MAAF


MAAF

Julia,
Maafkan aku
Jika sering kuungsikan kata-kata ke ruang-ruang klausur
Dan mereka menyerukan namamu bagai litani di lorong-lorong silentium
Membisikkan kecemasan demi kecemasan pada ruas-ruas kontemplasi

Maafkan aku
Jika bait-bait puisiku sering terdampar di biru matamu
Bersama buih-buih pesan merecik alismu yang terkadang lelah
Menafsir misteri panggilan

Padahal pada setiap larik-larik itu
aku hanya mau bilang:
Ada nafasku bersama angin yang mengibarkan layar setia
Menggiring bidukmu menuju pantai yang kaurindu
Menuju pulau orang-orang bernazar

Maafkan aku ...

Sankt Augustin, 25.06.2018



Comments

Popular posts from this blog

DARI ANATOMI TUBUH KE ANATOMI JIWA - MEMBEDAH LUKA GEREJA

PUISI KELANA

Pater Karel: Sri Sumarah yang Soemarah