PENULIS - AUTOR

My photo
Gera, Thüringen, Germany
Pernah Belajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Sekarang Mahasiswa pada Philosophisch-Theologische Hochschule SVD St.Augustin - Jerman

SUARA - KODA

KODA

Pana mai tada lewung, gawé mai tiru tana.
Pana éka sépat lewo, gawé éka sigan tana.

Gelekat tuén Lera Wulan, gewayang golén Tana Ékan.
Beta doré doan-doan, bauk tematan léla-léla.
Nubung nala méi menung, barang nala raa loma.

27 February 2026

KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

 KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

Sebuah Catatan Kaki Sambutan Uskup Emeritus Mgr. Frans Kopong Kung pada Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro

Uskup Emeritus Frans Kopong Kung pada perayaan tahbisan episkopal Mgr. Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka, sejenak memecah alur perayaan liturgis dan menghadirkan jedah reflektif: "KWI harus menjadi kompas moral. Tetaplah menjadi sauh yang menyentuh dasar laut. Kalau kapal KWI mengalami guncangan, jangan sampai tenggelam."

Sambutan Uskup Frans tidak hanya berhenti sebagai peristiwa sesaat dalam arus waktu yang sekilas hadir lalu menghilang. Sudah banyak tulisan dan komentar yang mereflesikan lebih lanjut interupsi reflektif sang Uskup – juga Ketua KWI langsung merespon suara profetis Sang Gembala yang telah menuntun Gereja Keuskupan Larantuka selama kurang lebih 22 tahun.

Dalam horison persepsi sebagian umat dan rekan imam, Uskup Frans tidak tampil sebagai figur intelektual dalam arti akademis, melainkan sebagai gembala yang mengartikulasikan iman dan imamatnya lewat praksis pastoral. Oleh sebab itu, sebagian orang cenderung (terlanjur) menempatkan Frans Kopong Kung di luar kategori „intelektual“ dalam pengertian sempit lalu mengabaikan kedalaman refleksi yang tersembunyi di balik kesederhanaan bahasa Sang Uskup. Namun dalam momentum bersejarah Gereja Indonesia Frans Kopong menyuarakan ketegasan yang terang benderang tanpa kekaburan makna serta kedalaman pastoral tanpa berlindung di balik kerumitan bahasa. Suara Frans Kopong seperti hadir pada momentum yang menentukan bagi KWI, sebuah momen kairos bagi Gereja.

Gereja tidak (hanya) hidup dari Struktur, melainkan nurani yang membentuk kemanusiaan manusia. Pada alur sejarah Gereja (Indonesia) yang tergoncang kepercayaannya, KWI diharapkan dapat memberi orientasi bagi umat. Harapan ini berakar kuat pada tradisi Gereja sebagaimana ditegaskan oleh Karl Rahner, seorang Teolog terkenal Jerman, yang memahami Gereja bukan semata sebagai sebuah institusi, melainkan sebagai ruang rohani, di mana tangung jawab dan hati nurani saling terjalin. Dalam horison pemahaman ini, Konferensi Waligereja tidak dapat berhenti pada fungsi administratif belaka (verwalten), melainkan dipanggil untuk bersuara, menafsirkan tanda-tanda zaman, dan menuntun umat di tengah kepercayaan yang terguncang (Rahner: Schriften zur Theologie 1980: 287). Di sini, interupsi reflektif Frans Kopong bukanlah sebuah serangan frontal terhadap lembaga KWI atau menghakiminya, melainkan sebuah seruan pastoral untuk sebuah pembaharuan dalam tubuh Gereja. Justru dari pengalaman seorang gembala yang telah melayani selama bertahun-tahun, suaranya memperoleh bobot yang khas: bukan sekadar „asal omong“, tapi sebuah kesaksian dan kegelisahan.

Kegelisahan dan suara profetis Frans Kopong ini menunjukkan, bahwa intelektualitas bukan terutama terletak pada formulasi bahasa akademis yang rumit dipahami umat, melainkan kemampuan membaca kemendesakan persoalan (tanda-tanda zaman) dan membahasakannya pada waktu yang tepat secara jujur dan tegas. Dalam situasi kehilangan arah dan guncangan, justru suara yang kerap diabaikan atau kurang diperhitungkan itulah yang menjadi kompas penuntun.

Terima Kasih Mgr. Frans! Selamat Melayani, Mgr. Hans.

Goresan ini hanyalah catatan kaki yang turut membingkai kesatuan tubuh, spritualitas dan harapan iman umat Keuskuspan Larantuka di bawah tongkat kegembalaan Mgr. Hans Monteiro; ya seperti kaki yang turut melangka, mencari arah dan harapan bagi masa depan Gereja.


Vian Lein

Alumnus Kölner Hochschule für Katholische Theologie Köln, Jerman dan tenaga pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman.

Foto: Komsos Keuskupan Larantuka


No comments:

Post a Comment