KWI DI PERSIMPANGAN
OTORITAS DAN ORIENTASI
Sebuah Catatan Kaki Sambutan
Uskup Emeritus Mgr. Frans Kopong Kung pada Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan
Larantuka, Mgr. Hans Monteiro
Uskup Emeritus Frans Kopong Kung
pada perayaan tahbisan episkopal Mgr. Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka,
sejenak memecah alur perayaan liturgis dan menghadirkan jedah reflektif:
"KWI harus menjadi kompas moral. Tetaplah menjadi sauh yang menyentuh
dasar laut. Kalau kapal KWI mengalami guncangan, jangan sampai tenggelam."
Sambutan Uskup Frans tidak hanya
berhenti sebagai peristiwa sesaat dalam arus waktu yang sekilas hadir lalu
menghilang. Sudah banyak tulisan dan komentar yang mereflesikan lebih lanjut
interupsi reflektif sang Uskup – juga Ketua KWI langsung merespon suara
profetis Sang Gembala yang telah menuntun Gereja Keuskupan Larantuka selama
kurang lebih 22 tahun.
Dalam horison persepsi sebagian
umat dan rekan imam, Uskup Frans tidak tampil sebagai figur intelektual dalam
arti akademis, melainkan sebagai gembala yang mengartikulasikan iman dan
imamatnya lewat praksis pastoral. Oleh sebab itu, sebagian orang cenderung
(terlanjur) menempatkan Frans Kopong Kung di luar kategori „intelektual“ dalam
pengertian sempit lalu mengabaikan kedalaman refleksi yang tersembunyi di balik
kesederhanaan bahasa Sang Uskup. Namun dalam momentum bersejarah Gereja
Indonesia Frans Kopong menyuarakan ketegasan yang terang benderang tanpa
kekaburan makna serta kedalaman pastoral tanpa berlindung di balik kerumitan
bahasa. Suara Frans Kopong seperti hadir pada momentum yang menentukan bagi
KWI, sebuah momen kairos bagi Gereja.
Gereja tidak (hanya) hidup dari
Struktur, melainkan nurani yang membentuk kemanusiaan manusia. Pada alur
sejarah Gereja (Indonesia) yang tergoncang kepercayaannya, KWI diharapkan dapat
memberi orientasi bagi umat. Harapan ini berakar kuat pada tradisi Gereja
sebagaimana ditegaskan oleh Karl Rahner, seorang Teolog terkenal Jerman, yang
memahami Gereja bukan semata sebagai sebuah institusi, melainkan sebagai ruang
rohani, di mana tangung jawab dan hati nurani saling terjalin. Dalam horison
pemahaman ini, Konferensi Waligereja tidak dapat berhenti pada fungsi
administratif belaka (verwalten), melainkan dipanggil untuk bersuara,
menafsirkan tanda-tanda zaman, dan menuntun umat di tengah kepercayaan yang
terguncang (Rahner: Schriften zur Theologie 1980: 287). Di sini, interupsi
reflektif Frans Kopong bukanlah sebuah serangan frontal terhadap lembaga KWI
atau menghakiminya, melainkan sebuah seruan pastoral untuk sebuah pembaharuan
dalam tubuh Gereja. Justru dari pengalaman seorang gembala yang telah melayani
selama bertahun-tahun, suaranya memperoleh bobot yang khas: bukan sekadar „asal
omong“, tapi sebuah kesaksian dan kegelisahan.
Kegelisahan dan suara profetis
Frans Kopong ini menunjukkan, bahwa intelektualitas bukan terutama terletak
pada formulasi bahasa akademis yang rumit dipahami umat, melainkan kemampuan
membaca kemendesakan persoalan (tanda-tanda zaman) dan membahasakannya pada
waktu yang tepat secara jujur dan tegas. Dalam situasi kehilangan arah dan
guncangan, justru suara yang kerap diabaikan atau kurang diperhitungkan itulah
yang menjadi kompas penuntun.
Terima Kasih Mgr. Frans! Selamat
Melayani, Mgr. Hans.
Goresan ini hanyalah catatan kaki
yang turut membingkai kesatuan tubuh, spritualitas dan harapan iman umat
Keuskuspan Larantuka di bawah tongkat kegembalaan Mgr. Hans Monteiro; ya
seperti kaki yang turut melangka, mencari arah dan harapan bagi masa depan
Gereja.
Vian Lein
Alumnus Kölner
Hochschule für Katholische Theologie Köln, Jerman dan tenaga pastoral
di Keuskupan Erfurt, Jerman.
Foto: Komsos Keuskupan Larantuka


No comments:
Post a Comment