Skip to main content

Posts

NTT: NEGERI TERDAMPAR TANPA-TUJUAN?

  NTT: NEGERI TERDAMPAR TANPA-TUJUAN? Odysseus, raja Ithaka, adalah salah satu saksi kehancuran kota Troya. Ketika armada perang Yunani berlayar pulang setelah perang usai, Odysseus bersama sebagian besar prajurit Yunani terjebak malapetaka: mereka terlempar dalam pengembaraan yang panjang dan tak menentu. Berpuluh tahun lamanya ia berkelana mengarungi samudera yang sering tak bersahabat; arus pelayarannya dibungkam badai, rute yang tertunda, bahkan tersesat oleh kekuatan-kekuatan yang melampaui dirinya. Kapal pelayarannya bukanlah sekadar alat transportasi, tapi tubuh yang menatang rindu, identitas, juga harapan untuk kembali pulang. Petualangan Odysseus bukanlah gerak koordinat lurus. Ia terhenti, tertunda, terpenggal dalam ketidapastian waktu. (Edith Hamilton, Mitologi Yunani, 1942: 189-208).   „NTT Sejahterah“ Foto ini diambil pada liburan tahun kemarin di pantai depan Hotel Sotis, Kupang, NTT. Perahu motor yang bisu mesinnya dan kemudi yang digerogoti garam dan waktu terd...

KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

 KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI Sebuah Catatan Kaki Sambutan Uskup Emeritus Mgr. Frans Kopong Kung pada Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro Uskup Emeritus Frans Kopong Kung pada perayaan tahbisan episkopal Mgr. Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka, sejenak memecah alur perayaan liturgis dan menghadirkan jedah reflektif: "KWI harus menjadi kompas moral. Tetaplah menjadi sauh yang menyentuh dasar laut. Kalau kapal KWI mengalami guncangan, jangan sampai tenggelam." Sambutan Uskup Frans tidak hanya berhenti sebagai peristiwa sesaat dalam arus waktu yang sekilas hadir lalu menghilang. Sudah banyak tulisan dan komentar yang mereflesikan lebih lanjut interupsi reflektif sang Uskup – juga Ketua KWI langsung merespon suara profetis Sang Gembala yang telah menuntun Gereja Keuskupan Larantuka selama kurang lebih 22 tahun. Dalam horison persepsi sebagian umat dan rekan imam, Uskup Frans tidak tampil sebagai figur intelektual dalam arti...

HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN

HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN Melukis Tuhan Pada suatu kesempatan mengajar agama Katolik dengan tema "Siapa itu Tuhan?" di kelas 3 Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Jerman, saya memberikan tugas kepada murid untuk melukis atau menggambar konsep atau pemikiran mereka tentang Tuhan. Setelah sekitar 15 menit, saya berjalan berkeliling melihat proses pengerjaan tugas mereka, seperti yang sering saya lakukan setiap kali memberikan tugas. Saya kerap memberi apresiasi atas apa yang sudah dan sedang mereka kerjakan; kadang rasa ingin tahu membuat saya bertanya, dan sering kali kami sampai pada diskusi tentang tema pengajaran, bahkan kehidupan pribadi mereka. Tak jarang, mereka juga meminta tanggapan dari saya atas ide-ide yang mereka tuangkan di atas lembaran tugas. Sebagian besar murid melukis "Tuhan mereka" dengan gambaran wajah lonjong, berambut panjang, berjenggot, dan berkumis. Ada pula yang menggambar malaikat pelindung, lilin atau cahaya, pemandangan...

SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

  SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA P. Laurensius Woda, SVD, dosen Antropologi pada IFTK Ledalero dan pengasuh museum Bikon Blewut Flores, pernah mengguratkan mimpinya tentang sebuah institut Antropos di Bukit Sandar Matahari Ledalero pada dinding Facebook „Bikon Blewut“. Dalam nada penuh optimisme dia menulis: „ Tahun ini ada 78 mahasiswa/i yg mengikuti ujian tesis dengan penelitian lapangan yg mendalam dan ketat. Semuanya menulis tema2 yg berkaitan isu sosial budaya dalam hubungan dgn ajaran Gereja. Hampir 70% menulis tentang ritus budaya tertentu. Ketika ada yg bilang, 'anthropos tradition is dying out', tapi saya kok malah yakin, 'it is about to bloom'. Yah, dalam nada optimisme bisa kelihatan bahwa tradisi anthropos akan bermekaran lagi ke depannya. Akan tetapi, bukan dari Wina atau Jerman ke seluruh dunia, tapi dari Ledalero ke seluruh dunia.“ Tentu ini sebuah pemikiran yang bagus sebagai langkah awal memulai gebrakan baru untuk t...

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“ Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan Mgr. Hans Monteiro Sebagai pemimpin baru agenda pertama seorang selalu berada dalam sorotan publik. Rasa ingin tahu mengemuka: langkah awal apa yang hendak diambil oleh sang pemimpin: duduk tenang di ruang bera-AC menanti ucapan selamat, atau kesiapan melangkah ke sudut paling terpencil sebuah wilayah yang dipercayakan kepadanya. Langkah pertama seorang pemimpin dapat mendefinisikan ulang seluruh makna tugas tanggung jawab dan tugas pelayanannya. Saya bersyukur bisa menghadiri rangkaian acara tahbisan episkopal Mgr. Hans Menteiro, Uskup terpilih Keuskupan Larantuka, yang dahulu adalah guru saya sewaktu masih di bangku sekolah SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Tulisan ini bukanlah  sebuah catatan nostalgia personal atau sebuah jurnal wisata spiritual pada liburan kemarin di kampung dan di kota Reinha Larantuka, melainkan refleksi atas gestur pastoral - yang menurut saya – sarat makna teologis. Mengawali ...

PRO DEO ET PATRIA (Goresan untuk Almahrum Bpk. Josep Laka Hurint)

  PRO DEO ET PATRIA Goresan untuk Almahrum Bpk. Josep Laka Hurint „No, bagaimana engko lihat Besa (Bapa Besar)? Besa makin kurus toh?“, itu pertanyaan yang ia lontarkan ketika kami videocall beberapa minggu silam. „Besa memang kelihatan makin kurus, tapi wajah dan semangat masih seperti dulu, tidak ada yang berubah“, begitu jawab saya dan disambut gelak tawa kami berdua. Itu pembicaraan terakhir kami sebelum ia berjuang intensiv beberapa minggu terakhir di atas pembaringan melawan sakitnya. Malam tadi, pukul 22:00 waktu Jerman saya menerima telepon dari seorang adik. Dari balik balik telepon ia menyampaikan: „Tata (Kakak), Besa sudah jalan.“ Kami tak lagi bercerita lama; hanya sebentar, lalu pamit. Malam saya pun menjadi jalan panjang kenangan – mengingat momen-momen kenangan tentang dan bersama Bapa Besa Yosep Laka Hurint. Sebgaimana kata Pengkhotbah, hidup ini memang terbatas – untuk apapun di bawah langit ada waktunya – ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati - tetapi ke...

BLICK AUS DEM FENSTER

                                                             F reude                                                              E hrlichkeit                                                                           N atürlichkeit                    ...

Alles beginnt von vorne

 

NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI MYTHOS (Bagian 2)

  NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI  MYTHOS Suatu Renungan atas Cerpen „Baju Natal Buat Sang Cucu“ karya Silvester Hurit Bagian 2:  Inkarnasi Logos dan Reinkarnasi sosio-politis Kelahiran Yesus – meski dalam kelemahan dan keterbatas di kandang hewan – membawa kegembiraan dan harapan karena Ia adalah Mesias yang dinanti-nantikan „untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yan tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang“ (Luk 4,18-19). Lukisan Natal dalam balutan budaya Sumba. Foto ©FB Jack Umbu Warata Warta dan pemaknaan Natal seperti ini sama sekali tak terpikirkan oleh anak kecil seperti Tala . Bahkan untuk kebanyakan orang di kampung Tala „kegembiraan Natal dan berita pembebasan“ masih terdengar sunyi. Yang terpenting adalah „baju baru“ dan „pesta“ pora natal di lingkungan. Makna perayaan Natal telah ...

NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI MYTHOS (Bagian 1)

  NATAL: INKARNASI LOGOS DAN REINKARNASI  MYTHOS Suatu Renungan atas Cerpen „Baju Natal Buat Sang Cucu“ karya Silvester Hurit   Bagian 1:  Inkarnasi Logos dan Rekonsiliasi Manusia – Kosmos Dalam memaknai perayaan Natal tahun 2020 Silvester Hurit menulis sebuah cerpen di mana kisah kelahiran Tuhan Yesus – Isa al Masih, 2000-an tahun silam ditorehkan dalam kehidupan dan pengalaman seorang kakek Ama Tobi dan cucunya Tala ( „Baju Natal Buat Sang Cucu“ , Jawa Pos, 25.12.2020). Dengan plot cerita campuran maju -mundur dan latar waktu masa lampau (sejarah dan mitos) dan masa kini yang disajikan, penulis berusaha memproyeksikan kisah Natal dan perayaannya pada dinding sejarah serta legenda atau cerita mitos dari kampung-kampung di wilayah Lewo Lema. Di sini penulis berhasil merancang sebuah konstruksi „teologi kontekstual“ dengan metode literer, meski ia dalam karyanya tidak menggunakan terminologi teologis-dogmatis seperti inkarnasi logos, teologi inkulturasi, a...

Epidemi Fanatisme: Keberlainan dan Kelainan Dalam (Ber)Agama

  MENYEMBUHKAN EPIDEMI FANATISME Tentang Keberlainan dan Kelainan Dalam (Ber)Agama Oleh: Vianey Soda Lein Tenaga Pastoral pada Keuskupan Erfurt – Jerman Alumnus Philosophisch- Theologische Hochschule SVD St. Augustin, Jerman   Paham radikalisme dan intoleransi adalah sebuah persoalan yang kompleks dan diskursus tentangnya tidak hanya berhenti pada tataran agama maupun politik. Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu juga telah merambah masuk ke dalam ruang diskusi dengan mencoba membedah epidemi „kelainan“ beragama seperti terorisme dengan pisau klinisnya, dengan berusaha menempatkan pelaku entah sebagai personal maupun sebagai entitas sosial sebagai bagian dari sebuah proses „menjadi“. Tesis umum yang menjadi postulat dari telaah psikologis adalah: aksi teror seperti bom bunuh diri merupakan gangguan jiwa. Seperti yang kita ketahui, deretan aksi teror dan alur diskusi tentangnya tidak bisa dilepas-pisahkan dari idelogi sebuah agama. Lantas, apakah agama sungguh bisa ...