DARI ANATOMI TUBUH KE ANATOMI JIWA - Refleksi tentang Panggilan Diakon Romanus Tubo Ola

DARI ANATOMI TUBUH KE ANATOMI JIWA
Refleksi tentang Panggilan Romanus Tubo Ola, Calon Imam Keuskupan Larantuka


Terkadang sebuah „obrolan“ filsafat atau teologis tidak lahir dan terjadi di ruang perpustakaan, di auditorium megah ataupun di gereja. Percakapan-percakapan yang bernas justru kadang muncul di tempat-tempat sederhana seperti warung kopi, di tepi pantai,  ketika lagi jalan santai, atau di rumah makan yang hampir tutup jam bukanya.

Seusai perayaan vesper agung jelang perayaan tahbisan episkopal Mgr, Hans Monteiro, Uskup Larantuka, pada 10 Februar 2026 lalu di Weri, saya dan salah seorang teman mencari rumah makan di seputaran kota Larantuka. Kami tidak termasuk dalam daftar tamu jamuan malam resmi. Maka seperti banyak umat lainnya, kami harus mencari keselamatan sendiri; setidaknya keselamatan untuk perut yang lapar 😉.

Sambil menunggu pesanan, perhatian saya tertuju pada seorang pria di sudut ruangan. Wajahnya terasa akrab. Beberapa kali kami saling melempar pandang dan senyum. Akhirnya saya memberanikan diri menyapa. Ternyata benar. Ia adalah adik kelas semasa di Seminari San Dominggo Hokeng. Perjumpaan ini seperti letusan kecil dalam ingatan. Rasanya seperti lereng Lewotobi yang tiba-tiba memuntahkan material yang selama ini tersimpan jauh di dasar kawah masa lalu. Sapaan singkat itu seketika membuka gapura kenangan yang telah lama tertutup. Nama-nama, wajah dan kisah lama bermunculan. Kami mengenang pohon sawo, kebun tomat, ikan asin, kutu busuk di tempat tidur, para formator dan tenaga pendidik. Segala fragmen kehidupan yang dulu terasa biasa tetapi kini justru menjadi hidangan berharga di meja persahabatan.

Dalam arus nostalgia itu muncul nama seorang adik kelas dan teman: Romanus Tubo Ola. “Roman itu menarik,” kata adik kelas saya. “Dulu ia kuliah kedokteran. Sudah lama di Jakarta. Tetapi kemudian ia memutuskan studi teologi di Ledalero. Tahun depan dia akan ditahbiskan imam.” Saya terdiam sejenak sembari mengingat-ingat wajah Romanus. “O iya, orang Adonara”, ujar saya.

Bagi kebanyakan teman kelas Romanus, baik di Sesado Hokeng dulu, maupun di fakultas kedokteran, juga kebanyakan orang lain, keputusan seperti itu tampak tidak masuk akal. Bukankah masuk fakultas kedokteran merupakan impian yang diperjuangkan mati-matian oleh ribuan anak muda? Bukankah banyak keluarga menjual tanah, meminjam uang, bahkan mempertaruhkan masa depan ekonomi mereka demi membiayai pendidikan seorang calon dokter? Lalu mengapa seseorang meninggalkan jalan yang demikian prestisius? Mengapa seseorang melepaskan profesi yang begitu diminati? Pertanyaan itu terus mengganggu kami.


Dari Penyembuh Tubuh ke Penyembuh Jiwa

Dalam karya pastoral Gereja di Jerman terdapat istilah yang bagi saya begitu menarik: Seelsorger. Secara harfiah istilah ini berarti “pemelihara jiwa” atau “penjaga batin”. Sebutan ini dipakai bukan hanya untuk imam, tetapi juga bagi biarawan-biarawati dan tenaga pastoral awam. Di balik istilah sederhana itu tersembunyi sebuah keyakinan antropologis yang begitu purba: manusia bukan hanya tubuh.

Modernitas telah menghasilkan kemajuan luar biasa dalam ilmu kedokteran. Kita mampu mengganti organ tubuh, memperpanjang harapan hidup, memetakan genom manusia, bahkan mengembangkan kecerdasan buatan untuk membantu diagnosis penyakit. Para mahasiswa kodekteran, termasuk Romanus, mempelajari anatomi tubuh, belajar bagaimana menangani tubuh seorang pasien secara akurat: mulai dari diagnosa penyakit, menulis resep hingga bedah organ tubuh atau transplantasi hati, mendampingi terapi preventif atau proses rehabilitasi agar tubuh manusia kembali dan tetap sehat. Lalu bagaimana dengan urusan kejiwaan? Tentu ada dokter spesialis kejiawaan yang menangani ODGJ. Kita juga memiliki rumah sakit jiwa.

„Urusan kejiwaan“ yang dimaksud di sini bukanlah soal „visi transhumanis“, bahwa kita berusaha dengan segala cara memanfaatkan segala sumber daya (sumber daya manusia seperti tenaga medis maupun finansial atau investasi penelitian medis – termasuk AI) untuk tetap menjaga kesehatan dan menyembuhkan segala penyakit, atau juga agar tetap kelihatan awet muda (anti-aging) atau ingin mengulur kemungkinan jadwal kematian.

Tapi, bagaimana menyembuhkan luka jiwa/batin karena kehilangan seseorang atau kehilangan harapan yang tak dapat dibaca oleh alat rontgen? Tidak ada CT-Scan yang mampu memotret kesepian. Tidak ada MRI yang dapat menunjukkan titik-titik noda rasa bersalah; juga tidak ada laboratorium yang mampu mengukur kadar kehancuran batin seseorang.

Romanus dalam refleksi panggilannya menulis: “Studi kedokteran mengajarkan saya cara menyembuhkan tubuh, sementara panggilan imamat memanggil saya untuk menyembukan jiwa“. Pernyataan ini menarik. Bukan karena ia merendahkan profesi dokter. Sebaliknya: Ia justru mengingatkan kita, bahwa manusia selalu lebih besar daripada tubuhnya. Romanus meyakini, bahwa meskipun tubuh manusia sebagai ciptaan yang serupa dengan gambaran Allah, namun jiwanya dapat terluka. Sebaliknya, seseorang dalam pergulatannya dengan sakit tetap memiliki kedamaian dan pengharapan yang menjadikannya tegak berdiri. Pada titik inilah tugas „penyembuh jiwa“ (Seelsorge) itu dimulai, tapi bukan sebagai konkurensi dengan dunia medis, melainkan dalam ketersalingan.

Hal menarik lain dari linguistik bahasa Jerman adalah kosa kata “HEILUNG” (Kesembuhan [badan]). Dalam kata HEILUNG terdapat akar kata “HEIL” yang berarti keselamatan. Di sinilah tradisi Kristiani membuat pembedaan penting yang sering dilupakan sekularitas modern: kesembuhan tidak selalu identik dengan keselamatan. Dalam sebuah tubuh yang sehat secara lahiriah, seseorang bisa bergulat dengan batin karena sebuah krisis hidup yang menggerogoti. Dalam “paradigma kesembuhan” ini Romanus tidak meninggalkan profesi kedokteran, yang mana tentu disayangkan/disesalkan oleh banyak orang. Ia hanya berpindah ruang praktek dan tetapi berkarya sebagai dokter, sebagaimana kata Yesus: „Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit“ (Lukas 5,31-32).

Lalu siapkah calon pasien Romanus di tempat prakteknya yang baru?


Gereja sebagai Pasien

Institusi Gereja yang setia menggaungkan „Heil“ (Keselamatan) tampaknya juga sedang terluka. Gereja berkotbah lantang tentang kejujuran dan kemurnian hidup, namun secara bersamaan digerogoti skandal korupsi dari dalam, lalu ke kepala dan anggota tubuh gereja dan menghancurkannya. Para imam dan pelayan gereja lainnya giat mewartakan kasih, namum di tempat tertutup memproduksi korban pelecehan. Mereka fasih menyuarakan kebenaran, namun serentak kehilangan kepercayaan dari umat yang mereka layani. Mereka menawarkan pertOBATan, tetapi tidak selalu berani memeriksa dirinya sendiri. Lunturnya kredibilitas moral adalah penyakit akut  dan serius yang sedang meronggoti tubuh gereja. Luka ini mesti dilihat (di-diagnosa) dan disembukan. Mungkin masalah terbesar Gereja bukanlah bahwa ia sedang terluka. Masalah terbesar adalah ketika ia berpura-pura sehat.

Paus Fransiskus sendiri pernah berbicara tentang penyakit  dalam gereja, secara khusus penyakit kuria, seperti : merasa diri kebal secara sitemik dan paling penting sehingga mengelak melakukan check up rutin (Autokritik), penyakit super sibuk (karierisme), keras kepala (petrification), gosip, persaingan fana dan pamer diri, pendewaan pemimpin, kelumpuhan rohani, cuek dan muka asam. Menarik bahwa Paus Fransiskus menggunakan istilah-istilah klinis-medis dalam mengeja barisan penyakit itu. Ia manampilkan diagnosa, menggambarkan simptom-simptom dan menawarkan terapi. Ia berbicara laiknya seorang dokter. Ya, karena memang gereja sedang membutuhan sebuah rumah sakit, bukan untuk orang lain, tetapi pertama-tama untuk dirinya sendiri.

Dengan tahbisan yang ia terima, Romanus akan masuk ke padang luka dan ladang penyakit. Godaan untuk menyembunyikan luka-luka itu bisa jadi ada. Dalam banyak kasus, Gereja tampaknya lebih sibuk menjaga citra – demi nama baik Gereja - daripada menyembuhkan luka. Energi dan waktu sering dicurahkan untuk mempertahankan nama baik institusi, sementara luka yang ditutupi tidak pernah sembuh.

Namun Kabar Gembira Injil tidak mengenal « kesembuhan » (keselamatan) tanpa keberanaran. Seorang dokter ahli bedah menyembuhkan tumor tidak dengan siraman parfum. Ia juga tidak membalut kanker dengan operasi plastik. Ia justur membuka dinding-dinding luka agar tumor itu dapat terlihat secara jelas, lalu memotong jaringan-jaringan sel yang rusak. Kelihatan perih. Namun justru dengan cara demikian, kesembuhan itu menjadi mungkin. Mungkin situasi gereja kita demikian : ia tidak kekurangan « tenaga perkantoran » dan ahli tata kelola yang sibuk memoles tubuh dan wajah gereja agar kelihatan anggun. Yang kurang adalah “ahli bedah spiritual” yang berani membuka luka dan mengatakan apa adanya. Pertanyaan mendasar bukanlah bagaimana kita menjaga wajah (nama baik) gereja, melainkan bagaimana kita menyembuhkan bagian-bagian tubuh yang terluka atau tertular penyakit. Keduanya tidak selalu sama.


Lalu Siapa yang Akan Mendiagnosis Gereja?

IFTK Ledalero pernah menginisiasi sebuah seminar bertajuk « Mendiagnosis Kesehatan Republik Indonesia Pasca Pemilu 2024. Tema itu menarik. Lalu bagaimana dengan kesehatan Gereja? Siapa yang dapat mendiagnosis kesehatan Gereja atau paling tidak memeriksa denyut nadinya di usianya yang sudah sangat tua? Siapa yang akan membaca hasil laboratoriumnya dan jujur untuk mengatakan bahwa ada bagian tubuh yang sedang mengalami infeksi? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir atas dasar kebencian terhadap Gereja. Justru sebaliknya: karena kecintaan umat terhadap Gereja dan mau bersusah payah memikirkan kesembuhannya.


Kita kembali ke rumah makan

Percakapan kami berlangsung begitu lama hingga kami lupa bahwa rumah makan itu sudah semestinya tutup. Ketika hendak membayar, ibu kasir berkata: “Sudah dibayar oleh dua bapak yang tadi duduk di sana.” Kami saling padang lalu tertawa sipu malu campur senang. Kedua bapak itu juga mantan seminaris di pulau Jawa. Mereka juga datang menghadiri rangkaian acara pentahbisan Uskup Hans Monteiro. Rupanya mereka mendengar obrolan kami. Perkenalan kami juga singkat, ketika mereka berpamit pergi.

Malam itu mengajarkan kami, bahwa penyembuhan sering kali dimulai dari hal-hal kecil: Dari kemampuan mendengar, dari perhatian yang tulus, dari tindakan sederhana yang tidak mencari tepuk tangan. Mungkin itulah bentuk „Seelsorge“ yang paling dasar.

Selamat untuk Ama Romanus! 
Dunia memang membutuhkan dokter yang menyembuhkan tubuh. Tetapi Gereja dan umat juga membutuhkan imam yang berani merawat luka batin manusia. Barangkali Tuhan tidak memanggilmu untuk meninggalkan profesi dokter. Ia hanya memperluas ruang praktikmu: Dari tubuh manusia menuju hati manusia. Dari anatomi tubuh ke anatomi jiwa.

Ketika meninggalkan rumah makan malam itu, pikiran kami kembali melayang ke Hokeng dan Lewotobi. Banyak tempat yang dahulu akrab kini berubah rupa. Namun gunung Lewotobi itu mengajarkan sesuatu: tidak semua yang runtuh berarti berakhir. Letusan memang menghancurkan, tetapi sekaligus membuka kemungkinan bagi kehidupan yang baru. Menguak sakit dan penderitaan Gereja sangat mungkin menciptakan guncangan dan luka. Tapi kita mesti tetap berharap untuk sebuah penyembuhan dan kebaikan.

 

Vian Lein

Alumnus Sesado Hokeng 2001-2005

Tenaga Pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman

Comments

Popular posts from this blog

PUISI KELANA

Pater Karel: Sri Sumarah yang Soemarah