MEDUSA DAN MATA DEMOKRASI

MEDUSA DAN MATA DEMOKRASI

Vian Soda Lein – Warga Indonesia, berdomisili di Jerman.

Alumnus Koelner Hochschule fuer katholische Theologie, Jerman


Dalam mitologi Yunani, Medusa bukan sekadar salah satu gorgon yang mengerikan, melainkan figur paradoksal yang memadukan pesona lahiria dan kutukan eksistensial. Dengan rambut ularnya dan tatapan yang tajam sekaligus memikat, ia dapat mengubah segala yang bergerak menjadi batu, yang hidup menjadi diam atau mati. Juga dalam adaptasi perfilman modern seperti Clash of the Titan atau Percy Jackso & the Olympians: The Lightning Thief, karakter Medusa tetap dipertahankan sebagai kekuatan dan kuasa yang begitu memikat sekaligus mematikan tanpa kompromi atau dialog.

Romano Guardini (1885–1968), seorang teolog sekaligus filsuf aber ke-20, dalam analisis fenomenologisnya tentang kekuasan, memandang kekuasan pertama-tama bukan sebagai konstruksi politik, melainkan sebagai realitas  antropologis, bahwa kekuasaan adalah salah satu cara „meng-ada-„ manusia, yakni kemampuan menggerakan dan menentukan arah realitas. Oleh karena itu ia membedakan empat hal dalam upaya memahami kekuasaan: potestas (kekuasaan)  sebagai kemampuan dasar menggerakan realitas atau mengubah sesuatu), auctoritas (otoritas yang lahir dari pengakuan dan kepercayaan), dominum (dominasi: kekuasaan yang terstruktur dalam dominasi kelembagaan ), dan kekerasan sebagai daya destruktif yang mengabaikan keadilan (J. Greisch: Mächte und Gewalten: 2021; R. Guardini: Die Macht: 1951).

Bild: jdegheest - Pixabay
Konsekuensi logis dari pembedaan ini adalah bahwa, tidak semua kekuasaan adalah legitim, tidak semua otoritas layak dipatuhi, tidak setiap penggunaan kekuasaan  adalah murni dan bersih, dan tidak semua otoritas mendapatkan pengakuan yang penuh, karena kekuasaan itu berwajah ganda: merangkul sekaligus mencerai-beraikan, menciptakan sekaligus menghancurkan. Ketika kekuatan politik tidak lagi berjalan dalam koridor kepercayaan dan integritas moral, melainkan di bawah kontrol logika militeristik dan mekanisme komando yang menggariskan kepatuhan buta, maka kekuasaan itu bermetamorfosis menjadi cangkang kekerasan politik. Bukan mustahil segala manuver kekuasaan diarahkan untuk dapat mengontrol segala ruang kehidupan bersama, termasuk kebebasan pers dan ranah privat kehidupan, sehingga kebebasan individu tetap berada di bawah radar kontrol penguasa. Ia bekerja seperti Medusa yang dapat membekukan segalanya, bahkan meniadakan tanpa perlawanan (Medusa, Yunani: „Penjaga/Pelindung“. Namun „penjagaan“ di sini bersifat paradoksal. Ia bukannya melindungi kebebasan, melainkan membekukannya). Di titik inilah distingsi antara potestas, auctoritas, dominum dan kekerasan menjadi krusial. Ketika kekuasaan kehilangan orientasi etis dan tidak lagi berpijak pada „amanah“ (kepercayaan)  rakyat dalam kerangka demokrasi, logika pemaksaan perlahan menggantikan legitimassi hukum dan fondasi moral.


Kematian Medusa: Strategi Cermin dan Deformasi Kekuasaan

Kemenangan Perseus, Putra Zeus, atas Gorgon Medusa merupakan kemenangan strategis berkat perisai pemantul pemberian Athena dan pedang dari Hermes. Hanya dengan memandang pantulan bayangan di perisai – dengan cara ini Perseus tetap dapat melihat Medusa tanpa harus menjadi batu - dan berkat tuntunan Athena, ia berhasil memenggal kepala Medusa dan menyimpannya dalam kantong (E. Hamiltor, Mitologi Yunani: 2011: 128-130). Strategi Perseus merupakan sebuah subtitusi simbolik: figur dan kekuatan Medusa dialihkan menjadi bumerang untuk menaklukannya kembali.

Namun meski telah terpisah dari tubuhnya, kepala medusa tetap memancarkan daya mematikan atau membekukan. Di sini Medusa menjadi simbol kekuatan destruktif kekuasaan yang tidak benar-benar mati dan otomatis kehilangan daya kerjanya, meski kepala telah terpisah dari badan. Ia hanya berubah bentuk, berpindah medium, dan terus bekerja dalam cara yang lebih sunyi namun efektif: sebuah kepala tanpa tubuh yang terus berkuasa. Ia tidak lagi hadir sebagai struktur tubuh yang utuh dan kasat mata. Pemenggalan atau keterpisahan tubuh dari kepala tidak membunuhnya. Ia bekerja dalam pengawasan mata, tanpa harus menyentuh. Dalam kerangka refleksi Guardini, keterpengggalan Medusa - keadaan „kepala“ (kuasa) yang terpisah dari „struktur tubuh“ - seperti potestas yang terpenggal dari auctoritas. Ia memiliki daya „penggerak“ dan „perubahan“, namun tanpa pengakuan publik dan legitimasi hukum, sehingga cenderung mengarah kepada manipulasi sistematis dan koersivitas yang membekukan (membungkam). Oleh karena itu Guardini mengingatkan akan bahaya penjelmaan politik dan kekuasan menjadi ‚demon‘ yang mengabaikan kesatuan roh, kebebasan dan tanggung jawab. Kekuasaan yang demonis tidak hanya tampak dalam kekuatannya yang menghancurkan, melainkan sebuah proses de-personalisasi (Guardini: Die Macht.Versuch einer Wegweisung: 1951, 107-143): ia kehilangan wajah ke-manusia-annya dan tampil sebagai kekuatan anonim, gorgon yang lepas kendali.

 

Demokrasi dan Tatapan yang Membebaskan

Foto: Harian Fajar

Medusa pada mulanya digambarkan sebagai seorang wanita biasa yang memiliki kecantikan memikat. Namun kisahnya berubah tragis ketika Poseidon (Neptune), penguasa lautan, jatuh cinta padanya hingga menjalin hubungan di kuil suci Athena. Oleh karena amarah Dewi Athena mengutuk Medusa menjadi gorgon yang mengerikan. Sejak itu Medusa tidak hanya menjadi figur terkutuk, tetapi juga simbol paradoks. Ia enggan atau tak sanggup memandang dirinya karena itu merupakan ancaman bagi dirinya sendiri. Titik kelemahan ini lalu dimanfaatkan secara reflektif dalam strategi cermin oleh Perseus.

Banyak politisi enggan merefleksi diri karena terlalu nyaman di puncak kekuasaan tanpa „cermin kritis“, karena bagi mereka itu adalah penelanjangan bobrok diri dan kerapuhan citra yang telah dibangun. Dalam gaya politik „medusa“, demokrasi kehilangan daya pandang rohnya, yakni keberanian untuk mengkritik dan keenggangan untuk dikritik, - dan lebih lagi kehilangan taring auto-kritik. Kekuasaan tidak lagi mampu memandang dirinya sendiri secara jujur, melainkan membeku dalam citra yang ia cipta. Di titik inilah rakyat dipanggil untuk mengambil posisi seperti Perseus yang menghadirkan cermin besar terhadap kekuasaan, tanpa harus takut, bahwa cermin itu pecah oleh karena „buruk rupa“ kekuasaan yang terpantul. Demokrasi tidak dibangun atas ketakutan, melainkan atas kepercayaan dan amanah yang tak pernah boleh alpa dari koreksi dan pertanggungjawaban. Di hadapan kekuasaan yang mengancam demos, rakyat dipanggil menjadi mata yang tidak sekadar melotot, tetapi juga mata yang tidak tunduk atau berpaling: Mata Demokrasi!*

 

Comments

Popular posts from this blog

Pater Karel: Sri Sumarah yang Soemarah

PUISI KELANA

PUSTKA LAMAHOLOT_Kisah Wato Wele-Lia Nurat, dalam Tradisi Puisi Lisan Flores Timur