HITAM PUTIH
GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN
Melukis Tuhan
Pada suatu kesempatan mengajar agama Katolik dengan tema "Siapa itu
Tuhan?" di kelas 3 Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Jerman, saya
memberikan tugas kepada murid untuk melukis atau menggambar konsep atau
pemikiran mereka tentang Tuhan. Setelah sekitar 15 menit, saya berjalan
berkeliling melihat proses pengerjaan tugas mereka, seperti yang sering saya
lakukan setiap kali memberikan tugas. Saya kerap memberi apresiasi atas apa
yang sudah dan sedang mereka kerjakan; kadang rasa ingin tahu membuat saya
bertanya, dan sering kali kami sampai pada diskusi tentang tema pengajaran,
bahkan kehidupan pribadi mereka. Tak jarang, mereka juga meminta tanggapan dari
saya atas ide-ide yang mereka tuangkan di atas lembaran tugas.
Sebagian besar murid melukis "Tuhan mereka" dengan gambaran wajah
lonjong, berambut panjang, berjenggot, dan berkumis. Ada pula yang menggambar
malaikat pelindung, lilin atau cahaya, pemandangan, matahari, bulan dan galaksi
bintang, pelangi, roh halus, seorang ibu atau wanita, neraca keadilan, biji
mata yang menatap bumi, tangan yang menyentuh bumi, hingga hati sebagai simbol
cinta.
Di salah satu sudut kelas, tampak Matz (nama disamarkan) yang menopang dagu,
memandang lembaran soal yang masih kosong kecuali namanya yang ia tulis di
pojok kanan atas. Saya menghampiri Matz dan berjongkok di samping kursinya agar
kami bisa berdiskusi tanpa mengganggu teman-temannya. "Pak Lein, memang
boleh kita melukis Tuhan di atas kertas? Di Kitab Suci dibilang bahwa kita
dilarang membuat gambaran tentang atau yang menyerupai Tuhan." Sebelum
saya sempat menjawab, Matz melanjutkan, "Lagi pula, saya belum pernah
bertemu langsung dengan Tuhan, dan menurut saya Tuhan itu tidak ada. Bagaimana
saya bisa melukiskan sesuatu atau seseorang yang saya sendiri tidak kenal atau
belum pernah jumpai?"
Pendidikan Agama dan Katekese

Baru dua minggu lalu, Matz menerima komuni pertamanya di gereja tempat
tinggalnya, dan hari ini dia mempertanyakan Tuhan yang telah disambutnya.
Nomenklatur kurikulum pelajaran agama di sekolah-sekolah Jerman memang tidak
membenarkan indoktrinasi atau penyebaran agama tertentu secara terbuka dan
terstruktur. Bahkan, pelajaran agama merupakan alternatif di samping pelajaran
etika bagi siswa yang tidak dibaptis atau terdaftar dalam konfesi apapun.
Berbeda dengan katekese yang menekankan misi gereja dan proses evangelisasi,
pendidikan agama di sekolah harus memungkinkan siswa untuk berpikir kritis
tentang Tuhan, manusia, dan dunia tanpa memaksa mereka untuk menjadi katolik
atau kristen, serta berperilaku secara bertanggung jawab terhadap diri sendiri,
sesama, juga dengan yang berbeda aliran kepercayaan, dan alam (bdk. Dokumen
Konferensi Para Uskup Jerman tentang "Katekese dan Pendidikan
Agama"). Berbeda dengan mata pelajaran lain, pendidikan agama
mempertanyakan asal dan tujuan hidup, situasi batas, dan makna kehidupan
manusia berdasarkan refleksi tradisi dan sejarah. Pendidikan agama bukanlah
sekadar transfer ilmu atau dogma (indoktrinasi), tetapi harus menuntun siswa
untuk pada akhirnya mengambil keputusan sendiri secara sadar dan bertanggung
jawab atas hidupnya.
Anak Kecil dan Pertanyaan-Pertanyaan Besar
Kembali kepada Matz kecil dengan pertanyaan-pertanyaan besar-nya: Apakah Tuhan
itu sungguh ada? Dan jika Tuhan memang ada, siapakah Dia atau seperti apa
sosoknya? Di mana kita dapat menjumpainya? Pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan
ini juga menjadi refleksi kritis di universitas-universitas dalam karya kajian
ilmiah mahasiswa.
Pada giliran untuk mempresentasikan "gambaran" tentang Tuhan yang
sudah mereka lukis, Matz meletakkan potretnya di lantai. Berbeda dari lukisan
teman-temannya yang berwarna-warni, gambaran Tuhan versi Matz sangat abstrak
dalam balutan hitam-putih. "Sketza berwarna putih menggambarkan momen
ketika Tuhan ada; dan coretan hitam adalah saat di mana Tuhan tidak ada dalam
hidup, atau mungkin ada, tapi saya tidak bisa melihat-Nya," jelas Matz
dengan santai, layaknya seorang teolog atau filsuf yang sedang memberikan
kuliah filsafat ketuhanan. Saya lalu meminta teman-temannya memberikan aplaus
atas sketsa dan refleksi teologisnya.
Tuhan yang
Paradoksal
Jauh sebelum Matz, biarawati dari Ordo Benediktin dan Penulis Silja Walter
(1919-2011) juga pernah mendefiniskan Tuhan dalam sebuah sajak tanpa judul.
Silja menulis: "Abwesenheit ist dein Wesen - darin finde ich dich"
(Kealpaan [Ketiadaan] adalah ada-Mu. Dalamnya aku menemukan-Mu). Bagi Silja,
hanya gambaran paradoksal seperti inilah yang dapat menghantar manusia lebih
dekat pada pemahaman tentang Tuhan. "Abwesenheit" - (indonesia:
Ketidakhadiran) dipahaminya dalam penggalan kata "Ab" (=fort) (pergi,
berlalu) dan "Wesenheit"(keberdaaan). Artinya, hanya dalam
"ketidakhadiran-Nya" Tuhan itu (dapat/mesti) ditemukan; dan ini
merupakan suatu usaha manusia untuk mengungkapkan pengalaman mitis-religios
dalam bahasa manusia.
Gambaran
paradoksal ini juga juga ia gurat dalam bait-bait sajak selanjutnya.
Abwesenheit ist
dein Wesen - darin finde ich dich
Die Nägel meiner
Sehnsucht bluten vom Kratzen
an den Eismeeren
der Welt
Verkohlt ist die
Sucht meiner Suche in seiner Kälte
Aber da bist du
darin - seit das
Kind schrie bei den Schafen
und brennst
lichterloh zu mir
„Kuku-kuku
kerinduanku mengucur darah – mencakar lautan es dunia. Hanguslah hasrat
pencaharianku dalam dinginya. Namun di sana Engkau ada sejak sang bayi menangis
di antara domba-domba. Dan kau kobarkan terang-Mu untukku“.
Dalam lirik-lirik
ini, Silja membahasakan hasrat kerinduan (Sehnsucht) sebagai sebuah pencaharian
(Suche), sebagai upaya untuk mengisi kekosangan atau kealpaan/ketidakhadiran
agar dapat mengalaminya secara dekat. Namun tampak pencaharian itu sia-sia: „mencakar-cakar
pada lautan es dunia hanyalah mendatangkan darah pada kuku, dan rindu
pencaharian itu membara hangus dalam dingin“ Seperti yang kita tahu, membara
hangus selalu bersinggungan atau berpaut
pada api, dan bukannya dipicu oleh dingin es. Itu realitas yang dilihat
dan dirasakan penulis sang pengembara, bawa hubungan antara Tuhan dan Manusia
itu begitu dingin. Namun kembara iman sang penulis tiba oada Kristologi
inkarnasi, bahwa Tuhan yang ia sapa dengan „Engaku“ hadir untuk pertama kalinya
ke dunia dalam sosok bayi yang menangis di antara domba-domba. Bayi itulah yang
membawa terang untuk menyinari kerinduan akan pencaharian Tuhan yang hangus
dalam dinginnya lautan es. Dari kata ganti diri orang kedua tunggal yang ia
gunakan, puisi Silja ini juga merupakan sebuah doa yang melengking dari hasrat
pencaharian, keraguan serta pengakuan akan suatu yang pasti. Lukisan manusia
sebagai pengembara dalam pencaharian ini sesungguhnya dia persembahan untuk
saudaranya yang ragu akan Tuhan dan keberadaannya.
Hari ini Matz tidak hanya melihat "hitam-putih" gambar(an) tentang
Tuhan. Ia, teman-temannya, dan saya memandang pancarona lukisan tentang Tuhan. Usaha
mereka untuk melukis gambaran tentang Tuhan bukan sekadar sebuah pergulatan
nalar untuk berpikir ulang tentang gambaran Tuhan yang telah mereka wariskan,
melainkan berusaha untuk menemukan gambar(an) sendiri – milik kepunyaan –
tentang Tuhan.
Pertanyaan
tentang Tuhan telah lama "mengganggu" kesalehan fundamentalis dan
ketulian apatisme yang memandang dunia dan manusia dalam dikotomi
"hitam-putih": baik vs jahat, surga vs neraka, saleh-kudus vs kafir.
Lukisan-lukisan tentang Tuhan di kelas adalah kepingan puzzle yang tidak
sempurna dan belum tuntas; ia membutuhkan kepingan lainnya untuk membentuk
spektrum warna yang lebih luas. Bukan hanya hitam-putih!
Leinefelde, 06.10.2024
Vian Lein
Keterangan Foto: Lukisan anak-anak tentang konsep Ketuhanan mereka di kelas agama saya.