Posts

Selamat Malam Indonesia

Image
SELAMAT MALAM INDONESIA Selamat malam Indonesiaku, Engkau yang kini terbujur di lintang kahtulistiwa Kukirimkan salam pada cahaya lilin yang berpendar di jarak malam antara kita Pada lirik lagu yang berbicara di ruang-ruang kesendirian yang terpasung bisu Pada syair doa yang melengking dari jiwa-jiwa hening menengadah Selamat malam Indonesiaku, malam ini kupanggil namamu dari Sabang sampai Merauke Ya, kupanggil namamu di antara hitam cakrawala Di antara derit nyiur-nyiur  yang kian patah oleh badai kepongahan Di kebisingan pasar dan mimbar penuh provokasi Pecah bungkamku di endapan jamrud yang melumut dusta Rintik dukaku di bentang samuderamu berdarah-darah Selamat malam Indonesiaku, kutanya rindu pada rangkul toleransimu kutanya gelisah pada genggam persaudaraan kutanya bangga pada cengkram kebhinekaan Apakah semuanya masih satu meniti jejak-jejak kemerdekaan? Selamat malam Indonesiaku, Malam ini malam penuh kenangan, tentang kita yan...

Cipinang - Kepada BTP

Image
CIPINANG Kepada BTP Di ruas-ruas matamu yang gelap Kupenjarakan rinduku yang disetubuhi Dengan mata tertutup Terkapar di lorong-lorongmu pengap Di langit-langit kepalamu bergemuruh takbir-halleluya Kusarangkan angan-angan purba Lama berkelana akrab dengan angin Merayu mendung di sisa awan Pada gerbang selangkangmu berlumut dusta Kususup saja hingga ke lambungmu membuncit pita Di bau sengat bertahun-tahun meradang Meneguk empedu yang kau pecahkan di tenggorokan mengering Lama menjerit nafsu syawat dikangkang Engkau mendesah puas Banyak yang sudah kau lacur Selepas kau bacakan ayat-ayat mantra di mimbar dan pasar Sementara banyak kekasih tercerai berai Terdampar di pantai nasib yang sendiri-sendiri Dan pemerkosaan ini kian buas di negeri VL

Mendaki Kabut - Kepada Soe Hok Gie

Image
MENDAKI KABUT Kepada Soe Hok Gie Masih tersisa angin nafasmu terengah Mengurai kabut di puncak monas Penuh luka terkelupas Tak lagi biru seperti tulismu dulu Hendak ditumbang hari-hari yang buram Menimpa jalan puncakmu dituju Ach Gie, sekali lagi „masa itu kembali datang“ mencengkram Mengalir di lambung-lambung lapar mendekam Lantas hanya menguyah ayat-ayat suci Dimuntahkan ke wajah-wajah peradaban lalim Pendakian ini lebih kejam dari Semeru Tak ada rimba yang dicumbu, hanya jejak yang terus diburu Tak ada lembah yang ditunduk, hanya sendiri yang memunggung Tak ada sejuk yang dibelai, hanya dendam yang telah mematung Puncak monas masih menjunjung kabut mendung VL

Hidup adalah Mimpi

Image
HIDUP ADALAH MIMPI Julia, Dalam surat terakhirku kemarin aku membahasakan eksistensi manusia sebagai insan perindu: rindu pada apa dan siapa. Sebagai suatu kekuatan yang mencuat dari dalam jiwa, rindu atau kerinduan senantiasa berpautan erat dengan harapan. Dan usaha untuk mendekatkan jarak antara kerinduan „yang kini“ dan harapan „yang akan“ adalah kelana mimpi yang terus menantang. Karena itu kamu benar, bahwa mimpi itu juga menjadi alasan mengapa seseorang hidup dan berjuang. Sesungguhnya kita semua paham soal mimpi, namun terlalu sedikit yang berani untuk bermimpi. Ketika kita lupa untuk bermimpi atau kehilangan cara untuk bermimpi, pada titik itu kita mulai membunuh hidup karena kita sendiri telah mempersempit ruang gerak kehidupan, memasung harapan dalam penjara ketakutan. Apakah kamu masih ingat kisah Ikal dan Arai dalam „Sang Pemimpi“, novel kedua dari trilogi Laskar Pelangi karya Andre Hirata? „Sang Pemimpi“ menantang kita untuk berani bermimpi dan percaya pada kekuat...

Kereta Sembilan Belas

Image
KERETA SEMBILAN BELAS Berjejal merebut kursi di gerbong delapan Di laju kereta sembilan belas Hampir penuh ditumpang gegas Dua jam lagi perjalanan Bertamasya ke ruang matamu yang lebam Menimang malam-malam kelam Sendiri mesti berjaga Karena terkadang jarak berselisih waktu Terlambat tak bisa kau rayu Telah kosong di gerbong kelas bisnis Tinggal iklan-iklan melekat Mungkin pindah ke jalur cepat Hanya kita terus bersungut Pada derit roda yang macet Terseret ke waktu yang lampau Hanya kita yang terus merinding Di jalan-jalan terjal tak dikenal Menelan jarak hingga kekal Bersama alam yang bergetar Digilas rel dari masa ke masa Hingga karatan di rumah tua April 2017 VL Bild-Quelle: http://hfaberblog.blogspot.de/2010/03/wie-geht-die-reise-mit-dem-zug-weiter.html

Siapakah "Kita"?

Image
SIAPAKAH „KITA“ Siapakah yang dimaksudkan dengan „kita“ ketika kita menyebutkan diri sebagai „kita“? Lalu, mengapa segelitintir atau sekolompok orang masuk dalam hitungan „kita“ sementara yang lain tidak? Apa yang menjadi ciri khas „kekitaan“, yang melegitimasi keanggotaan dan yang membedakan kita dengan yang lain? Tanpa sadar, ketika kita menyebut diri sebagai „kita“ yang eksklusif, semakin banyak lahir „mereka-mereka“ yang lain. Menemukan jawaban atas deretan pertanyaan di atas menuntut kita untuk membuat „pembatasan“ yang menjadi definisi (definisi=batasan) „kita“: di mana harus dimulai dan di titik mana harus berakhir. Membuat definisi tentang „kita“ berarti mencari batas-batas ruang pemisah terhadap yang lain. Ketika mengatakan „aku“, sudah hampir pasti benar siapa yang kita maksudkan, di mana „aku“ itu dimulai dan di mana batas akhirnya. Dalam Lobus temporalis belahan otak manusia terdapat suatu wilayah dengan jaringan-jaringan neurologis yang kompleks, yang di dalamya se...

Bogor

BOGOR Tak perlu bersungut hujan yang gemetar Tak usah geram petir yang menghentak Sendengkan telinga pada cetar kaki radikalisme membanjir Kebun raya dan gunung salak Berjaga-jaga di kelam kabut dan arak awan liar Mengepung istana, menjebak republik Kaki garudamu dan kijang-kijang jangan biarkan lumpuh Ditebas kujang rasisme buas memburu Di Bogor kita mesti bertahan dalam gemuruh Dalam badai dan pendar lampu jalan yang kian letih Kita tak boleh lelah menatang pelangi Tak boleh kalah meneguk hujan-hujan yang gigil Menelan angin yang basah VL

Pelacur Ibu Kota

Image
PELACUR IBU KOTA Aku tak tahu Sudah berapa sering aku membayar pelacur-pelacur ibu kota Memuaskan nafsuku lima atau sepuluh menit Saat ereksi mengeras hingga ubun-ubun kepala Terasa panas dan sesak di dada Tak perlu malu Ketika syahwat angkuh menjulang Menutup pandang ke seberang langit Penetrasi liar di setiap selangkang Muntahkan orgasme pada rumput-rumput dikangkang Pelacurku pelacur jalanan Dari pasar loak hingga tempat parkir Dari yang murah hingga yang butuh preman Di lorong-lorong rumah ibadat dan taman Dijual moncong pengkhotbah dan saudagar VL Bild: https://www.news.at/a/registrierkassenpflicht-prostituierte

Catatan untuk Julia

CATATAN UNTUK JULIA Julia, janganlah kau biarkan hatimu membatu apatisme pada tebing-tebing waktu yang keras menantang hidup Lembutkan segala yang kaku memadat, tancap dan patahkan segala yang meruncing di jiwamu Jangan kau tetaskan empedu di lekuk senyummu di saat hidup kian terasa pahit untuk diteguk Mari kita sentuhkan cawan, rayakan cinta dan kebersamaan hingga tetes terakhir mengering di ujung lidah Janganlah dirimu terus dikejutkan, apalagi menjadi pengecut, di tengah hidup penuh misteri hingga engkau terpental oleh spekulasi-spekulasi yang kau bangun sendiri ... ... ...  VL

Agama dan Panggilan untuk Demokrasi

Image
AGAMA DAN PANGGILAN UNTUK DEMOKRASI Tentang Konflik Pembangunan Gereja Sta. Clara – Bekasi Vianey Lein Proyek pembangunan gereja di Indonesia cendrung beriringan dengan debat yang bahkan menyulut konflik kekerasan. Selain sentimen agama dan budaya, terbaca pula rasa „kekhawatiran“ (phobia) yang tidak rasional (yang tak semestinya ada) atas penolakan pembangunan gereja. Proyek pembangunan gereja dilihat sebagai ancaman terhadap indentitas kelompok radikal. Merujuk pada demo yang dilancarkan oleh sejumlah Ormas Islam pada 24 Maret 2017 lalu dan argumen penolakan yang diutarakan, ada beberapa aspek yang dipersoalkan dari proyek pembangunan gereja yang mesti segera diselasaikan. Pertama , dimensi ruang yang mencakup tempat didirikannya gereja (tidak diizinkan mendirikan gereja di dekat pesantren). Rasionalitas berpikir tentu tidak menjebak kita dalam pemikiran sempit, bahwa panitia pembangunan gereja bersama umat setempat mendirikan gereja secara diam-diam sehingga menimbulka...

PADANG SEMI

Image
PADANG SEMI Di tanah ini Angin-angin masih mendekap hujan yang keruh Merangkai tanya gelisah di wajah Kapan tiba di padang luas matahari Musim semi kali ini tanpa kepastian Tersesat di gugur-gugur daun Terpental pada semua yang membatu Terkubur antara segala yang membeku Sendiri melangkahi musim yang entah Menghitung waktu dan jarak untuk bertemu Hanya nelangsa kembang di tepi jalan berbatu Merunduk pada aku yang keruh Di padangmu aku hendak bertandang Memetik ranum di dadamu Menggoyang mentari di batinmu Mengintip serentang pelangi di mahkotamu Lama aku merantau dari padang ke padang Terpelanting dalam kawah-kawah kesendirian Terseret di atas lumpur dan rerumputan Yang menghamba di kaki peradaban Engkau, kuncup nasib yang kurindu berapa lama lagi kau kutempuh kudekap dalam rindu kuyup, kutimang hingga mentari redup Napoleonstein - Jena 16 April 2017 Bild-Quelle: http://www.trekkingmagazin.com/reisen-touren/sonsti...

MERINDUKAN SEORANG …

Image
MERINDUKAN SEORANG … Julia, Eksistensi kemanusiaan kita yang tidak sempurna tidak hanya mengartikan kerapuhan kita sebagai insan yang juga jatuh dalam jurang dosa; tidak juga hanya menunjukkan kelemahan atau mungkin sisi negatif dari gambaran seorang manusia. Ketidaksempurnaan adanya kita di dalam Planet Bumi ini sesungguhnya telah menciptakan suatu „ruang kosong“ yang tak terisi, yang hilang dari kehidupan. Dan kerinduan akan seseorang atau sesuatu apa yang hilang itu turut menegaskan adanya „ruang kosong“ dalam diri dan kehidupan. Maka tidak heran, jika kerinduan itu terkadang dibahasakan seperti luka yang menganga dalam diri, menyayat selaput-selaput jiwa. Kerinduan bukanlah „ingin“ yang merayu, bukan hasrat nafsu yang menggoda. Kerinduan adalah luka. Luka itu mesti disembuhkan agar daging-tubuh itu menjadi satu kesatuan utuh. Dan luka-luka kerinduan itu senantiasa dipanggang di atas bara harapan yang membakar animo kita untuk terus berjuang dan bertahan dalam hidup. Oleh ...

TAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BAHAGIA

Image
TAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BAHAGIA   Julia, Menerawang kembali tapak-tapak ziarah kehidupan yang telah kau tinggalkan pada dinding waktu lampau sembari mengingat dan menghitung-hitung narasi kebahagiaan yang telah tercatat pada helai- helai hari hidupmu, menghantarmu pada suatu keyakinan: „Tak ada alasan untuk tidak bahagia dalam hidup“. Keyakinan bahwa „Tak ada alasan untuk tidak bahagia“ ini juga memberiku kesadaran, bahwa kebahagiaan itu bukan sekedar keinginan tetapi lebih sebagai sebuah kebutuhan . Frase „tak ada alasan“ menyiratkan bahasa kerinduan pada apa yang semestinya ada pada hidup dan kehidupan. Terkadang kita lebih memfokuskan diri dan menghabiskan waktu dan tenaga untuk idealisme yang selalu kelaparan serta mengejar impian-impian prestasi dan prestise hingga lupa untuk bahagia. Ketika kamu tak lagi punya alasan untuk bahagia, di saat itu pula kamu kehilangan alasan untuk bersyukur atas apa yang telah kamu peroleh. Sudah begitu banyak momen kebahagiaan ya...

KEBAHAGIAAN

Image
TENTANG KEBAHAGIAAN Julia, Pertanyaan tentang definisi kebahagiaan dan arti kesempurnaan yang pernah kita diskusikan masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan baru. Lalu, kebahagiaan seperti apa, yang sesungguhnya menjadi hakikat pencaharianmu? Apakah kamu telah meraih kebahagiaan yang kamu impikan itu? Momen atau peristiwa apa yang paling membahagiakan dalam hidupmu? Apakah itu pengalaman ciuman pertama yang membakar asmara cinta di jiwamu? Atau mungkin sebuah pertemuan kembali yang tak terduga dengan orang yang telah sekian tahun hilang dari peredan hidupmu, atau kelahiran ciptaan baru dalam lingkaran keluarga? Aku sendiri hanya bisa menebak. Tapi satu hal yang aku yakini pasti adalah, bahwa momen-momen atau potongan cerita bahagia yang kita alami senantiasa terjadi dalam pengalaman keterlibatan dengan yang lain, entah itu keluarga, sahabat atau kenalan. Dan itulah hakikat hidup manusia yang tak bisa kita sangkal sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang filsuf fenomenologi dan ek...

PASAR KOMODITI DI NTT: FREE TRADE VS FAIR TRADE

PASAR KOMODITI DI NTT: FREE TRADE VS FAIR TRADE Catatan Sambung atas Opini Willem Openg Vian Lein Anak Petani Desa Mokantarak – Flotim Willem W. Openg dalam opininya „Pak Bupati, Lahan Kering dan Kesejahteraan“ (PK Senin 27/2/2017)   menantang pemerintah di setiap Kabupaten dan seluruh warga NTT untuk mengusahakan pertanian lahan kering. Usaha garam di Sabu Raijua, perkebunan jagung di Malaka, kacang dan tebu di Sumba, jambu mete di Flores Timur dan kopi di Manggarai, Ngada dan Nagekeo adalah contoh pemanfaatan lahan kering yang diangkat Openg dalam tulisannya. Saya, dan tentu juga penulis Willem Openg, berharap agar pemerintah pro aktif dalam usaha pengolahan lahan kering dan agar masyarakat dibangungkan dari mimpi untuk mencari „emas“ di tanah rantau serta termotivasi untuk mengolah lahan-lahan tidur. Tulisan ini merupakan catatan sambung atas opini Willem Openg. Pada awal semester musim dingin lalu, pihak kampus tempat saya kuliah mengadakan kampanye „Fairtrade“ ...

Politik antara Caritas dan Cupiditas

Image
Politik antara Caritas dan Cupiditas Vianey Lein Alumni Philosophisch- theologische Hochschule SVD St. Augustin - Jerman Laura de Weck, penulis dan sutradara asal Swiss, dalam sebuah karyanya mengemas secara metaforis relasi (cinta) antara negara (yang diberinya label maskulin) dan rakyat (feminin). Dalam sebuah adegan dialog ia mencampuradukan ruang terbuka untuk umum dengan ruang intim, seperti kuota kaum perempuan dan gender didiskusikan dalam kamar tidur. Suatu ketika negara dan rakyat mesti menjalani terapi khusus untuk pasangan karena akurasi hubungan mereka terancam rusak oleh hilangnya rasa percaya satu sama lain (Laura de Weck: Politik und Liebe machen: 2016). Filsuf Hannah Arendt yang pernah menjalin relasi cinta dengan dosennya, Martin Heidegger, meyakini, bahwa „politik adalah kasih yang diwujud-nyatakan kepada dunia“. Nukilan singkat ini bagi kita mungkin lebih merupakan sebuah cita-cita atau idealisme bahkan terkesan paradoksal ketimbang sebagai konklus...