SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA
P. Laurensius
Woda, SVD, dosen Antropologi pada IFTK Ledalero dan pengasuh museum Bikon
Blewut Flores, pernah mengguratkan mimpinya tentang sebuah institut Antropos di
Bukit Sandar Matahari Ledalero pada dinding Facebook „Bikon Blewut“. Dalam nada
penuh optimisme dia menulis:
„Tahun ini ada 78 mahasiswa/i yg mengikuti ujian
tesis dengan penelitian lapangan yg mendalam dan ketat. Semuanya menulis tema2
yg berkaitan isu sosial budaya dalam hubungan dgn ajaran Gereja. Hampir 70%
menulis tentang ritus budaya tertentu.
Ketika ada
yg bilang, 'anthropos tradition is dying out', tapi saya kok malah yakin, 'it
is about to bloom'. Yah, dalam
nada optimisme bisa kelihatan bahwa tradisi anthropos akan bermekaran lagi ke
depannya. Akan tetapi, bukan dari Wina atau Jerman ke seluruh dunia, tapi dari
Ledalero ke seluruh dunia.“
Tentu ini sebuah
pemikiran yang bagus sebagai langkah awal memulai gebrakan baru untuk tidak
hanya mempertahankan salah satu matra penting dalam karya misi Serikat Sabda
Allah yang telah dirintis oleh Wilhelm Schmidt, Paul Arndt dan juga Piet Petu
atau Sareng Orinbao (untuk menyebut beberapa nama), tetapi juga mengembangkan
proyek-proyek penelitian dan merefleksikannya dalam konteks dunia kita dewasa
ini.
Di sini saya
tidak ingin mengurai mimpi besar teman kelas Rukhe Woda (Nama Akun FB). Goresan optimisme yang ia letupkan
pada dinding dunia maya memantik tanya pada diri. Jika hampir 70% mahasiswi/a
melebur diri dalam riset tentang budaya lokal, adakah dari yang tersisa 30% mahasiswi/a
mengkiblatkan pemikiran intelektual mereka pada (teologi) pastoral Gereja?
(Tentu kita tidak menafikan, bahwa karya pastoral Gereja hampir pasti beririsan
dan berurusan dengan budaya yang adalah konteks berteologi; dan usaha untuk
menceburkan diri ke dalam budaya setempat adalah bagian dari proses karya
pastoral).
Hampir sebagian besar lulusan IFTK
Ledalero sudah dan akan berkarya dalam ruang lingkup pastoral Gereja, entah
sebagai imam, biarawati, maupun awam (katekis, guru agama, penyuluh agama,
dll).
Jika Laurensius dalam mimpinya
mengenang Institut Antropos Sankt Augustin -
Jerman atau Sankt Gabriel – Austria, saya teringat akan Seri Pastoralia terbitan
Nusa Indah yang tidak hanya membuat kajian teologis dogmatis atau teologi
kontekstual, tetapi juga memberi bingkai pada refleksi pengalaman pastoral
bersama umat.
Bila mengenang kembali masa
perkuliahan di Bukit Leda, saya mendapat kesan, bahwa mata kuliah „Kateketik“ –
yang oleh Dosen Pengasuh P. Bunga Ama Keban, SVD, dibaptis sebagai „payung
segala ilmu“ itu, tidak se-atraktiv mata kuliah lain (mohon koreksi jika keliru
atau ada pengalaman dan kesan lain) seperti Filsafat Ketuhanan-nya P. Leo
Kleden, SVD atau Teologi Sosial-nya Almh. P. John Prior, SVD.
Saya merasa
tertarik ketika Dosen Kateketik berulang kali mempersoalkan perumusan tujuan
proyek kateketis di komunitas basis: antara membangung atau mendirikan;
memajukan atau mengembangkan, dstrnya (bisa ditambahkan 😊).
Di sini sebenarnya dia ingin menegaskan, bahwa suatu tindakan pastoral itu
mesti dimulai dengan pertanyaan dasar „ What“.
Dalam setiap inisitiativ, rencana
atau program pastoral kita mesti mengajukan pertanyaan pertama: Apa yang ingin
saya capai bersama umat (Pertanyaan tentang tujuan). Tujuan-tujuan itu
mesti dirumuskan secara konkret dan kemudian dapat diuji kembali. Tanpa ada
tujuan yang jelas dari seluruh aksi yang akan dibuat, kita seperti kembara
dalam belantara repetisi tradisi: mempertahankan, mengulang atau juga menghilangkan
apa yang sudah diwariskan beratus tahun tanpa ada pemaknaan secara baru. Kita tentu
tahu: berjalan tanpa tujuan dan arah yang jelas adalah sebuah tugas dobel yang
melelahkan.
Di balik pertanyaan “The What”
tersirat visi dari seluruh proses karya pastoral. Pertanyaan selanjutnya
adalah: “The How”: Bagaimana cara untuk mencapai tujuan yang telah dijabarkan.
Pertanyaan “The How” berkaitan dengan metodologi sebagai alat untuk mencapai
visi yang tertuang dalam tujuan-tujuan itu (aksi).
Kita bersyukur bahwa Flores memiliki
Sekolah Tinggi Pastoral seperti STIPAR Ende, STP Reinha Larantuka dan juga IFTK
Ledalero dengan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik. Para mahisiswi/a yang
adalah calon katekis, guru agama dan imam atau pastor paroki mesti ditantang dan
diberi ruang untuk berani menganalisis isu-isu pastoral Gereja dan model
pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Karya pastoral Gereja - mulai dari
rutinitas misa mingguan atau harian, persiapan penerimaan sakramen inisiasi
seperti Permandian, Ekarisiti dan Krisma, pelayanan sakramen lainnya, hingga
struktur Gereja dan persoalan pelecehan seksual di kalangan Gereja - adalah
isu-isu penting dan selalu relevan untuk terus dikaji. Katekese bukanlah soal
transfer nilai-nilai katekismus. Begitu pula dengan pelajaran agama di sekolah
bukan sekadar penguasaan doktrin atau ajaran Gereja tanpa melibatkan peserta
didik untuk berpikir „kritis“ tentang iman, Tuhan dan Ciptaan-Nya sesuai dengan
alam pikir atau konsep “teologi anak-anak” (Teologi “untuk” dan “bersama”
anak-anak). Ketika para mahasiswi/a telah dibekali secara teologis, pastoral
dan dalam kerangka pedadogik agama, maka mereka siap untuk ditempatkan dalam
karya pastoral dan dunia kerja. Dan itu tidak cukup hanya di ruang kuliah. Kesempatan
praktek di lingkungan paroki akan membuka perspektiv mereka tentang cara hidup
iman umat atau persoalan mereka seperti ketidakpuasan dengan kebijakan Gereja
dalam urusan pelayanan sakramen. Paroki-paroki
di Flores, Solor, Adonara dan Lembata dapat berkolaborasi dengan
sekolah-sekolah di atas dalam karya pastoral, seperti persiapan penerimaan
komuni atau krisma, pekan anak muda atau SEKAMI.
Tapi perkara iman dan karya pastoral
bukan hanya sakadar urusan mempersiapkan umat untuk menerima sakramen, bukan
hanya urusan misa mingguan atau doa rosario. Ruang karya pastoral itu
kompleks; juga di Gereja Lokal Nusa Tenggara Timur. Sekolah-sekolah pastoral
dan teologi di dipanggil untuk memulainya berdasarkan prinsip: Sehen (melihat),
Urteilen (menilai/berefleksi) dan Handeln (bertindak). Siapa tahu
nanti di Ledalero tidak hanya ada Institut Antropos, tetapi juga Institut
Pastoral.
Vianey Soda
Lein
Tenaga Pastoral pada Keuskupan Erfurt - Jerman

No comments:
Post a Comment