Posts

ANGIN BULAN JANUARI

Image
ANGIN BULAN JANUARI* Adakah yang lebih geram Selain angin bulan Januari Ditelanjangi bulir-bulir birahinya Kepada pohon-pohon yang meranggas d(g)aunnya Meremas-remas badai di selangkangan Kepada bunga-bunga kampung perawan meliuk-liuk puting (beliung) yang seksi menggusur dalam bagai gasing di kamar-kamar gelap Adakah yang lebih licik Dari angin bulan Januari Ditinggalkannya jejak-jejak puing reruntuhan Tergeletak bisu di atas jalan itu Adakah yang lebih gila Dari angin bulan Januari Melucuti segala topeng penuh luka Melumat bibir bibir berbelit dusta Lari terbirit-birit keluar masuk rumah yang sakit lambungnya Karena pondok-pondok persalinan sudah patah kakinya Menopang lumbung-lumbung yang kemarau Adakah yang lebih nafsu Dari angin bulan Januari Ditidurinya rumah-rumah Dan pohon-pohon di sepanjang jalan? VL_30.01.2018 *bdk. Puisi Sapardi Djoko Damono „Hujan bulan Juni“ Ilustrasi Gambar: Pixabay

ANGIN DAN DAHAN

Image
ANGIN DAN DAHAN Untuk Larantuka Julia,  Hari ini angin mengirim kabar Tentang dahan yang patah Setelah kemarin mereka bertengkar Tentang camar yang mati dipanah „Mengapa engkau tak mengubah  arah anak-anak panah Sebelum mereka menembus sangkar?“, Tanya dahan dengan urat gemetar „Mataku dan mata panah kadang tak searah Dan busur mereka membuncit angin serakah. Lalu, mengapa tak kau sembunyikan camar  di balik rahasia wajah daun dan rambutmu yang belukar?“,  „Semuanya telah ditebas luka, rontok di musim-musim yang membakar,  dan aku pun akan segera digusur setelah lengan-lenganku patah menimang petir dan kakiku tak kuat lagi menopang kemarau yang selalu  bertengger di pucuk-pucuk nasib yang layu sebelum mekar seperti dahulu VL_30.01.2018 Ilustrasi Gambar: Scott's Blog

NIREN DAN CINTA YANG MENDOA

Image
NIREN DAN CINTA YANG MENDOA Niren,   sepotong nama yang selalu menumpuk rindunya di tekuk lutut,  menyimpan rapat-rapat dalam katup tangan cinta yang pernah memanggilnya tak pernah lalai nama „Kopong“ melengking dari bibir mungilnya bersama ayat-ayat mazmur dan bait kidung. Dan „Kopong“ sendiri pun begitu yakin,  bahwa Niren – pujaan hatinya tak pernah alpa untuk itu.   „Buat apa aku harus menipu suara hati, apalagi menipu Dia yang aku percaya penuh, bahwa kita pernah saling mencintai  dan akan selalu mencintai“, begitu sekali Niren mengingatkan „Kopong“.  Bagi Niren, „Kopong“ adalah lirik-lirik doa yang paling dia cintai; karena itu, berdoa adalah caranya ia mencintai „Kopong“. Sebaliknya Niren bagi „Kopong“ adalah puisi terindah dalam hidupnya,  syair yang senantiasa memberi warna baru dalam petualangan imajinatifnya,  sosok yang selalu menginspirasi – bukan hanya dalam lautan puisi,  tapi juga dalam pelayaran hidup den...

BALI DAN KITA

Image
BALI DAN KITA Julia, semalam aku melihatmu di Bali berjalan dengan kaki telanjang dan senyummu yang basah di bibir pantai menetes hingga ke tilam remang  Mengajakku berenang ke laut Bali Tapi kita ragu-ragu Pada ombak yang terus merayu Jejak kita terhapus  Juga wajahmu yang malu-malu Mungkin di sini kita tak harus bertemu Atau juga saling menunggu  Tapi di sini, di hamparan kenangan dan doa-doa yang selalu Julia, K au yang tak habis kucintai, Aku tak ingin kau berlalu Kusembunyikan kau dalam puisi Dan ke Bali aku akan kembali Membacakan bait-bait ini  Kepada ombak, kepada pantai  Kepada mimpi yang membawamu ke sini VL_17.01.2018 Foto: Bali Golden Tour_Kuta Beach

SARAPAN MUSIM DINGIN

Image
SARAPAN MUSIM DINGIN Foto: Jagung Titi_Pictame Julia,  ijinkan aku larutkan wajahmu  dalam secangkir kopi pagi ini juga sehelai jiwamu  ingin kukecap pada sekerat roti Aku tak lagi punya „jagung titi“ Karena tungku telah lama sepi dipadam zaman Dan tembikar warisan itu telah dibawa pergi Di lahan petani telah ditabur benih-benih onani Orgasme politik penuh utopi Sejak itu ibu hanya menanak batu Merebus nasib nasib yang pahit membeku Memanggang sisa-sisa mimpi yang basi  Dan ayah hanya mencangkul matahari Karena hujan terperangkap di lubang tambang penuh benalu Julia, Terima kasih kamu telah membuat pagiku hangat  Ketika sisa-sisa mimpi membuat kopiku terasa dingin dan pahit Semoga aku menjumpai lagi wajahmu di dasar cangkir kopi Di mulut cangkir aku menanti  Dengan bekas bibirmu yang masih melekat VL_17.01.2017 *Jagung titi: makanan khas masyarakat Flores Timur dan Lembata; biasanya dihidangkan saat sa...

LAUT DI SUDUT MATAMU

Image
LAUT DI SUDUT MATAMU Julia,  tak sulit kubayangkan ada laut di sudut matamu ingin sekali aku berlayar ke sana, ke samudera luas di balik selaput jala, meski ombak kian buas dan angin semakin ganas  menghantam jala-jala cinta yang kutebar dari perahu rindu Entah suara apa yang memangilku, melaut ke matamu membiru Mungkin matamu yang senantiasa memandang tanpa batas  Aku tahu, engkau senantiasa memilih tak peduli Menggaram sayat-sayat rindu, tergores di garis pantai jarak  Membungkam ayat-ayat syahdu, menetes dari bibir lupa berkerak Engkau mungkin tak tahu, biduk ini masih berlayar mencari  Menyisir pantai-pantai imaji liar, berserak antara pasir dan   karang Bersyair tentang badai-badai bertempiar, bersajak tentang air dan Padang Julia,  jangan kau sembunyikan laut di balik matamu biarlah ia menjadi pelayaran kita menuju entah  Meski nanti „bero patah pendayong“, yakin di „Ujong Aro“ kita bertemu Meski „hati...

Menanti – Menjemput

Image
Menanti – Menjemput Di alun-alun ini aku datang lagi menjemputmu Dengan rintik-rintik adventus Desember  Mengalir menuju palung jiwa yang adalah sumber Muara yang selalu dirindu untuk bertemu Dan seperti pilar-pilar Engkau menanti tegar Menggendong waktu yang kau kandung sendiri Di rahim purba memadat nyeri Ke kotamu aku datang Dan kepadanya aku pulang Membawa hati yang telanjang VL_Alun-alun Basilika St. Petrus, Roma, Desember 2017

AKU KEPADA ENGKAU

Image
AKU KEPADA ENGKAU Julia, aku masih saja percaya pada angin  pada sungai yang menghanyutkan segala tanya  hingga kini aku tiba pada diam perhentian  mencoba menangkap melodi yang kau getarkan pada awan dengan sepasang bibirmu menawan Di Alpen angin terus mengirim salju Di hilir orang-orang mencari garam  Aku tak ingat: apa yang mesti kubawa nanti malam  Agar matamu tak lagi kelam  Menelan jarak-jarak dituju Dari rumah lahir kukirimkan kau puisi Tentang denting piano dan gesek biola Memantul pada karang dan sungai  Karena kutahu di sana kau ada Tempat kita mencari arti: Barangkali, Aku kepada Engkau adalah tangga nada VL_Salzburg, Desember 2017 Foto: Kota Salzburg (Kota Garam) @Vianey Lein

Circo Massimo

Image
Circo Massimo Foto:  Circo Massimo @Corriere Della Sera Roma Selamat datang para penonton  Di gelanggang bisu Circo Massimo Menatap wajah diri sendiri  Di anak anak tangga yang runtuh  Kita adalah penonton sekaligus pemain Menyeret wajah wajah antara hitam putih Hingga hilang di waktu yang entah Untuk sebentar pamit pergi sendiri sendiri: „Arrivederci“ VL_Circo Massimo-Roma, Desember 2017

Bocca della verità

Image
Bocca della verità Kau letakkan wajahku pada mulut kota  Penuh hati hati Gelisah dibangun, diketam katup mata Di Bocca della verità Kebenaran tak boleh mati  Meski lidah berkali-kali kau cemeti Pada punggung kata tak dusta VL_ Bocca della verità – Roma, Desember 2017

Meng-ada- antara Ruang dan Waktu

Image
Meng-ada- antara Ruang dan Waktu Catatan Akhir Tahun untuk Julia Julia, Detik-detik terakhir di tahun 2017 sebentar lagi akan berlalu menjadi masa lampau dan cerita hidup kita juga akan menjadi kenangan. Sang Waktu beranjak pergi menuju penggalan yang kita cipta, yang lama menuju titik akhir dan yang baru akan segera dimulai. Bersamaan dengan itu dimulai suatu momen permenungan   untuk memandang kembali peristiwa hidup yang telah dilewati (refleksi) serentak merenda harapan untuk masa depan. Lantas apa yang menjadi penting dari aktus „refleksi“ atas apa yang sudah dan akan segera berlalu dan apa yang segera dimulai? Untuk menyelami makna dari setiap pertiwa dan kemudian membahasakannya dalam kata atau kalimat, kita tentu membutuhkan suatu pemahaman tentang „waktu“. Konsep atau pemahaman tentang waktu itu harus melampaui setiap skala mekanistis atau matematis dari detik-detik yang berdetak. Waktu tidak boleh dipenjara dalam objektivikasi yang terukur dalam satuan detik, menit...

JANJI BOLOGNA

JANJI BOLOGNA I Julia,  Ke Bologna aku datang lagi Ingin menjemput gerhana di petang berarak pergi Gerhana yang kau sembunyikan di jarak hati Berkelana dalam kerak jiwa mengendap sepi Di Bologna engkau menanti pasti Menggendong waktu yang kau kandung sendiri Di rahim rindumu paling agung Meski musim kadang mendua arti Julia,  kita tak pernah ingin berjalan saling memunggungi menyeret ilusi yang meruang di kepala mengakrabi harap yang mewaktu di detar nadi masing-masing kita telah menjadi separuh rencana  tentang yang ‚sana‘ Mengalir kenang purnama: Di sana kita selalu JANJI BOLOGNA II Bibirmu jatuh di rel Fermata* Digilas kereta yang lalu tiada peduli Kau kujadikan permata  Membias di cawan yang kuteguk dari doa-doa tuli Melukis sudut-sudut bibir dengan ciuman Antara puing-puing peradaban romawi  Dan jarak kita hanya detak jantung menuju abadi Mengecap sekerat cinta dengan lidah gemetar *Fermata: Itali...

LIEDER STEYLER MUSIK APOSTEL

LIDER STEYLER MUSIK APOSTEL

KOLEKSI LAGU PRIVAT

KOLEKSI LAGU PRIVAT_VIAN

BALADA PELAUT

Image
BALADA PELAUT Layarkan mimpi pada angin Hingga tidur terasa asin di buritan dingin Dan laparmu berenang di riak-riak samudera batin Mencari-cari seperti ikan  Tak lagi punya terumbu karang untuk kawin Terkapar di antara angin-gelombang memanggil-manggil Lelah mengeja bintang yang sulit diterjemahkan dengan bibir batil Apalagi di rumah laut yang telah lama degil Cinta akan bidukmu, menenggelamkan raga Menyeberang jarak rindu dari dermaga ke dermaga Karena hidup adalah persinggahan yang sementara Menuju muara tak terkira (!?) Meski pasang-surut kadang tak mesra Hidup tak hanya berlabuh saja di semesta Menebar jala untuk gurita Hingga biduk penuh dusta, karena mata jaring telah menjadi buta Dan aku terkenang pada Guru berseru: „… jadilah penjala manusia“ Yang sabdanya membatu di karang penjuru 01.    August Foto: kireinabilqisty.com

500 TAHUN REFORMASI LUTHER DAN DEMOKRASI

Image
500 TAHUN REFORMASI LUTHER DAN DEMOKRASI* Vianey Lein Mahasiswa Pasca Sarjana Philosophisch- Theologische Hochschule SVD St. Augustin – Jerman Mengingat-mengenang merupakan proses refleksi tentang diri dan dunia dalam pilinan waktu lampau (sejarah atau kenangan), kekinian dan masa akanan. Karena itu aktus mengingat-mengenang bukanlah sekadar arus balik-perjalanan pulang merunut sejarah masa lalu dalam bingkai pengulangan ritual, atau nostalgia yang terbakar rindu atas tumpukan dan deretan cerita yang telah lampau, melainkan sebuah „dialektika berpikir“ kritis dalam pertautan sejarah masa lalu dengan realitas kekinian, hic et nunc, serentak tetap terbuka terhadap harapan futuris. Reformasi Luther Peristiwa historis Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther (1483–1546) akan memasuki 500 Tahun pada 31 Oktober 2017 mendatang. Dalam rangka perayaan lima Abad Jubileum momen bersejerah itu, sejak 31 Oktober 2016 telah diselenggarakan berbagai kegiatan dan aksi. Mengingat-m...

INA WAE

Image
INA WAE Jongkokmu di tepian tiga tungku, masih setia menunggu  Tegakmu di bibir lesung dan tumbuk alu, tegar menghujam sepi bertalu Matamu yang telanjang memungut segala yang sampah di anyam nyiru Dan kau tanak larik-larik doa dalam bejana tanah liat yang rapuh  Ina Wae, kucium bau asap tungku yang purba kudengar koda -mu yang melengking di datar Nuba mencakar-cakar nafasku yang fana  mengeja mei-woran di jauh Sina-Jawa  Kepada Lera Wulan yang empunya Sabda Ina Wae, Ke rahimmu aku ingin pulang, di bawah tudung kewatek  dengan motif tenun   yang lebih puisi  Menyimpan rahasia-rahasia mitis-asali Seperti rindu kita yang berlapis-lapis - tak cukup dianggar belis Ina Wae,  ke kampung jiwa ini kembali ya ke kampung yang sudah tiada halamannya untuk anak-cucu hanya gelisah yang terpahat di bibir lupa yang membisu sembari mencari sisa-sisa nasib di halaman-halaman sajak penuh debu VL 170717 *Ina Wae ...

ERINNERUNGSORTE IM FREMDSPRACHEUNTERRICHT AM BEISPIEL AUSCHWITZ

ERINNERUNGSORTE IM FREMDSPRACHEUNTERRICHT AM BEISPIEL AUSCHWITZ* (Elvin Septiani Sagala) Die menschliche Geschichte ist durch die Erinnerung gekennzeichnet,    die sie mit der Vergangenheit (einem Nicht-mehr) verbindet und ihrem Bewusstsein im Zeitpunkt der Gegenwart (Jetzt) prägt und ihren weiteren Lebensweg in einer Zukunft (einem Späteren oder Noch-nicht) bestimmt. Hier scheint es, dass die Vergangenheit, die Gegenwart und die Zukunft eng verbunden sind. Die Vergangenheit ist nie bloß historisches Faktum sondern fordert die Menschen auf, daran zu arbeiten: wahrnehmen, erkennen, deuten und reflektieren. Das ist ein Prozess der Erinnerung an eine Vergangenheit und dies ist der eine Ausgangspunkt dieser Untersuchung. Am vergangenen 27. Januar 2015 ist international an die Befreiung des Konzentrations- und Vernichtungslager Auschwitz vor 70 Jahren erinnert worden. Zu diesem Jahrestag der Befreiung von Auschwitz fand die NDR-Moderatorin Anja Reschke in ihrem Kommen...