EUFORIA KELULUSAN ATAU LITURGI SEBUAH KEGAGALAN?
EUFORIA
KELULUSAN ATAU LITURGI SEBUAH KEGAGALAN?
Manusia adalah makluk liturgis (homo liturgicus). Ia tak hanya hidup, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menafsir dunia dan dirinya melalui ritus-ritus simbolik. Sejak awal, manusia purba telah menghadirkan ritus untuk memahami realitas. Jauh sebelum adanya sekolah-sekolah dan sistem pendidikan modern, ia berdiri pada dinding-dinding yang asing, lalu memulai untuk melukis. Liang-liang gua dan ceruk batu menjadi halaman pertama diary kehidup
an; dinding-dindingnya merupakan altar perdana perayaan eksistensi; dan warna yang menunggal menjadi madah pagi dari untaian doa tanpa nama.
Manusia purba
homo sapiens tak meninggalkan buku-buku pelajaran, sertifikat maupun ijazah.
Mereka meninggalkan jejak-jejak kehidupan yang adalah bukan sekadar dekorasi
dinding atau reprensatis visual. Jejak-jejak itu mewartakan makna sederhana
namun dalam: „Kami pernah ada di tempat ini. Kami belum mengerti banyak hal,
tetapi kami mencari dan terus mencari“. Warna lukisan itu menjadi media awal
pemaknaan. Dalam pengertian ini, manusi aadalah makhluk yang membentuk dunia
melalui tindakan simbolik dan ritual.
Beberapa hari
belakangan media sosial digital memperlihatkan momen eufori kelulusan
siswa-siswi SMA di Tanah Air, termasuk di Nusa Tenggara Timur: seragam sekolah
dicoret dengan beragai motif dan lukisan, tandatangan dan deretan kata dan
warna. Apa yang sebelumnya adalah putih dan polos selama bertahun-tahun, kini
berubah menjadi kanvas spontan penuh bubuhan lukisan dalam sekejap.
Pada sebuah kesempatan mengajar di salah satu sekolah di Jerman, saya diminta untuk mensharingkan sedikit wajah dan model pendidikan di Tanah Air yang pernah saya alami sendiri. Salah satu hal yang paling menarik perhatian papra guru dan siswa di sekolah itu adalah seragam sekolah. Penilaian kritis dan kekaguman luar biasa datang dari para guru dan murid. Bagi mereka, seragam adalah simbol kesetaraan yang kuat, tanpa merek atau kode status dan hirarki sosial yang tersirat dalam busana. Seragam dipahami sebgai bentuk pembebasan pedagogis dari tirani merek dan status sosial.
Bagi kita orang Indonesia, seragam sekolah bukanlah potongan pakainan semata; ia adalah simbol sosial yang kompleks: Ia adalah simbol pengakuan sekaligus balutan harapan. Ia merukapan tanda „kemuridan“ (disciple: kedisipilan) dan kebersamaan sebagai sebuah komunitas belajar. Bagi banyak keluarga, seragam itu adalah perwujudan keyakinan, bahwa pendidikan kelak dapat mengubah nasib hidup, bahwa pendidikan dapat memutus mata rantai kemiskinan yang panjang. Seragam itu adalah balutan harapan yang ditenun dari pengorban orang tua yang terkadang bungkam dari keluhan dan sepi pujian dan penghargaan. Ia disulam dari benang-benang kalkulasi ekonomi malam hari dan kesabaran panjang di punggung hari, lalu disematkan pada tulang punggung pengharapan dalam satu pesan diam: „Teruslah berjalan meraih mimpimu, tidak boleh seperti kami. Kelak engkau memanggul hidup yang jauh ebih ringan“. Seragam itu tampak anggun di mata kebanggaan melewati hari dan musim, bulan dan tahun, seperti membebaskan dan menyelamatkan,- semacam „sakramen“ pengharapan. Di sini seragam sekolah dapat dipahami sebagai bagian dari „liturgi pendidikan“, sebuah ritual simbolik yang menegaskan arah dan makna proses pendidikan.
Lalu ketika
seragam itu dibubuhi coretan liar, tindakan itu merupakan inversi ritual: dari
liturgi ke anti-liturgi; sebuah ritual yang tidak sepenuhnya dipahami oleh
palkunya sendiri. Ia bukanlah bias sebuah awal seperti pada manusia purba di
dinding-dinding gua. Ia adalah noda sekaligus luka dari awal sebuah akhir. Ia
merupakan remah-remah ritual yang tak dapat diterima dengan akal sehat. Apa
yang kita saksikan hari-hari ini bukanlah sebuah degradasi moral. Ini adalah
lukisan „liturgi kegagalan“: sebuah ritus yang tak merawat mimpi besar
perubahan, tetapi menjadikannya retak. Seragam di sini bukanlah lagi simbol
kebanggaan, melaikan objek yang dikorbankan, tempat di mana kegagalan simbolik
dipentaskan.
Ini bukan hanya
kegagalan para murid, tetapi juga sistem pendidikan, keluarga dan masyarakat.
Mungkin ada banyak penghakiman sunyi di halaman sekolah atau di media sosial,
di percakapan antar orang tua. Tapi jauh lebih penting dari itu adalah
pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya hilang dari pendidikan sehingga
seragam sekolah sebagai simbol tidak lagi dipertahankan maknanya?
Sekolah mesti menjadi ruang bagi para murid tidak hanya untuk mengejar target nilai kelulusan, tetapi ruang yang memungkinan para murid memahami diri dan dunia. Di sana, yang tampak bukan hanya seragam, melainkan kepribadian yang sedang dibentuk. Pendidikan bukanlah sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan relasi dan karakter manusia.
Tokoh pendidikan
Paulo Freire mengingatkan bawah pendidikan dapat menjadi instrumen pembebasan,
tetapi juga bisa menjadi alat domestifikasi. Fenomena mencoret-coret seragam
tampak sebagai ekspresi kegembiraan dan atau sebuah momen pembebasan, (sesuatu
yang ingin segera ditinggalkan/dilepaskan). Mewarnai seragam menjadi gestur
ritual pelepasan diri; sebuah bentuk perlawanan sunyi atau pemberontakan (?).
Ritus ini menjadi ambigu: antara sukacita perayaan atau penghancuran. Oleh
karena itu Freire menekankan bahwa pendididkan mesti menjadi proses dialogis
yang membebaskan manusia melalui kesadaran kritis dan relasional (Freire, 1973:
Pädagogik der Unterdrückten). Ketika dimensi relasional ini alpa di ruang
kelas, pendidikan berubah menjadi proses teknis transmisi pengetahuan yang tak
lagi menyentuk integrasi eksistensil para murid.
Pada akhirnya, dalam euforia kelulusan, banyak orang mungkin lupa, bahwa seragam sekolah itu bukan hanya kain. Bertahun-tahun ia tidak hanya melekat di tubuh, tetapi juga merawat mimpi dan harapan banyak orang. Ia tak hanya membalut tubuh, tetapi juga menyentuh inti terdalam dari mimpi sosial sebuah keluarga. Mungkin banyak orang yang bertanya: Mengapa mereka melakukannya?“ Pertanyaan reflektif penting adalah juga: Apa yang salah dengan pendidikan kita?
Kita menyebutnya
euforia. Kita menamainya pembebasan. Tapi mungkin itu hanyalah nama lain dari
kegagalan (berpikir) yang dipaksa untuk dirayakan.
Vian Lein -
Tenaga Pendidik di Jerman
Ket. Foto: FB Victor
Haning William





Comments
Post a Comment