Posts

FLORES DAN KASIH YANG MENDESAK: Oleh Elvin Sagala

Image
FLORES DAN KASIH YANG MENDESAK Elvin Sagala Saya adalah seorang wanita kelahiran Medan – Sumatera Utara; dilahirkan dan dibesarkan dalam budaya batak. Orang tua saya berasal dari Samosir. Saya merupakan anak sulung dari 4 bersaudara (3 adik wanita). Sejak saya berusia 9 tahun kedua orang tua memilih bercerai. Tentu masa-masa itu merupakan masa sulit   buat kami semua – tidak hanya untuk kedua orang tua tetapi juga kami anak-anak, terlebih adik bungsu yang masih berumur 3 tahun. Berkat keluarga besar di Medan kami semua dapat melewati masa-masa sulit itu. Mimpi Untuk Kuliah Jerman Setelah menamatkan Strata 1 Pendidikan Bahasa Jerman di Universitas Negeri Mendan, saya memutuskan untuk „berhijrah“ ke Jerman sebagai Au-Pair Mädchen. Pendidikan bahasa Jerman selama di Universitas merupakan modal dan motivasi yang mendorong saya untuk datang ke Jerman dengan harapan agar kemudian dapat melanjutkan kuliah di Jerman. Kesulitan finansial merupakan tantangan terbesar dalam...

Larantuka - Flores Timur dan Pencaharian akan Surga Nusa Bunga yang Hilang

Image
LARANTUKA - OSTFLORES UND DIE SUCHE NACH DEM "VERLORENEN BLUMENINSEL" Larantuka - Flores Timur dan Pencaharian akan Surga Nusa Bunga yang Hilang Tim Penyelenggara dalam kerjasama dengan KAFFEEkostBAR dari kiri ke kanan: Igor (Papua), Vian (Mokantarak-Flotim), Niko (Medan -Pendiri Kaffeekostbar, Maria (Ile Ape - Lembata), Ayu (Jakarta), Elvin (Medan) Flores - Nusa Bunga, adalah surga yang tersembunyi sejak para pedagang dari Portugis mencari rempah-rempah di tahun 1600an. Mereka begitu terkesan dengan tanaman yang subur di bagian timur laut Pulau Flores sehingga mereka membaptisnya dengan nama „Cabo de flores“, Tanjung Bunga. Sejak itu pula, Flores menjadi „incaran“ dalam monopoli arus dagang dan kolonialisme. Pada masa itu, di dunia Barat, Flores (dan juga kepualauan rempah-rempah lainnya seperti Maluku)   menjadi tempat yang mitis. Mereka meyakini, bahwa kepulauan di negeri Timur itu terletak dekat Firdaus , di mana penuh dengan rempah-rempah yang harum seme...

DEMOKRASI: ANTARA OTONOMI RAKYAT DAN HASRAT PENGUASA

DEMOKRASI: ANTARA OTONOMI RAKYAT DAN HASRAT PENGUASA Vian Lein, Warga Desa Mokantarak-Flotim Tinggal di Jerman Homeros (700 SM), salah satu penyair ternama Yunani Kuno, pernah menggunakan metafor „gembala“ dan „ternak“ (domba) untuk melukiskan karakter relasi antara rakyat dan negarawan (penguasa). Ia juga menyebut Raja Agammenon, pemimpin pasukan dalam perang Troya sebagai poimén , gembala domba (Heitsch, Ernst dan Müller, C.W., Platon Werke. Minos : 2009, 167). Sementara itu Aristoteles membandingkan sosok seorang raja dengan nomeús , gembala (Etika Nikomakea 1161, 10ff). Kata atau sosok ‚gembala‘ menghadirkan kesan dan pesan ‚yang memberi perhatian‘, ‚yang menuntun‘. Lalu, mengapa rakyat dimetaforakan sebagai „domba“ yang membutuhkan kehadiran seorang gembala? Bagaimana sesungguhnya peran „gembala“ itu dimainkan? Plato sendiri sangsi dan menaruh curiga pada metafor ini dan karena itu memberi argumen yang berseberangan: apakah sang gembala yang menuntun kawanan domba ke...

HIDUP ANTARA DATANG DAN PERGI

Image
HIDUP ANTARA DATANG DAN PERGI Julia, Rotasi kehidupan kita dalam sebuah pemahaman tentang waktu yang siklis adalah sebuah pengulangan fenomena transformatif yang selalu datang kembali sebagaimana yang terlihat pada kosmos; entah itu kita sadari atau tidak. Dan seperti alam, hidup (seyogianya) adalah sebuah proses penciptaan, sebuah siklus perubahan yang mengisyaratkan sekaligus menghubungkan gerak-gerak perubahan atau aksi seperti: kembali/berbalik, beralih, berlalu, kemenjadian, penghancuran dan membangun kembali, hembusan dan tarikan nafas, juga kelahiran dan kematian. Dan siklus perubahan itu adalah sebuah seruan atau „panggilan“ buat kita untuk berkata YA atas hidup dan kehidupan. Julia, Baru saja kamu mengakhiri sebuah episode kehidupan; dan kini hendak membuka lembaran baru yang mungkin belum saatnya kamu ingini. Mungkin kamu merasa seperti didesak untuk meninggalkan apa yang hingga saat ini masih melekat, tidak saja di tapak-tapak peziarahanmu, melainkan juga d...

BLIKOLOLONG: MANUSIA PEMULUNG MENJADI PEMULUNG MANUSIA

Image
BLIKOLOLONG: MANUSIA PEMULUNG MENJADI PEMULUNG MANUSIA Vianey Lein* Belum lama ini Metro TV dalam program talk show nya Kick Andy menampilkan seorang narasumber yang terkenal dengan kesederhanaan hidup namun kisah hidupnya kaya makna dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia adalah Yoseph Orem Blikololong, seorang pemulung asal NTT, sekaligus pendiri sekolah gratis. Televisi CNN Indonesia pun   mengeksplorasi biografi Blikololong dalam program featurenya Heroes. Sosok Blikololong dan kisah hidupnya lantas menjadi viral di media. Jauh sebelum itu, media Kompas pada November 2016 silam juga telah mengulas pria yang telah mendirikan PAUD Peduli Kasih dan SMP Surya Mandala ini. Tulisan ini tidak lagi mengisahkan kembali jalan panjang pengabdian seorang Blikololong dalam dunia pendidikan tetapi merupakan sebuah „pembacaan“ atas kisah hidup yang telah ditulisnya – tidak hanya dengan kata-kata, tetapi lebih dari itu dengan aksi nyata sebuah pelayanan dan pengorbanan. Pemul...

MERAWAT KEJAHATAN DI PENJARA - Prahara Penjara Sang Koruptor

Image
MERAWAT KEJAHATAN DI PENJARA Prahara Penjara Sang Koruptor Vian Lein* Episode Mata Najwa „Pura-pura Penjara“ yang ditayangkan pada Rabu, 25 Juli 2018 menjadi sorotan publik. Tidak hanya menghebohkan, bahwa para narapidana tindak pidana korupsi itu menghuni bilik penjara dengan fasilitas yang boleh dikatakan mewah atau berlebihan – tidak seperti narapidana lainnya – setelah proses transaksi ilegal dengan bayaran yang besar dengan oknum dari pihak Lapas, melainkan juga merupakan jenaka yang menggelikan: ada indikasi bahwa sel yang ditempati Setya Novanto dan Nazaruddin bukanlah sel mereka yang sesungguhnya. Dari video kunjungan eksklusif Najwa ke sel tahanan mereka di Lapas Sukamiskin terlihat ada beberapa kejanggalan yang memperkuat kecurigaan Mata Najwa. Apa yang dilakukan oleh Setya Novanto dan Nazrudin adalah rekayasa. Tuntutan pidana „mendekam dalam sel tahanan“ bukan saja merupakan konsekuensi logis dari sebuah kesalahan/kejahatan (Hegel) sebagaimana prinsip hukum um...

DARI KAMAR KE KAMAR

DARI KAMAR KE KAMAR I Julia, malam itu saat petak-petak tubuh kita dirundung kemarau yang sendiri kita menanak bulir-bulir rindu di tungku asmara Aku memintamu mencicip dari bibirku Dan kita bertukar lapar Lama sudah kita baringkan sepi di pondok tidur sejak aku memilih melaut dan engkau menabur di ladang Kelak bertemu di sungai waktu II Lekas-lekas kita bangunkan sepi karena rindu telah matang dipanggang jarak dan waktu "Kecaplah, tak ada hidangan selain kita yang sendiri-sendiri. Teguklah, tak ada cawan yang diangkat Selain sisa malam yang memabukkan“ VL, Sankt Augustin, 16 Juli 2018

TOBA

Image
TOBA Di danau ini aku belajar memeluk gelombang Digulungnya lembar- lembar rindu yang belum tuntas kau baca Di danau ini aku belajar mencium bibir pantai Ditinggalkan basah pada jantung karang Di danau ini aku belajar memandang jejak-jejak ombak yang silam Diciptanya jarak-jarak tanpa alamat Kepadanya tanganku melambai lesu Di danau ini aku belajar mendengar angin Dihanyutkan nama dan salammu antara buih-buih mencengkeram Di danau ini aku belajar menyusuri wajahmu berpasir Tergores kenangan demi kenangan Di danau ini aku belajar menggaram duka Diiris pisau jarak menembus rusuk-rusuk karang Di danau ini aku belajar menebar jala Yang pernah kita sulam di Simarjarunjung Menabur kembang yang kita tanam di Sapo Juma Tongging Di danau ini aku belajar mencintai badai yang menyimpan tangis Mengerang di dasar rumahmu abadi Mengegenang di jalan samudera menuju sana Menggetarkan batu-batu rindu Melengking ayat-ayat doa yang tercecer di...

MAAF

MAAF Julia, Maafkan aku Jika sering kuungsikan kata-kata ke ruang-ruang klausur Dan mereka menyerukan namamu bagai litani di lorong-lorong silentium Membisikkan kecemasan demi kecemasan pada ruas-ruas kontemplasi Maafkan aku Jika bait-bait puisiku sering terdampar di biru matamu Bersama buih-buih pesan merecik alismu yang terkadang lelah Menafsir misteri panggilan Padahal pada setiap larik-larik itu aku hanya mau bilang: Ada nafasku bersama angin yang mengibarkan layar setia Menggiring bidukmu menuju pantai yang kaurindu Menuju pulau orang-orang bernazar Maafkan aku ... Sankt Augustin, 25.06.2018

WANITA DAN BULANNYA_Kepada Wanitaku

Image
WANITA DAN BULANNYA Kepada Wanitaku Julia, Setiap bulan Kau kurung wajahmu di bilik luka paling intim mengandung bulan yang menyabit-nyabit rahim Membalut kuncup hidup akanan Setiap bulan Kau kunyah perih dengan matamu Seakan rusuk itu baru ditanam dalam-dalam pada tubuhmu Menjadikanmu ibu kehidupan Setiap bulan Kau rawat sakit di atas ranjang ketabahan Memberinya pil setia yang menetes dari jantung Mengobati bulan-bulan terluka Hingga purnama Dan bulan-bulan yang terluka Adalah usia setiamu V. Lein, Sankt Augustin, 18.06.2018 Foto: © Frank Lothar Lange/plainpicture - Zeit Online

MENYEMBUHKAN FANATISME: BELAJAR DARI PAULUS

MENYEMBUHKAN FANATISME: BELAJAR DARI PAULUS Amos Oz – seorang penulis Israel – dalam bukunya „Wie man Fanatiker kuriert“ (Bagaimana menyembuhkan orang fanatik) menyuguhkan sebuah kisah dari Yerusalem – kota yang tidak hanya terkenal dengan keberagaman agama, tetapi juga fanatismenya: Seorang religius duduk dalam sebuah Caffee di pinggiran jalan ketika sosok seorang kakek menghampirinya. Lelaki tua itu mencoba memanfaatkan momen pertemuan itu dengan mengajukan deretan pertanyaan: Siapa yang memiliki iman yang paling benar? Katolik atau Protestan? Kaum Muslim atau Yahudi? „Untuk mengatakan ‚Kebenaran‘ kepadamu, Allah memberikan jawaban: ‚Saya bukanlah religius, dan saya tidak pernah seperti itu. Dan agama bukanlah hal yang menarik untukku“. Paulus, sang misionaris agung dan pemikir, menaruh perhatian yang besar pada agama. Ada yang membaptisnya sebagai fundator kekristenan, namun ada pula yang meragukan, bahwa Paulus juga mengusung agama yang serupa diwartakan Kristus ( Chr...