut dengan pasir. Intimitas antara manusia dan ekosistem ini mengingatkan kita pada kisah Santo Fransiskus - pelindung para aktivis lingkungan hidup - yang menyapa ciptaan-ciptaan lain, bahkan hewan terkecil sekalipun sebagai saudara dan saudari. Paus Fransiskus dalam Laudato si (Ensiklik tentang perawatan rumah kita bersama) mengingatkan: „Keyakinan seperti [ini] tidak dapat diremehkan sebagai romantisme yang naif, … Jika kita memandang alam dan lingkungan tanpa keterbukaan untuk kagum dan heran, jika kita tidak lagi berbicara dengan bahasa persaudaraan dan keindahan dalam hubungan kita dengan dunia, kita akan bersikap seperti tuan, konsumen, pengisap sumber daya, hingga tidak mampu menetapkan batas-batas kebutuhan yang mendesak. Sebaliknya, jika kita merasa intim bersatu dengan semua yang ada, maka kesahajaan dan kepedulian akan timbul secara spontan“ (Laudato si 11). Begitu pula ketika hujan dan angin mengiringi rombongan Pelatin Lela dan istirnya Nogo Letek kembali ke kampung halaman, ketika binatang-binatang bersukacita keluar hutan memberi restu serta bunga-bunga mengeluarkan wewanginannya – bukanlah personifikasi literer yang diselipkan begitu saja. Potongan kisah mitis ini hendak menyingkapkan kearifan masyarakat lokal, yakni koeksistensi manusia dan alam yang harmonis. Keyakinan seperti ini telah ada dan dihidupi jauh sebelum perjumpaan dengan agama-agama yang dibawa para misionaris, sebelum penelitian atau studi ilmiah dalam setiap dekade teknologi modern dan era globalisasi: „Bagi orang sederhana dan tak sekolah seperti Ama Tobi, beringin-beringin itulah yang menyimpan air hujan sehingga kemarau masih dapat menyisakan sedikit keteduhan. Rembesan air membantu tanaman dari siksa kekeringan. … … binatang-binatang kecil yang berumah di dalam tanah pun tertolong. … .. … Pohon-pohon adalah anggota tubuh ibu tanah yang mendandani serta melengkapi semesta dengan kesuburan dan kesegaran.“ Namun, Penulis tak lama bermegah dan bermeditasi dalam indahnya alam Flores. Suasana kosmos itu berubah jadi chaos: bencana alam tanah „longsor“, pohon „beringin ditebang“, „gagal panen“ akibat „kekeringan, hama padi, ulat yang mengeroposkan jagung, dan „serangan tikus“. Sebagaimana Yohanes Pembatis, tokoh Advent dan Natal yang menyerukan pertobatan di padang gurun, penulis dalam cerpennya menyerukan pertobatan ekologis. Jerami kering pada kandang, lembu dan keledai adalah simbol misi Allah dan pengalaman manusia dan semua ciptaan, bahwa Allah ingin agar alam yang telah menjadi chaos diselamatkan.

Oleh: Vianey Lein - Warga Lewokung - Flores Timur

Bersambung ... bagian 2 di sini

Cerpen "Baju Natal buat sang Cucu" klik di sini

Foto/gambar:  ©Jawapos.com

24 December 2020

Epidemi Fanatisme: Keberlainan dan Kelainan Dalam (Ber)Agama

 MENYEMBUHKAN EPIDEMI FANATISME

Tentang Keberlainan dan Kelainan Dalam (Ber)Agama

Oleh: Vianey Soda Lein

Tenaga Pastoral pada Keuskupan Erfurt – Jerman

Alumnus Philosophisch- Theologische Hochschule SVD St. Augustin, Jerman

 

Paham radikalisme dan intoleransi adalah sebuah persoalan yang kompleks dan diskursus tentangnya tidak hanya berhenti pada tataran agama maupun politik. Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu juga telah merambah masuk ke dalam ruang diskusi dengan mencoba membedah epidemi „kelainan“ beragama seperti terorisme dengan pisau klinisnya, dengan berusaha menempatkan pelaku entah sebagai personal maupun sebagai entitas sosial sebagai bagian dari sebuah proses „menjadi“. Tesis umum yang menjadi postulat dari telaah psikologis adalah: aksi teror seperti bom bunuh diri merupakan gangguan jiwa. Seperti yang kita ketahui, deretan aksi teror dan alur diskusi tentangnya tidak bisa dilepas-pisahkan dari idelogi sebuah agama. Lantas, apakah agama sungguh bisa menjadi terapi kuratif dan konseling prefentiv sebuah fanatisme yang adalah akar dari terorisme?

Merujuk pada kisah Paulus Rasul dalam kekristenan yang bertobat dari seorang fundamentalis, Pichlmeier menguraikan pledoinya, bahwa agama tidak dapat menyembuhkan seorang yang fanatik. Dari kisah Paulus yang adalah seorang intelek atau ahli hukum Taurat kita melihat bahwa agama - apalagi yang radikal - sama sekali tidak menyembuhkan seorang fanatik. Agama justru semakin memelihara subur benih-benih fanatisme dan radikalisme. (Andrea Pichlmeier, „Gott und der Fanatiker“: 2018). Sebelum pertobatannya, Paulus – sebelumya bernama Saulus – setelah mendapat perintah dari imam kepala, mengejar dan membunuh para pengikut Kristus.

Sudah pasti bahwa semua kita mengamini dan membela kebenaran ini, bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan pembunuhan terhadap kelompok agama atau aliran kepercayaan lain. Karena itu, fanatisme agama yang merupakan buah dari dogmatisme sempit dan dangkal adalah deformasi agama yang paling sesat dan fatal, sebuah „kelainan“ dalam iman yang semestinya menjunjung tinggih nilai-nilai kebajikan seperti cinta kasih, kedamaian dan penguasaan diri. Tentang hal ini, pendiri agama Bahaitum (sebuah agama monoteis abhrahamik yang bermula di Iran dan kini berkembang di India, Afrika, Amerika Utara dan Selatan), Abdu’l-Baha (Bahāʾullāh: Kemuliaan Allah), pernah mengatakan dalam sebuah pidatonya di Prancis: „Jika agama menggiring kepada antipati, kebencian dan perpecahan, adalah lebih baik jika agama itu tidak ada; dan sikap untuk berpaling darinya adalah sebuah langkah iman yang sungguh benar. Sebab sudah jelas bagi kita, bahwa tujuan dari pengobatan adalah penyembuhan. Namun, jika pengobatan itu semakin memperparah keadaan, jauh lebih baik segera kita tinggalkan“.

Berhadapan dengan epidemi fanatisme yang menular dan ditularkan melalui manipulasi sistematis dari atas mimbar agama dan podium politik, kita dituntut berpikir kritis untuk mengevaluasi setiap doktrin yang disebarkan ke dalam isi kepala. Situasi di mana orang menemukan jalan buntu (seperti dalam lilitan persoalan kemiskinan), doktrin-doktrin fanatisme secara gampang ditularkan; dan kepada anak-anak ideologi itu akan berkembang cepat karena mereka berada dalam fase „mendikte“. Ini merupakan tantangan dan tugas bagi keluarga sebagai basis pendidikan dan sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan formal agar sejak dini menanamkan nilai-nilai toleransi dan menerima keberbedaan. Kultur dialog semestinya ditumbuh-kembangkan tidak hanya di kalangan tokoh agama dan umat dewasa, tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan dasar, seperti kunjungan ke sekolah-sekolah lintas agama atau pertukaran pelajar dan mahasiswa lintas sekolah yang berbasis agama. Dengan demikian mereka tidak terkurung dalam pemikiran dan keyakinan eksklusivisme; dan dalam diri mereka tertanam kesadaran untuk menerima dan menghargai keberbedaan atau „keberlainan“. Ini merupakan langkah prefentiv untuk mencegah menyebarnya fanatisme secara liar dan bebas. Sebagai langkah kuratif, setiap lembaga agama ditantang untuk mengevaluasi kembali visi dan misi atau nilai-nilai kebenaran agama. Agama -  dengan kemajemukan wajahnya - ada untuk kasih dan persatuan, bukan untuk pertengkaran dan permusuhan. Ini merupakan visi mulia dari agama-agama. Selain itu, indeks prestasi sebuah misi agama tidak diukur seberapa banyak penganut yang dimiliki suatu agama atau aliran kepercayaan, melainkan misi kemanusiaan yang diusahakan dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanitas seperti martabat manusia dan hukum cinta kasih. Misi keselamatan yang ditawarkan agama-agama bukanlah sekadar sebuah keselamatan eskatologis semata yang jauh di depan, melainkan keselamatan yang dialami kini dan sini, hic et nunc. Ideologi „mengakhiri kehidupan dalam sebuah aksi teror untuk segera mengalami kenikmatan yang ditawarkan“ adalah contoh kesesatan dalam menghidupi agama: lebih berkutat dengan hal-hal „surgawi“ dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Orientasi kuantitatif akan menjadikan agama sendiri sebagai iklan pasar dan melihat yang lain sebagai lawan saing, bahkan musuh. Bukan mustahil, pintu untuk sebuah perjumpaan atau dialog dengan yang lain pun tertutup.

Perjumpaan langsung dengan „yang lain“ di luar diri dan kelompok (agama) dengan segala „keberlainan“ mereka dapat menjadi resep atau terapi mujarab penyembuhan fanatisme. „Keberlainan“ bukanlah virus atau kuman yang ditakuti dan mesti dibasmi; justru segala keberbedaan dan kemajemukan adalah pil atau vaksin yang menyembuhkan kebutaan fanatisme dan vitamin yang menguatkan „stamina“ persatuan dan persaudaraan. Berkutat hanya pada hukum-hukum agama sendiri dan berusaha sekuat tenaga dan dengan segala cara untuk menarik sebanyak mungkin orang masuk dalam lingkaran kita adalah simptom „kelainan“ dalam beragama dan cepat atau lambat akan menggiring kita kepada „misi kolonial“ atau terorisme. Berhadapan dengan epidemi „radikalisme“ agama yang kian menyebar, setiap kita dituntut dan ditantang untuk berani bangkit berdiri dari kursi sandaran dogmatisme yang kaku dan bergerak keluar menuju ruang-ruang asing keberbedaan, bergerak menuju ruang perjumpaan, bukan untuk mencari mana yang benar dan mana yang salah, melainkan mengakui keberbedaan itu, menerimanya dan menimba makna atau nilai-nilai baru dalam sebuah proses dialog. Mari beriman secara sehat(i): dengan hati dan ratio. ***

Bild: © koufogiorgos.de


16 November 2020

KREUZ - Maria Laach


 Kreuz -  Benediktinerabtei Maria Laach

Prag - Republik Ceko

 

Prag - Republik Ceko

Die Schönheit - Tentang Keindahan


 Die Schönheit der Dinge lebt in der Seele dessen, 

der sie betrachtet.

---

Keindahan itu hidup dalam jiwa mereka yang memandangnya


(David Hume)

DER WEG UND DAS ZIEL - Jalan dan Tujuan Hidup


 Nur wer sein Ziel kennt, findet den Weg

---

Hanya mereka yang mengenal tujuan menemukan Jalan

(Laozi)

ALT-WERDEN - Tentang Usia


Alte Leute sind gefährlich; sie haben keine Angst vor der Zukunft.
---

Orang-orang yang lanjut usia itu berbahaya:
mereka tidak takut akan masa depan

(George Bernard Shaw)