Posts

Pisah Tiada Kata

Image
Pisah Tiada Kata Kita berpisah pada kata tiada terucap keningmu menjauh ketika ciumku hendak mengukir cinta, memberi kenangan Kita berpisah tiada kata katamu, jaga perasaan yang lain dan alasan ini sudah menjadi alasan klasik yang slalu kudengan yang tentu menusuk luka semakin dalam namun aku tetap memilih sabar diam menghadapimu, sayang Kita berpisah begitu saja Lalu dicekik pada tanya "Di mana kamu menyimpan rasaku, sayang... Atau mungkin aku harus tabah slalu menghadapimu meski dengan air mata?"..

Kado Ulang Tahun

Image
Kado Ulang Tahun Di garis rindu merentang pada dua tangan aku menangis Tumpah Siram di simpul usia Lalu kamu????

Kelam di Pulau Rindu

Image
Kelam di Pulau Rindu Kelam di Pulau rindu kutuju Berbalut kabut gerimis mengundang Di kejauhan kupanggil namamu Batas tak lagi kulihat Kutitip salam dan rinduku yang telah basa pada gelombang arus yang hendak pasang hendak temui dirimu di arus batas penantian berpeluk rasa di pelabuhan hati hingga engkau pun basah dan aku lebih lagi Pada karang ingin kuabadikan kisah ini dengan luka di kulit kerang dan biarkan gelombang senja ini membawa perasaanku hingga ke dasar tiada terselam Cuma Yang di sana yang mengajarkanku CInta Pada sebuah pelayaran dengan kapal Motor, 25 November 2011

ANTOLOGI PUISI Vianney Leyn 2008

ANTOLOGI PUISI Vianney Leyn 2008   http://www.stadtgottes.de/stago/index.php   http://www.weitewelt.eu / http://www.pico-pico.eu /

Kumpulan Puisi Polykarp Ulin Agan: Surat untuk Avilla

Kumpulan Puisi Polykarp Ulin Agan   http://www.stadtgottes.de/stago/index.php   http://www.weitewelt.eu / http://www.pico-pico.eu /

SAHABAT TAK DIKENAL

SAHABAT TAK DIKENAL Betapa jauhnya watakmu Betapa polosnya hatimu Betapa bodohnya jiwamu Betapa kalutnya akalmu Sobatku… Betapa tidak ku menghempasmu Dirimu jauh…sangat jauh Engkau ada di atas langit Sedangkan aku… Terperangkap di dalam tanah. Kau menguburku dalam-dalam Begitu dalamnya… Sehingga ku tak dapat bernafas Kau telah membunuhku dari belakang… Sehingga pedangmu tertancap di hatiku. 20 September 2002

DUA PUISI

PADA TEPIAN PUSARA Menatap nisan yang mengabur dalam pekat Cairkan rindu pada cahaya liin Membenam tangis pada tepian pusara yang meretak Dan bibir bertutur dalam diam REQUIESTAT IN PACE Bunda… Pandanglah aku dalam pejam abadimu KATA TERAKHIR Atas nama malam Dan pada dinding keheningan Kuukir kata cinta dengan bibir yang belum lagi membeku Biar kuteruskan mimpi yang masih tersisa

SUARA KAUM JELATA

SUARA KAUM JELATA Di sini menanti kami gendut prestasimu ‘tuk kuak impian jelata Yang terpendam resah Tuk reciki persada yang kian kerontang ‘tuk salur gizi bagi yang busung lapar ‘tuk perjuangkan keadlian dan kebenaran Yang telah disunat Bukan gendutmu gemakan nyaring gemerincing Bukan mulutmu vokal bualkan janji utopis Di atas panggung politik Bukan tampilmu khas priyayi Wibawa palsu Tapi kaki yang menjejak di rumah kami Dan tangan yang menjamah di meja kami Biar kami tak terus memungut tulang

SALAM

SALAM Selamat pagi matahari Engkau menyinari hari Selamat pagi embun Engkau yang mencair di daun kemarau Selamat pagi sayang Engkau yang selalu kukenang di kelopak kembang

PELITA UNTUK SOBATKU YANG MALANG

PELITA UNTUK SOBATKU YANG MALANG Wahai Mahakarya yang miskin harta… engkau tercipta dari hasrat orang fasik. Wahai Mahadashyat kerakusan yang miskin karya… engkau tercipta dari budak singgasana kehormatan. Memang, tinta emas mendengar tawa ria orang yang laknat dengan kuasanya, namun… selembar kertas yang seputih salju itu berlari ke arah kebajikannya. Ah sobatku papa yang malang… mereka terpaksa menjual kepala mereka untuk memberi makan hati mereka. Tenanglah sobatku papa yang malang… titian air mata yang teredam bukanlah satu topan bisu yang mematahkan cabang-cabang kita yang mati lunglai, namun ia menjulurkan akar-akar kita yang hidup semakin dalam ke dalam jiwa yang merongrong. Tenanglah sobatku papa yang malang… biarlah mereka anggap engkau gila, karena engkau tidak mau menjual hari-harimu demi emas, namun anggaplah mereka gila, karena mereka pikir hari-harimu bisa diberi harga. Wahai Guru Hak Asasi Insani… jadilah penyambung lidah ...

DUA PUISI 2

BUNGA CAHAYA Begitu indah memancar Kilauan dari cahaya surya Siapakah yang dapat memancarkan kilauan itu? Begitu teriknya namun menyegarkan sukma Engkau yang begitu indah Namun begitu jauh juga engkau berada CERITA DARI MEJA PERJAMUAN Suatu ketika seseorang duduk di mejaku Dia makan roti dan meminum anggurku Kemudian dia pergi dan menertawaiku Kemudian dia datang lagi meminta roti dan anggurku Dan aku usir dia Dan para malaikat menertawakanku. 10 may ‘09

SAHABAT TAK DIKENAL

SAHABAT TAK DIKENAL Betapa jauhnya watakmu Betapa polosnya hatimu Betapa bodohnya jiwamu Betapa kalutnya akalmu Sobatku… Betapa tidak ku menghempasmu Dirimu jauh…sangat jauh Engkau ada di atas langit Sedangkan aku… Terperangkap di dalam tanah. Kau menguburku dalam-dalam Begitu dalamnya… Sehingga ku tak dapat bernafas Kau telah membunuhku dari belakang… Sehingga pedangmu tertancap di hatiku. 20 September 2002

MIMPI

MIMPI Kala itu rohku tertidur dalam baranya api Dalam sebuah jeruji yang mewah tentunya… Dalam bunga tidurku, aku dikunjungi banyak orang Hingga aku tersentak kaget, malaikat dan iblis pun bersua denganku. Aku mengucapkan doa lama dan malaikat menjadi bosan Aku mengerjakan dosa lama dan iblis pun meninggalkanku. Kala itu maut mulai meletakkan jari-jari lembutnya pada pelupuk mataku yang kaku.. murkaku mulai muak dengan semuanya seketika aku bangun dari peluhku yang membatu. Pagi berganti hari, malam kan menjelang Setia sebuah penantian, meski tak kujelang. Pagi berganti hari, malam kan menjelang Kasih adalah memberi, meski tak diberi. Penantian yang berbuah pengharapan Pengharapan yang beranakkan pemberian Pemberian yang tak mengharapkan pembalasan. Puisi ini bercerita tentang seorang yang tengah berputus asa, hingga dia melakukan kejahatan yang membawa dirinya pada sebuah tembok jeruji yang berdiri kekar, sebuah tempat yang biasa saja bahkan ...

Puisi-Puisi Polykarpus Ulin Agan

Image
Puisi-Puisi Polykarpus Ulin Agan* SENANDUNG DOAKU DI PAGI INI Tuhan, tak ada yang dapat kumegah-megahkan dari diriku, kecuali kelemahan dan keterpecahanku di hadapanMu. Tetapi Engkau menggunakan keping-keping bejana kelemahan ini untuk menyempurnakan apa yang sudah Engkau mulai. Dalam kelemahan dan keterpecahan Engkau telah mengantarku sekian jauh, kadang-kadang harus melewati padang gurun yang tandus, kadang-kadang harus melewati lembah dan ngarai. Tetapi di saat aku berhadapan dengan jalan buntu, Engkau selalu memberikan petunjuk kepadaku, bukan seperti yang aku inginkan, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. SEPUCUK SURAT UNTUK AVILA (1) Avila... Hari ini saya mengirimkan sebuah buku kecil untukmu berjudul: „Jesus für Atheisten“ (Yesus untuk orang-orang atheis). Ditulis oleh Milan Machovec, seorang penganut Marxisme dari Ceko, buku ini mengandung seribusatu inspirasi untuk langkah-langkahmu menuju batas cakrawala. Kalau engkau sudah mendapatkannya, b...