PENULIS - AUTOR

My photo
Gera, Thüringen, Germany
Pernah Belajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Sekarang Mahasiswa pada Philosophisch-Theologische Hochschule SVD St.Augustin - Jerman

SUARA - KODA

KODA

Pana mai tada lewung, gawé mai tiru tana.
Pana éka sépat lewo, gawé éka sigan tana.

Gelekat tuén Lera Wulan, gewayang golén Tana Ékan.
Beta doré doan-doan, bauk tematan léla-léla.
Nubung nala méi menung, barang nala raa loma.

27 February 2026

SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

 SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

P. Laurensius Woda, SVD, dosen Antropologi pada IFTK Ledalero dan pengasuh museum Bikon Blewut Flores, pernah mengguratkan mimpinya tentang sebuah institut Antropos di Bukit Sandar Matahari Ledalero pada dinding Facebook „Bikon Blewut“. Dalam nada penuh optimisme dia menulis:

Tahun ini ada 78 mahasiswa/i yg mengikuti ujian tesis dengan penelitian lapangan yg mendalam dan ketat. Semuanya menulis tema2 yg berkaitan isu sosial budaya dalam hubungan dgn ajaran Gereja. Hampir 70% menulis tentang ritus budaya tertentu.

Ketika ada yg bilang, 'anthropos tradition is dying out', tapi saya kok malah yakin, 'it is about to bloom'. Yah, dalam nada optimisme bisa kelihatan bahwa tradisi anthropos akan bermekaran lagi ke depannya. Akan tetapi, bukan dari Wina atau Jerman ke seluruh dunia, tapi dari Ledalero ke seluruh dunia.“

Tentu ini sebuah pemikiran yang bagus sebagai langkah awal memulai gebrakan baru untuk tidak hanya mempertahankan salah satu matra penting dalam karya misi Serikat Sabda Allah yang telah dirintis oleh Wilhelm Schmidt, Paul Arndt dan juga Piet Petu atau Sareng Orinbao (untuk menyebut beberapa nama), tetapi juga mengembangkan proyek-proyek penelitian dan merefleksikannya dalam konteks dunia kita dewasa ini.

Di sini saya tidak ingin mengurai mimpi besar teman kelas Rukhe Woda (Nama Akun FB). Goresan optimisme yang ia letupkan pada dinding dunia maya memantik tanya pada diri. Jika hampir 70% mahasiswi/a melebur diri dalam riset tentang budaya lokal, adakah dari yang tersisa 30% mahasiswi/a mengkiblatkan pemikiran intelektual mereka pada (teologi) pastoral Gereja? (Tentu kita tidak menafikan, bahwa karya pastoral Gereja hampir pasti beririsan dan berurusan dengan budaya yang adalah konteks berteologi; dan usaha untuk menceburkan diri ke dalam budaya setempat adalah bagian dari proses karya pastoral).  

Hampir sebagian besar lulusan IFTK Ledalero sudah dan akan berkarya dalam ruang lingkup pastoral Gereja, entah sebagai imam, biarawati, maupun awam (katekis, guru agama, penyuluh agama, dll).

Jika Laurensius dalam mimpinya mengenang Institut Antropos Sankt Augustin -  Jerman atau Sankt Gabriel – Austria, saya teringat akan Seri Pastoralia terbitan Nusa Indah yang tidak hanya membuat kajian teologis dogmatis atau teologi kontekstual, tetapi juga memberi bingkai pada refleksi pengalaman pastoral bersama umat.

Bila mengenang kembali masa perkuliahan di Bukit Leda, saya mendapat kesan, bahwa mata kuliah „Kateketik“ – yang oleh Dosen Pengasuh P. Bunga Ama Keban, SVD, dibaptis sebagai „payung segala ilmu“ itu, tidak se-atraktiv mata kuliah lain (mohon koreksi jika keliru atau ada pengalaman dan kesan lain) seperti Filsafat Ketuhanan-nya P. Leo Kleden, SVD atau Teologi Sosial-nya Almh. P. John Prior, SVD.

Saya merasa tertarik ketika Dosen Kateketik berulang kali mempersoalkan perumusan tujuan proyek kateketis di komunitas basis: antara membangung atau mendirikan; memajukan atau mengembangkan, dstrnya (bisa ditambahkan 😊). Di sini sebenarnya dia ingin menegaskan, bahwa suatu tindakan pastoral itu mesti dimulai dengan pertanyaan dasar „ What“.

Dalam setiap inisitiativ, rencana atau program pastoral kita mesti mengajukan pertanyaan pertama: Apa yang ingin saya capai bersama umat (Pertanyaan tentang tujuan). Tujuan-tujuan itu mesti dirumuskan secara konkret dan kemudian dapat diuji kembali. Tanpa ada tujuan yang jelas dari seluruh aksi yang akan dibuat, kita seperti kembara dalam belantara repetisi tradisi: mempertahankan, mengulang atau juga menghilangkan apa yang sudah diwariskan beratus tahun  tanpa ada pemaknaan secara baru. Kita tentu tahu: berjalan tanpa tujuan dan arah yang jelas adalah sebuah tugas dobel yang melelahkan.

Di balik pertanyaan “The What” tersirat visi dari seluruh proses karya pastoral. Pertanyaan selanjutnya adalah: “The How”: Bagaimana cara untuk mencapai tujuan yang telah dijabarkan. Pertanyaan “The How” berkaitan dengan metodologi sebagai alat untuk mencapai visi yang tertuang dalam tujuan-tujuan itu (aksi).

Kita bersyukur bahwa Flores memiliki Sekolah Tinggi Pastoral seperti STIPAR Ende, STP Reinha Larantuka dan juga IFTK Ledalero dengan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik. Para mahisiswi/a yang adalah calon katekis, guru agama dan imam atau pastor paroki mesti ditantang dan diberi ruang untuk berani menganalisis isu-isu pastoral Gereja dan model pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Karya pastoral Gereja - mulai dari rutinitas misa mingguan atau harian, persiapan penerimaan sakramen inisiasi seperti Permandian, Ekarisiti dan Krisma, pelayanan sakramen lainnya, hingga struktur Gereja dan persoalan pelecehan seksual di kalangan Gereja - adalah isu-isu penting dan selalu relevan untuk terus dikaji. Katekese bukanlah soal transfer nilai-nilai katekismus. Begitu pula dengan pelajaran agama di sekolah bukan sekadar penguasaan doktrin atau ajaran Gereja tanpa melibatkan peserta didik untuk berpikir „kritis“ tentang iman, Tuhan dan Ciptaan-Nya sesuai dengan alam pikir atau konsep “teologi anak-anak” (Teologi “untuk” dan “bersama” anak-anak). Ketika para mahasiswi/a telah dibekali secara teologis, pastoral dan dalam kerangka pedadogik agama, maka mereka siap untuk ditempatkan dalam karya pastoral dan dunia kerja. Dan itu tidak cukup hanya di ruang kuliah. Kesempatan praktek di lingkungan paroki akan membuka perspektiv mereka tentang cara hidup iman umat atau persoalan mereka seperti ketidakpuasan dengan kebijakan Gereja dalam urusan pelayanan sakramen.   Paroki-paroki di Flores, Solor, Adonara dan Lembata dapat berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di atas dalam karya pastoral, seperti persiapan penerimaan komuni atau krisma, pekan anak muda atau SEKAMI.

Tapi perkara iman dan karya pastoral bukan hanya sakadar urusan mempersiapkan umat untuk menerima sakramen, bukan hanya urusan misa mingguan atau doa rosario. Ruang karya pastoral itu kompleks; juga di Gereja Lokal Nusa Tenggara Timur. Sekolah-sekolah pastoral dan teologi di dipanggil untuk memulainya berdasarkan prinsip: Sehen (melihat), Urteilen (menilai/berefleksi) dan Handeln (bertindak). Siapa tahu nanti di Ledalero tidak hanya ada Institut Antropos, tetapi juga Institut Pastoral.

 

Vianey Soda Lein

Tenaga Pastoral pada Keuskupan Erfurt - Jerman

No comments:

Post a Comment