Posts

DEMOKRASI: ANTARA OTONOMI RAKYAT DAN HASRAT PENGUASA

DEMOKRASI: ANTARA OTONOMI RAKYAT DAN HASRAT PENGUASA Vian Lein, Warga Desa Mokantarak-Flotim Tinggal di Jerman Homeros (700 SM), salah satu penyair ternama Yunani Kuno, pernah menggunakan metafor „gembala“ dan „ternak“ (domba) untuk melukiskan karakter relasi antara rakyat dan negarawan (penguasa). Ia juga menyebut Raja Agammenon, pemimpin pasukan dalam perang Troya sebagai poimén , gembala domba (Heitsch, Ernst dan Müller, C.W., Platon Werke. Minos : 2009, 167). Sementara itu Aristoteles membandingkan sosok seorang raja dengan nomeús , gembala (Etika Nikomakea 1161, 10ff). Kata atau sosok ‚gembala‘ menghadirkan kesan dan pesan ‚yang memberi perhatian‘, ‚yang menuntun‘. Lalu, mengapa rakyat dimetaforakan sebagai „domba“ yang membutuhkan kehadiran seorang gembala? Bagaimana sesungguhnya peran „gembala“ itu dimainkan? Plato sendiri sangsi dan menaruh curiga pada metafor ini dan karena itu memberi argumen yang berseberangan: apakah sang gembala yang menuntun kawanan domba ke...

HIDUP ANTARA DATANG DAN PERGI

Image
HIDUP ANTARA DATANG DAN PERGI Julia, Rotasi kehidupan kita dalam sebuah pemahaman tentang waktu yang siklis adalah sebuah pengulangan fenomena transformatif yang selalu datang kembali sebagaimana yang terlihat pada kosmos; entah itu kita sadari atau tidak. Dan seperti alam, hidup (seyogianya) adalah sebuah proses penciptaan, sebuah siklus perubahan yang mengisyaratkan sekaligus menghubungkan gerak-gerak perubahan atau aksi seperti: kembali/berbalik, beralih, berlalu, kemenjadian, penghancuran dan membangun kembali, hembusan dan tarikan nafas, juga kelahiran dan kematian. Dan siklus perubahan itu adalah sebuah seruan atau „panggilan“ buat kita untuk berkata YA atas hidup dan kehidupan. Julia, Baru saja kamu mengakhiri sebuah episode kehidupan; dan kini hendak membuka lembaran baru yang mungkin belum saatnya kamu ingini. Mungkin kamu merasa seperti didesak untuk meninggalkan apa yang hingga saat ini masih melekat, tidak saja di tapak-tapak peziarahanmu, melainkan juga d...

BLIKOLOLONG: MANUSIA PEMULUNG MENJADI PEMULUNG MANUSIA

Image
BLIKOLOLONG: MANUSIA PEMULUNG MENJADI PEMULUNG MANUSIA Vianey Lein* Belum lama ini Metro TV dalam program talk show nya Kick Andy menampilkan seorang narasumber yang terkenal dengan kesederhanaan hidup namun kisah hidupnya kaya makna dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia adalah Yoseph Orem Blikololong, seorang pemulung asal NTT, sekaligus pendiri sekolah gratis. Televisi CNN Indonesia pun   mengeksplorasi biografi Blikololong dalam program featurenya Heroes. Sosok Blikololong dan kisah hidupnya lantas menjadi viral di media. Jauh sebelum itu, media Kompas pada November 2016 silam juga telah mengulas pria yang telah mendirikan PAUD Peduli Kasih dan SMP Surya Mandala ini. Tulisan ini tidak lagi mengisahkan kembali jalan panjang pengabdian seorang Blikololong dalam dunia pendidikan tetapi merupakan sebuah „pembacaan“ atas kisah hidup yang telah ditulisnya – tidak hanya dengan kata-kata, tetapi lebih dari itu dengan aksi nyata sebuah pelayanan dan pengorbanan. Pemul...

MERAWAT KEJAHATAN DI PENJARA - Prahara Penjara Sang Koruptor

Image
MERAWAT KEJAHATAN DI PENJARA Prahara Penjara Sang Koruptor Vian Lein* Episode Mata Najwa „Pura-pura Penjara“ yang ditayangkan pada Rabu, 25 Juli 2018 menjadi sorotan publik. Tidak hanya menghebohkan, bahwa para narapidana tindak pidana korupsi itu menghuni bilik penjara dengan fasilitas yang boleh dikatakan mewah atau berlebihan – tidak seperti narapidana lainnya – setelah proses transaksi ilegal dengan bayaran yang besar dengan oknum dari pihak Lapas, melainkan juga merupakan jenaka yang menggelikan: ada indikasi bahwa sel yang ditempati Setya Novanto dan Nazaruddin bukanlah sel mereka yang sesungguhnya. Dari video kunjungan eksklusif Najwa ke sel tahanan mereka di Lapas Sukamiskin terlihat ada beberapa kejanggalan yang memperkuat kecurigaan Mata Najwa. Apa yang dilakukan oleh Setya Novanto dan Nazrudin adalah rekayasa. Tuntutan pidana „mendekam dalam sel tahanan“ bukan saja merupakan konsekuensi logis dari sebuah kesalahan/kejahatan (Hegel) sebagaimana prinsip hukum um...

DARI KAMAR KE KAMAR

DARI KAMAR KE KAMAR I Julia, malam itu saat petak-petak tubuh kita dirundung kemarau yang sendiri kita menanak bulir-bulir rindu di tungku asmara Aku memintamu mencicip dari bibirku Dan kita bertukar lapar Lama sudah kita baringkan sepi di pondok tidur sejak aku memilih melaut dan engkau menabur di ladang Kelak bertemu di sungai waktu II Lekas-lekas kita bangunkan sepi karena rindu telah matang dipanggang jarak dan waktu "Kecaplah, tak ada hidangan selain kita yang sendiri-sendiri. Teguklah, tak ada cawan yang diangkat Selain sisa malam yang memabukkan“ VL, Sankt Augustin, 16 Juli 2018

TOBA

Image
TOBA Di danau ini aku belajar memeluk gelombang Digulungnya lembar- lembar rindu yang belum tuntas kau baca Di danau ini aku belajar mencium bibir pantai Ditinggalkan basah pada jantung karang Di danau ini aku belajar memandang jejak-jejak ombak yang silam Diciptanya jarak-jarak tanpa alamat Kepadanya tanganku melambai lesu Di danau ini aku belajar mendengar angin Dihanyutkan nama dan salammu antara buih-buih mencengkeram Di danau ini aku belajar menyusuri wajahmu berpasir Tergores kenangan demi kenangan Di danau ini aku belajar menggaram duka Diiris pisau jarak menembus rusuk-rusuk karang Di danau ini aku belajar menebar jala Yang pernah kita sulam di Simarjarunjung Menabur kembang yang kita tanam di Sapo Juma Tongging Di danau ini aku belajar mencintai badai yang menyimpan tangis Mengerang di dasar rumahmu abadi Mengegenang di jalan samudera menuju sana Menggetarkan batu-batu rindu Melengking ayat-ayat doa yang tercecer di...

MAAF

MAAF Julia, Maafkan aku Jika sering kuungsikan kata-kata ke ruang-ruang klausur Dan mereka menyerukan namamu bagai litani di lorong-lorong silentium Membisikkan kecemasan demi kecemasan pada ruas-ruas kontemplasi Maafkan aku Jika bait-bait puisiku sering terdampar di biru matamu Bersama buih-buih pesan merecik alismu yang terkadang lelah Menafsir misteri panggilan Padahal pada setiap larik-larik itu aku hanya mau bilang: Ada nafasku bersama angin yang mengibarkan layar setia Menggiring bidukmu menuju pantai yang kaurindu Menuju pulau orang-orang bernazar Maafkan aku ... Sankt Augustin, 25.06.2018

WANITA DAN BULANNYA_Kepada Wanitaku

Image
WANITA DAN BULANNYA Kepada Wanitaku Julia, Setiap bulan Kau kurung wajahmu di bilik luka paling intim mengandung bulan yang menyabit-nyabit rahim Membalut kuncup hidup akanan Setiap bulan Kau kunyah perih dengan matamu Seakan rusuk itu baru ditanam dalam-dalam pada tubuhmu Menjadikanmu ibu kehidupan Setiap bulan Kau rawat sakit di atas ranjang ketabahan Memberinya pil setia yang menetes dari jantung Mengobati bulan-bulan terluka Hingga purnama Dan bulan-bulan yang terluka Adalah usia setiamu V. Lein, Sankt Augustin, 18.06.2018 Foto: © Frank Lothar Lange/plainpicture - Zeit Online

MENYEMBUHKAN FANATISME: BELAJAR DARI PAULUS

MENYEMBUHKAN FANATISME: BELAJAR DARI PAULUS Amos Oz – seorang penulis Israel – dalam bukunya „Wie man Fanatiker kuriert“ (Bagaimana menyembuhkan orang fanatik) menyuguhkan sebuah kisah dari Yerusalem – kota yang tidak hanya terkenal dengan keberagaman agama, tetapi juga fanatismenya: Seorang religius duduk dalam sebuah Caffee di pinggiran jalan ketika sosok seorang kakek menghampirinya. Lelaki tua itu mencoba memanfaatkan momen pertemuan itu dengan mengajukan deretan pertanyaan: Siapa yang memiliki iman yang paling benar? Katolik atau Protestan? Kaum Muslim atau Yahudi? „Untuk mengatakan ‚Kebenaran‘ kepadamu, Allah memberikan jawaban: ‚Saya bukanlah religius, dan saya tidak pernah seperti itu. Dan agama bukanlah hal yang menarik untukku“. Paulus, sang misionaris agung dan pemikir, menaruh perhatian yang besar pada agama. Ada yang membaptisnya sebagai fundator kekristenan, namun ada pula yang meragukan, bahwa Paulus juga mengusung agama yang serupa diwartakan Kristus ( Chr...

MENYEMBUHKAN FANATISME

Image
MENYEMBUHKAN FANATISME Vianey Soda Lein Mahasiswa Pascasarjana pada Philosophisch- Theologische Hochschule SVD St. Augustin, Jerman Terorisme dengan modus bom bunuh diri adalah sebuah persoalan kompleks dan diskursus tentangnya tidak lagi berhenti pada tataran politik (militer) maupun agama. Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu juga telah merambah masuk ke dalam ruang diskusi dengan mencoba membedah epidemi terorisme dengan pisau klinisnya, dengan berusaha menempatkan pelaku entah sebagai personal maupun sebagai entitas sosial dalam sebuah proses „menjadi“. Lantas tesis umum yang menjadi postulat dari telaah psikologis adalah: bom bunuh diri merupakan fenomena gangguan jiwa yang dikembang-biakan dalam tubuh fanatisme. Namun tampaknya tinjauan psikologis tentang persoalan fanatisme kurang terdengar echo- nya dalam percaturan gagasan dan penentuan tindakan. Amos Oz (1939), seorang penulis Israel dan yang juga dikenal sebagai ahli fanatisme komparativ ( comprative fana...

ZIARAH

ZIARAH Dengan kaki ingatan kita berjalan ke rumah masa silam Bergandengan pada tangan-tangan mimpi yang masih bermalam Di rongga dada dan lorong-lorong nadi Kita telah membangun jalan-jalan itu Mulai dari pelosok rahim yang batunya adalah sunyi Dari kampung yang halamannya adalah masa kecil kita Dari hutan yang akarnya adalah kata Menuju negeri kekal dalam rindu sembahyang Di pucuk-pucuk pohon ziarah meninggih langit VL_07. Maret 2018  

SEBELUM HARI KE EMPAT PULUH

Image
SEBELUM HARI KE EMPAT PULUH Julia, Minggu kemarin aku mencari wajahmu di deretan bangku jati dan mahoni Di anak-anak tangga dan ubin menuju altar terus kupanggil namamu Aku mencari suaramu di mimbar kayu dan halaman-halaman kitab Merunut jejak-jejak jubahmu yang mewangi di lintas perarakan menuju ruang sempit sakristi Lalu menunggu di kamar pengakuan, tempat paling intim kita: Ketika aku menelanjangi diriku di atas ranjang matamu yang maha luas Berbaring di rahim bibirmu yang selalu siap melahirkan aku kembali di setiap jalan menuju pulang Dan engkau mulai meraba setiap lekak lekuk tubuhku juga punggungku yang merongga kau balut dengan gulungan kitab   Yang kau kunyah dengan secawan anggur paling merah Julia, Bild: Domradio   Aku ingin lagi, dan lagi Sebelum hari ke empat puluh Saat engkau datang membuahi telur yang kutanam di petak-petak tubuh VL_02.03.2018

Setelah Enam Tahun

Image
SETELAH ENAM TAHUN J ulia,  enam tahun sudah kita tak bertemu di musim yang putih-putih Membelai pipimu merah menimang dingin yang berguguguran Mengejar angan yang berkeliaran bersama angin dan hujan Lalu ingin beristirahat di bawah kelopak mata yang menopang beku embun Kini aku bertandang ke ruang matamu Melumat bibirmu hingga luka, ya karena aku adalah musim percintaan  yang mengetuk luka di ambang waktu Merayap ke bukit-bukit dadamu yang bergurun-gurun dalam puasa: „Peluklah aku hingga tiada“ VL_Februari 2018

ABU

Image
ABU Di Rabu yang abu aku mengingat ibu Mencuci periuk dan piring pakai abu Dipungutnya dari tiga tungku di dapur bambu Aku pun tak akan malu Saat semua orang tahu Kalau ada abu di umurku Karena di abu ada tangan ibu Yang telah menjadi monumen di hatiku Membatu dalam batin hingga runtuh waktu Menimbun aku jadi abu Selamat membersih diri dengan abu!!! Gambar: Das Kirchenlexikon_NDR.de VL_Gereja Paroki St. Elisabeth Gera - Thüringen

CIUM AKU SEKALI LAGI

Image
CIUM AKU SEKALI LAGI Julia,  cium aku sekali lagi, seperti mentari yang melahirkan pagi karena nafasmu lebih nikmat dari coklat Merci Cium aku sekali lagi, seperti pertama kali Dengan lidah yang basah meneteskan madu murni Cium aku sekali lagi, dengan jantung paling api Melumat segala luka yang mati Cium aku sekali lagi, dengan peluk hati hati Merangkul wajah cemburu memburu benci Julia … Foto: Wikipedia Ciummu selalu kubawa hingga kini Kukunyah pada mulut puisi Cium aku sekali lagi Hingga mati VL_14. Februari 2018

SULIYONO DAN NAFSUNYA

Image
SULIYONO DAN NAFSUNYA Di Minggu yang kudus, Suliyono datang bagai kecanduan  Ke ruang paling intim rumah Lidwina, tetangganya Meneriakkan libido yang disuntikkan ke ubun-ubun Entah di mana dan sudah berapa lama Ia memelihara bidadari-bidadari di selangkangan  Yang katanya hanya bisa disetubuhi setelah tidur yang panjang Di atas ranjang langit ke tujuh Ketika nurani telah mati karena impotensi Dan hanya kelamin terorisme yang berereksi Dihunuskannya nafsu dari sangkar ideologi Merobek tenunan baju kasih, menebas tali tali toleransi Suliyono terkapar oleh ejakulasi dini Sebelum sempat menjumpai bidadari Akh….Suliyono Bagaimana mungkin kau bersetubuh dengan pedang Karena itu membikin kekasihmu tak pernah tenang Jangan biarkan jiwamu pergi sebelum mati Oleh candu bidadari yang tak punya hati Sarungkanlah pedangmu  Dan bukan nuranimu VL_13 Februari 2018 Foto: news.idntimes.com  

ZIARAH KE RUMAH PURBA

Image
ZIARAH KE RUMAH PURBA Untuk Sareng Orinbao Dengan perut yang masih lapar tentang masalalu Dengan kaki ingatan yang masih meraba mencari jalan pulang Dengan mata ingin yang telah kuberi jendela kata Aku melata di antara rumpun nama-nama suku Di atas jejak-jejak kumal kau wariskan dari kampung Nita Membatu di atas Cabo de Flores, menjelma dalam Nusa dan Nipa Di sana kau kubur segala yang sudah-sudah Bersama manik-manik yang luruh dari tubuh bersisik Dan sarung adat yang membalut anggun Ine Pare – Tonu Wujo  Di sana aku tiba juga: koten rae lera matan, ikung lau lera helut loen(g) reta lero leman(g), iür le lero meseng ulu gheta ledja gedju, eko ghale ledja mele ulun awo par, ikon sale kolep kupetik kembang yang kau tanam  dan kupeluk menjadi diriku jadi cerita untuk yang datang nanti di Nusa Nipa – Nusa Bunga VL_12.02.2018 *Nita: salah satu kampung di Kabupaten Sikka, Maumere Flores, tempat lahir P. Sareng Orinbao, SVD a lias P. Pi...