Posts

SEPUCUK SURAT DARI NIAS

Image
SEPUCUK SURAT DARI NIAS Pada geliat kabut memanjang Aku mencari suaramu Di antara halaman kusut buku harian Aku melafal ulang rindu-rinduku Yang tlah digubah waktu kenanga Dan ketemukan dirimu dalam lautan kata-kata Yang kau tulis pada sayap-sayap Desember silam Engkau angin barat di pulau Nias Aku iri memandangmu Membawa pesan di kepakan sayap-sayap lembab Saat aku memanjat pada tebing keterpisahan Lalu jiwa terjaga dalam kerinduan yang begitu teduh Angin, aku sedang merindu…. Dan Cuma rindu yang aku punya Untuk menyongsong kekasihku Bawalah rinduku ……  "Pada sebuah Senja di Bulan Dezember" Vianney L. 05.12.13 Salam Advent - Selamat Menyongsong Tuhanmu Brief aus Nias

Seminar: Jugendarbeit und Katechese

Seminar: Jugendarbeit und Katechese (Vianney Leyn) https://drive.google.com/file/d/0B91BE2Wde5h9bjc3T2tWWW54LXc/edit?usp=sharing

puisi: DALAM KABUT

Image
DALAM KABUT (Mengenang Korban Taufan di Filipina) Tatap redup dalam tebal kabut Tiada yang mampu tahu Atau berani menebak Kota kecil di balik kabur alam Angin tak dapat lagi kau gubah Kisahmu sulit kuduga Tiada lolong anjing, bahkan burung gagak pun diam … Langkah jadi basa dalam uap menggantung Keheningan, yang sebenarnya tidak begitu akrab Kembali menghampiri kuping Aku makin gemetar Menyeka lembab basah pada kening Pohon meranggas daun Menghening cipta di taufan menampar Kunci pintu rumah patah dan tirai tak lagi membias remang, Menyalami kehidupan yang telah lama dipercaya Kota jadi taman jiwa-jiwa hilang Kita masih berdiang pada mentari Meski tebal kabut dan malam panjang Meski angin datang memburu!?  Sankt Augustin, 14.11.2013

JUGENDARBEIT UND KATECHESE

https://drive.google.com/file/d/0B91BE2Wde5h9elZmY1hrcjEzbkk/edit?usp=sharing PHILOSOPHISCH-THEOLOGISCHE HOCHSCHULE SVD SANKT AUGUSTIN Seminararbeit: JUGENDARBEIT UND FIRMKATECHESE (Eine Begeisterung für Jugendliche in ihrem christlichen Glauben) Seminar Theorie und Praxis kirchlicher Jugendarbeit Dr. Patrik C. Höring Wintersemester 2012/13 (im Bereich Praktische Theologie) Yohanes Vianey Soda Lein 53753 Sankt Augustin Arnold Janssen Str. 30

DAUN MUSIM GUGUR

Image
DAUN MUSIM GUGUR Coba kau dengar angin mendesing Menulis  lagu pada warna warni helai daun Tentang matahari yang kau junjung kemarau silam Tentang bening embun di kuntum semi Coba kau tangkap derik patah pada ranting Seakan tiada daya menopang kemarau hidupmu Dan sehelai daun luruh lagi dalam sepi Jatuh di keningmu mengendap gelisah Musim gugur kehilangan lagi selembar daun Dan tentu akan gugur lagi yang lainnya Seperti bulir air matamu yang tak pernah mengering Tatkala badai menerpa di kerapuhan insan Kau mengajakku lagi Memandang dedaunan yang masih bergayut pada ranting Sebelum malam-malam kita menjadi panjang Dan langit kamar kita bertabur dingin salju Sehelai daun jatuh lagi…. Dan kau berbisik ke telingaku „Itu untukmu“… Aku hanya diam – tak tahu, Apa yang bisa aku buat dengan sehelai daun musim gugur? Sankt Augustin, 22 Oktober 2013

MISSIONSDRAMA

Image
„MISSIONSDRAMA“: EIN KLEINES PFINGSTEREIGNISS Szene: Kolonialisierung und Mission Einheimische Musik (60s) wird gespielt. Auf der Bühne sind ein Soldat mit dem Schwert und ein Priester (im Talar) mit Bibel in der Hand zu sehen, die langsam durch die Bühne gehen. Der Sprecher: Die Kolonialisierung und die Mission sind in der Geschichte der Menschheit wie zwei Seiten einer Medaille. Dem Christentum bleibt es – nicht zu Unrecht – ein Stachel im Fleisch. Wenn man aber die Früchte der Missionsarbeit für die Entwicklung der Menschheit im Ganzen sieht, spürt man doch – ungeachtet der Unterdrückung des Volkes durch die Kolonialisierung –  eine leise Dankbarkeit. Gott ist in der Geschichte mächtig.... Szene: Steinlegung der katholischen Mission in Ostindonesien Sprecher: (Der Ortvorsteher [der Radja] und der Schiffkapitän betreten die Bühne) Als die portugiesischen Seefahrer und Kaufleute in den ostindonesischen Archipelen ankamen, kümmerte...

Rilke

Rilke Gedichte

Im Schatten des Frühlings

Image
Im Schatten des Frühlings möchte ich unsere Geschichte schreiben. Aber ich weiß nicht, wie ich anfangen soll. Viele Ideen oder Sätze brauche ich nicht, auch keine Blätter aus Papier. Endlich habe ich zwei Namen geschrieben: Deinen und Meinen. Und ich wusste, dass ich nicht allein bin.   http://www.stadtgottes.de/stago/index.php   http://www.weitewelt.eu / http://www.pico-pico.eu /

Eine kalte Nacht im Sommer

Image
Eine kalte Nacht im Sommer I Die Straße war leer, nur Du, nur Ich, nur Wir Es war eine stille Nacht, unsere Geschichte war zu kalt Am leuchtenden Vollmond wärmten wir uns Durch die lange Nacht wanderten wir baten den Himmel, uns zu zeigen wie man den Mond mit verletzter Schulter tragen soll baten die Erde, uns zu lehren wie man die Sonne mit verbrannten Händen festhält Das war eine vergangene Sommernacht Mond und Sonne begegneten sich Uns war aber noch kalt, wir wanderten zu Mond und Sonne Ein „Gute Nacht“ sagten wir noch nicht  II Die Straße war leer, nur Du, nur Ich, nur Wir, Es war eine stille Nacht, unsere Geschichte war zu kalt Am leuchtenden Vollmond wärmten wir uns... Die Sehnsucht war groß, Wärme mit- und aneinander zu finden Doch wir hielten die Distanz Der andere so nah und doch in weiter Ferne... Der Mond am Himmel, in der kalten Sommernacht Auf dem Weg zur Sonne, zur Berührung würde es nie kommen Der an...

ICH MÖCHTE SCHREIBEN

Image
Ich möchte weiter schreiben Die stillen Wörter möchte ich schreiben Damit sie die Bedeutung haben Ich möchte noch schreiben Unsere Geschichte und Erinnerung möchte ich schreiben, so dass sie wie glühende Kohle werden, verkohlen in unserer Träume. Und ich möchte immer schreiben Unsere Hoffnung möchte ich schreiben Damit sie wie Stachel ist, die ein Stück Herz behütet die traurige Natur tröstet, wenn der stürmische Wind weht Über Dich und mich möchte ich noch schreiben   http://www.stadtgottes.de/stago/index.php   http://www.weitewelt.eu / http://www.pico-pico.eu /

Pisah Tiada Kata

Image
Pisah Tiada Kata Kita berpisah pada kata tiada terucap keningmu menjauh ketika ciumku hendak mengukir cinta, memberi kenangan Kita berpisah tiada kata katamu, jaga perasaan yang lain dan alasan ini sudah menjadi alasan klasik yang slalu kudengan yang tentu menusuk luka semakin dalam namun aku tetap memilih sabar diam menghadapimu, sayang Kita berpisah begitu saja Lalu dicekik pada tanya "Di mana kamu menyimpan rasaku, sayang... Atau mungkin aku harus tabah slalu menghadapimu meski dengan air mata?"..

Kado Ulang Tahun

Image
Kado Ulang Tahun Di garis rindu merentang pada dua tangan aku menangis Tumpah Siram di simpul usia Lalu kamu????

Kelam di Pulau Rindu

Image
Kelam di Pulau Rindu Kelam di Pulau rindu kutuju Berbalut kabut gerimis mengundang Di kejauhan kupanggil namamu Batas tak lagi kulihat Kutitip salam dan rinduku yang telah basa pada gelombang arus yang hendak pasang hendak temui dirimu di arus batas penantian berpeluk rasa di pelabuhan hati hingga engkau pun basah dan aku lebih lagi Pada karang ingin kuabadikan kisah ini dengan luka di kulit kerang dan biarkan gelombang senja ini membawa perasaanku hingga ke dasar tiada terselam Cuma Yang di sana yang mengajarkanku CInta Pada sebuah pelayaran dengan kapal Motor, 25 November 2011

ANTOLOGI PUISI Vianney Leyn 2008

ANTOLOGI PUISI Vianney Leyn 2008   http://www.stadtgottes.de/stago/index.php   http://www.weitewelt.eu / http://www.pico-pico.eu /

Kumpulan Puisi Polykarp Ulin Agan: Surat untuk Avilla

Kumpulan Puisi Polykarp Ulin Agan   http://www.stadtgottes.de/stago/index.php   http://www.weitewelt.eu / http://www.pico-pico.eu /

SAHABAT TAK DIKENAL

SAHABAT TAK DIKENAL Betapa jauhnya watakmu Betapa polosnya hatimu Betapa bodohnya jiwamu Betapa kalutnya akalmu Sobatku… Betapa tidak ku menghempasmu Dirimu jauh…sangat jauh Engkau ada di atas langit Sedangkan aku… Terperangkap di dalam tanah. Kau menguburku dalam-dalam Begitu dalamnya… Sehingga ku tak dapat bernafas Kau telah membunuhku dari belakang… Sehingga pedangmu tertancap di hatiku. 20 September 2002

DUA PUISI

PADA TEPIAN PUSARA Menatap nisan yang mengabur dalam pekat Cairkan rindu pada cahaya liin Membenam tangis pada tepian pusara yang meretak Dan bibir bertutur dalam diam REQUIESTAT IN PACE Bunda… Pandanglah aku dalam pejam abadimu KATA TERAKHIR Atas nama malam Dan pada dinding keheningan Kuukir kata cinta dengan bibir yang belum lagi membeku Biar kuteruskan mimpi yang masih tersisa

SUARA KAUM JELATA

SUARA KAUM JELATA Di sini menanti kami gendut prestasimu ‘tuk kuak impian jelata Yang terpendam resah Tuk reciki persada yang kian kerontang ‘tuk salur gizi bagi yang busung lapar ‘tuk perjuangkan keadlian dan kebenaran Yang telah disunat Bukan gendutmu gemakan nyaring gemerincing Bukan mulutmu vokal bualkan janji utopis Di atas panggung politik Bukan tampilmu khas priyayi Wibawa palsu Tapi kaki yang menjejak di rumah kami Dan tangan yang menjamah di meja kami Biar kami tak terus memungut tulang

SALAM

SALAM Selamat pagi matahari Engkau menyinari hari Selamat pagi embun Engkau yang mencair di daun kemarau Selamat pagi sayang Engkau yang selalu kukenang di kelopak kembang

PELITA UNTUK SOBATKU YANG MALANG

PELITA UNTUK SOBATKU YANG MALANG Wahai Mahakarya yang miskin harta… engkau tercipta dari hasrat orang fasik. Wahai Mahadashyat kerakusan yang miskin karya… engkau tercipta dari budak singgasana kehormatan. Memang, tinta emas mendengar tawa ria orang yang laknat dengan kuasanya, namun… selembar kertas yang seputih salju itu berlari ke arah kebajikannya. Ah sobatku papa yang malang… mereka terpaksa menjual kepala mereka untuk memberi makan hati mereka. Tenanglah sobatku papa yang malang… titian air mata yang teredam bukanlah satu topan bisu yang mematahkan cabang-cabang kita yang mati lunglai, namun ia menjulurkan akar-akar kita yang hidup semakin dalam ke dalam jiwa yang merongrong. Tenanglah sobatku papa yang malang… biarlah mereka anggap engkau gila, karena engkau tidak mau menjual hari-harimu demi emas, namun anggaplah mereka gila, karena mereka pikir hari-harimu bisa diberi harga. Wahai Guru Hak Asasi Insani… jadilah penyambung lidah ...

DUA PUISI 2

BUNGA CAHAYA Begitu indah memancar Kilauan dari cahaya surya Siapakah yang dapat memancarkan kilauan itu? Begitu teriknya namun menyegarkan sukma Engkau yang begitu indah Namun begitu jauh juga engkau berada CERITA DARI MEJA PERJAMUAN Suatu ketika seseorang duduk di mejaku Dia makan roti dan meminum anggurku Kemudian dia pergi dan menertawaiku Kemudian dia datang lagi meminta roti dan anggurku Dan aku usir dia Dan para malaikat menertawakanku. 10 may ‘09