PENULIS - AUTOR

My photo
Gera, Thüringen, Germany
Pernah Belajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Sekarang Mahasiswa pada Philosophisch-Theologische Hochschule SVD St.Augustin - Jerman

SUARA - KODA

KODA

Pana mai tada lewung, gawé mai tiru tana.
Pana éka sépat lewo, gawé éka sigan tana.

Gelekat tuén Lera Wulan, gewayang golén Tana Ékan.
Beta doré doan-doan, bauk tematan léla-léla.
Nubung nala méi menung, barang nala raa loma.

27 February 2026

HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN

HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN


Melukis Tuhan

Pada suatu kesempatan mengajar agama Katolik dengan tema "Siapa itu Tuhan?" di kelas 3 Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Jerman, saya memberikan tugas kepada murid untuk melukis atau menggambar konsep atau pemikiran mereka tentang Tuhan. Setelah sekitar 15 menit, saya berjalan berkeliling melihat proses pengerjaan tugas mereka, seperti yang sering saya lakukan setiap kali memberikan tugas. Saya kerap memberi apresiasi atas apa yang sudah dan sedang mereka kerjakan; kadang rasa ingin tahu membuat saya bertanya, dan sering kali kami sampai pada diskusi tentang tema pengajaran, bahkan kehidupan pribadi mereka. Tak jarang, mereka juga meminta tanggapan dari saya atas ide-ide yang mereka tuangkan di atas lembaran tugas.

Sebagian besar murid melukis "Tuhan mereka" dengan gambaran wajah lonjong, berambut panjang, berjenggot, dan berkumis. Ada pula yang menggambar malaikat pelindung, lilin atau cahaya, pemandangan, matahari, bulan dan galaksi bintang, pelangi, roh halus, seorang ibu atau wanita, neraca keadilan, biji mata yang menatap bumi, tangan yang menyentuh bumi, hingga hati sebagai simbol cinta.
Di salah satu sudut kelas, tampak Matz (nama disamarkan) yang menopang dagu, memandang lembaran soal yang masih kosong kecuali namanya yang ia tulis di pojok kanan atas. Saya menghampiri Matz dan berjongkok di samping kursinya agar kami bisa berdiskusi tanpa mengganggu teman-temannya. "Pak Lein, memang boleh kita melukis Tuhan di atas kertas? Di Kitab Suci dibilang bahwa kita dilarang membuat gambaran tentang atau yang menyerupai Tuhan." Sebelum saya sempat menjawab, Matz melanjutkan, "Lagi pula, saya belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan, dan menurut saya Tuhan itu tidak ada. Bagaimana saya bisa melukiskan sesuatu atau seseorang yang saya sendiri tidak kenal atau belum pernah jumpai?"

Pendidikan Agama dan Katekese

Baru dua minggu lalu, Matz menerima komuni pertamanya di gereja tempat tinggalnya, dan hari ini dia mempertanyakan Tuhan yang telah disambutnya. Nomenklatur kurikulum pelajaran agama di sekolah-sekolah Jerman memang tidak membenarkan indoktrinasi atau penyebaran agama tertentu secara terbuka dan terstruktur. Bahkan, pelajaran agama merupakan alternatif di samping pelajaran etika bagi siswa yang tidak dibaptis atau terdaftar dalam konfesi apapun. Berbeda dengan katekese yang menekankan misi gereja dan proses evangelisasi, pendidikan agama di sekolah harus memungkinkan siswa untuk berpikir kritis tentang Tuhan, manusia, dan dunia tanpa memaksa mereka untuk menjadi katolik atau kristen, serta berperilaku secara bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, juga dengan yang berbeda aliran kepercayaan, dan alam (bdk. Dokumen Konferensi Para Uskup Jerman tentang "Katekese dan Pendidikan Agama"). Berbeda dengan mata pelajaran lain, pendidikan agama mempertanyakan asal dan tujuan hidup, situasi batas, dan makna kehidupan manusia berdasarkan refleksi tradisi dan sejarah. Pendidikan agama bukanlah sekadar transfer ilmu atau dogma (indoktrinasi), tetapi harus menuntun siswa untuk pada akhirnya mengambil keputusan sendiri secara sadar dan bertanggung jawab atas hidupnya.


Anak Kecil dan Pertanyaan-Pertanyaan Besar

Kembali kepada Matz kecil dengan pertanyaan-pertanyaan besar-nya: Apakah Tuhan itu sungguh ada? Dan jika Tuhan memang ada, siapakah Dia atau seperti apa sosoknya? Di mana kita dapat menjumpainya? Pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan ini juga menjadi refleksi kritis di universitas-universitas dalam karya kajian ilmiah mahasiswa.

Pada giliran untuk mempresentasikan "gambaran" tentang Tuhan yang sudah mereka lukis, Matz meletakkan potretnya di lantai. Berbeda dari lukisan teman-temannya yang berwarna-warni, gambaran Tuhan versi Matz sangat abstrak dalam balutan hitam-putih. "Sketza berwarna putih menggambarkan momen ketika Tuhan ada; dan coretan hitam adalah saat di mana Tuhan tidak ada dalam hidup, atau mungkin ada, tapi saya tidak bisa melihat-Nya," jelas Matz dengan santai, layaknya seorang teolog atau filsuf yang sedang memberikan kuliah filsafat ketuhanan. Saya lalu meminta teman-temannya memberikan aplaus atas sketsa dan refleksi teologisnya.

Tuhan yang Paradoksal

Jauh sebelum Matz, biarawati dari Ordo Benediktin dan Penulis Silja Walter (1919-2011) juga pernah mendefiniskan Tuhan dalam sebuah sajak tanpa judul. Silja menulis: "Abwesenheit ist dein Wesen - darin finde ich dich" (Kealpaan [Ketiadaan] adalah ada-Mu. Dalamnya aku menemukan-Mu). Bagi Silja, hanya gambaran paradoksal seperti inilah yang dapat menghantar manusia lebih dekat pada pemahaman tentang Tuhan. "Abwesenheit" - (indonesia: Ketidakhadiran) dipahaminya dalam penggalan kata "Ab" (=fort) (pergi, berlalu) dan "Wesenheit"(keberdaaan). Artinya, hanya dalam "ketidakhadiran-Nya" Tuhan itu (dapat/mesti) ditemukan; dan ini merupakan suatu usaha manusia untuk mengungkapkan pengalaman mitis-religios dalam bahasa manusia.

Gambaran paradoksal ini juga juga ia gurat dalam bait-bait sajak selanjutnya.

Abwesenheit ist dein Wesen  - darin finde ich dich

Die Nägel meiner Sehnsucht bluten vom Kratzen

an den Eismeeren der Welt

Verkohlt ist die Sucht meiner Suche in seiner Kälte

Aber da bist du

darin - seit das Kind schrie bei den Schafen

und brennst lichterloh zu mir  

„Kuku-kuku kerinduanku mengucur darah – mencakar lautan es dunia. Hanguslah hasrat pencaharianku dalam dinginya. Namun di sana Engkau ada sejak sang bayi menangis di antara domba-domba. Dan kau kobarkan terang-Mu untukku“.

Dalam lirik-lirik ini, Silja membahasakan hasrat kerinduan (Sehnsucht) sebagai sebuah pencaharian (Suche), sebagai upaya untuk mengisi kekosangan atau kealpaan/ketidakhadiran agar dapat mengalaminya secara dekat. Namun tampak pencaharian itu sia-sia: „mencakar-cakar pada lautan es dunia hanyalah mendatangkan darah pada kuku, dan rindu pencaharian itu membara hangus dalam dingin“ Seperti yang kita tahu, membara hangus selalu bersinggungan atau berpaut  pada api, dan bukannya dipicu oleh dingin es. Itu realitas yang dilihat dan dirasakan penulis sang pengembara, bawa hubungan antara Tuhan dan Manusia itu begitu dingin. Namun kembara iman sang penulis tiba oada Kristologi inkarnasi, bahwa Tuhan yang ia sapa dengan „Engaku“ hadir untuk pertama kalinya ke dunia dalam sosok bayi yang menangis di antara domba-domba. Bayi itulah yang membawa terang untuk menyinari kerinduan akan pencaharian Tuhan yang hangus dalam dinginnya lautan es. Dari kata ganti diri orang kedua tunggal yang ia gunakan, puisi Silja ini juga merupakan sebuah doa yang melengking dari hasrat pencaharian, keraguan serta pengakuan akan suatu yang pasti. Lukisan manusia sebagai pengembara dalam pencaharian ini sesungguhnya dia persembahan untuk saudaranya yang ragu akan Tuhan dan keberadaannya.

Hari ini Matz tidak hanya melihat "hitam-putih" gambar(an) tentang Tuhan. Ia, teman-temannya, dan saya memandang pancarona lukisan tentang Tuhan. Usaha mereka untuk melukis gambaran tentang Tuhan bukan sekadar sebuah pergulatan nalar untuk berpikir ulang tentang gambaran Tuhan yang telah mereka wariskan, melainkan berusaha untuk menemukan gambar(an) sendiri – milik kepunyaan – tentang Tuhan.

Pertanyaan tentang Tuhan telah lama "mengganggu" kesalehan fundamentalis dan ketulian apatisme yang memandang dunia dan manusia dalam dikotomi "hitam-putih": baik vs jahat, surga vs neraka, saleh-kudus vs kafir. Lukisan-lukisan tentang Tuhan di kelas adalah kepingan puzzle yang tidak sempurna dan belum tuntas; ia membutuhkan kepingan lainnya untuk membentuk spektrum warna yang lebih luas. Bukan hanya hitam-putih!


Leinefelde, 06.10.2024

Vian Lein

Keterangan Foto: Lukisan anak-anak tentang konsep Ketuhanan mereka di kelas agama saya.

No comments:

Post a Comment