Posts

DESA MEMBANGUN ATAU MEMBANGUN DESA?

DESA MEMBANGUN ATAU MEMBANGUN DESA? (Yang Tercecer dari Ruang Sidang DPRD Flores Timur tentang Pemandangan Partai) Vianney Leyn* Putera Flotim Sedang belajar pada STFK Ledalero Tinggal di Wisma St. Arnoldus – Nita Pleat Fraksi Partai Demokrat dalam pemandangan umum fraksi pada sidang I DPRD Flores Timur sebagaimana yang dibacakan oleh Paulus Krowe, mengatakan bahwa pihak mereka mendukung pemekaran wilayah yakni desa dan kelurahan baru untuk peningkatan mutu dan penyebaran pembangunan. Fraksi Partai Demokrat menyatakan dukungan mereka atas konsep desa membangun dan bukan lagi membangun desa . Artinya, inisiatif untuk membangun desa atau kelurahan harus dimulai dari desa atau kelurahan (PK, Selasa, 02 Maret 2010). Penulis merasa tertarik dengan kedua frase itu: desa membangun dan membangun desa. Sentilan awal itu akhirnya mendorong penulis untuk melahirkan tulisan sederhana ini sekaligus mungkin menjadi sumbang pikiran penulis bagi pembangunan desa, khususnya bagi des...

FILSAFAT LINGKUNGAN MASYARAKAT ADAT LAMAHOLOT

FILSAFAT LINGKUNGAN MASYARAKAT ADAT LAMAHOLOT (DESA BADU DAN MOKANTARAK) (Vianney Leyn & Sipri DAton) I. PROLOG Sejak zaman para filsuf Miletos seperti Thales dan kawan-kawan, alam telah menjadi salah satu pokok perhatian mereka dalam refleksi filosofis mereka tentang unsur dasar dari segala sesuatu yang ada dan hidup di dunia ini. Dalam perkembangan lebih lanjut, Levinas justru mengantar kita untuk menyadari bahwa manusia dan alam dunia bersama segala isinya merupakan satu kesatuan yang membentuk elemen. Kesatuan ini tidak dapat dilepaspisahkan satu dengan yang lain. Sehubungan dengan hal ini, kita dapat melihat bahwa hingga saat ini juga masyarakat pada umumnya memiliki pandangan tersendiri tentang hubungannya dengan alam yang menjadi tempat tinggalnya. Masyarakat di setiap daerah tentu memiliki pandangan yang berbeda-beda akan hal tersebut. Demikian juga masyarakat adat Badu dan Mokantarak juga memiliki filsafatnya sendiri berkaitan dengan alam. Bagi masy...

DI PINTU-MU AKU MENGETUK

DI PINTU-MU AKU MENGETUK (Apresiasi Puisi DOA Chairil Anwar) Vianney LEyn Anggota Komunitas Sastra Sandal Jepit Nita Plea Puisi-puisi Chairil Anwar lahir dari situasi hidup konkrit, entah situasi hidup sosial maupun reliogiositasnya. Dalam puisi Doa-nya terkandung makna religiositas yang begitu kental. Tuhanku Dalam termangu, aku masih menyebut namaMu, begitu larik pertama dari bait puisinya. Bagi Chairil, nama TUHAN begitu melekat-menyatu dengan jiwanya, nama TUHAN telah terpatri di relung hati yang mungkin telah lapuk dalam mengarungi ziarah hidup. Maka dalam termangu-nya pun ia masih menggemakan nama Tuhan. Lebih lanjut ia guratkan kedekatannya dengan Tuhan: walau susuh/sungguh/mengingat Kau penuh seluruh. Dalam setiap situasi batas Chairil tidak menghakimi bahkan mengutuk Tuhan. Penyakit radang paru-paru dan infeksi darah kotor yang sudah lama dideritanya serta kondisi badannya yang semakin lemah menimbulkan gangguan usus hingga pecah sama sekali tidak membuatnya me...

DIALOG ANTAR AGAMA

MEMBANGUN DIALOG ANTARAGAMA DALAM SPIRIT MISTIK COMPASSION *Vianney Leyn Mahasiswa Semester VI STFK Ledalero Tinggal di Wisma Arnoldus – Nita Pleat Pluralitas merupakan sebuah faktum yang tak dapat kita tolak. Kita tinggal dalam sebuah dunia dengan aneka budaya dan agama; dan pengalaman perjumpaan dengan faktum pluralitas itu telah menciptakan konsepsi tertentu tentang orang lain dan tentang apa yang dia miliki seperti agama atau budaya. Lebih lanjut, bangunan konsep itu akan mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang ketika ia berhadapan dengan faktum pluralitas. Dunia lalu dilihat sebagai medan kompetisi antara budaya yang satu dengan yang lain, antara agama yang satu dengan agama yang lain dan pada akhirnya menciptakan konflik antar suku, antar etnis, dan antaragama. Pada titik tegang inilah sebuah pertanyaan dapat kita ajukan: mungkinkah diadakan sebuah dialog di tengah realitas pluralitas seperti itu? Di tengah pluralitas agama dan budaya, dialog merupakan sesua...

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2009

Homo est Viator (Vianney Leyn) Saya tak akan sempat meniup terompet Atau menyalakan lilin malam ini tapi tolong percayalah, saya telah membuat semacam pengkauan dosa lewat semacam surat cinta yang saya akhiri dengan cap bibir hitam gemetaran ( Dina oktaviani: Prosa Tahun Baru) Dina Oktaviani, seorang penyair muda kepunyaan negeri ini agaknya tidak menebar bahagia saat menyambut tahun baru. Ia tak meniup terompet, lambang kemenangan dan kegembiraan; ia juga tak menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan zaman. Yang dibuat sang penyair adalah “mengemis” sekelumit rasa percaya dari Sang Kehidupan. Sebuah konfesio akan kerapuhan dan keberdosahan manusia dialamatkannya kepada Tuhan bak sebuah surat cinta, tetapi bukan dalam meterai tinta emas, melainkan dengan cap bibir hitam (simbol keberdosaan) bergetar. Sang penyair bernadar kepada Tuhan di awal tahun. Hidup manusia senantiasa terajut dalam ruang maha luas – tak terbatas dan waktu yang tak pernah bisa diajak untuk be...

MUTIARA YANG TERPENDAM

MUTIARA YANG TERPENDAM DI DASAR SAMUDERA SASTRA (Mengenang Chairil Anwar di Hari Kesusatraan Nasional) (Vianney Leyn) “Bukan karena perjuanganlah kita menjadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang-pejuang”. Nukilan singkat dari seorang penulis dan sastrawan, Goenawan Mohamad,ini menyiratkan hubungan yang wajar dan logis antara seni dan perjuangan. Kesenian yang dimaksudkan oleh Goenawan di sini adalah seni sastra, yang menurutnya merupakan suatu “revolusi”: secara langsung atau tak langusng ia memperjuangkan kembali untuk hati nurani yang pada suatu masa dikaburkan, atau belum ditemukan oleh sejarah (Goenawan Mohamad, Kesusastraan dan Kekuasaan, 1993). Sejarah telah mencatat bahwa dunia sastra melakonkan peran yang tidak kalah pentingnya dalam perjuangan merebut kemerdekaan sejak masa pergerakan nasional tahun 1920-an sebagai momentum awal dari semangat nasionalisme, yang oleh sejarahwan disebut sebagai “pembaptisan politik dari kelas bawah” yang dipel...

ECCE HOMO

Image
ECE HOMO: DUNIA KITA SEDANG TRSALIB* (Refleksi Prosesi Jumat Agung di Larantuka) (Vianney Leyn) Larantuka hingga saat ini masih memelihara sebuah ritus keagamaan yang begitu dikagumi dan dicintai (admiranda et Amanda) baik oleh anak-anak nagi (orang Larantuka) maupun yang bukan orang asli. Keberakarannya pada ritus ini sudah tertanam sejak kedatangan bangsa portugis pada tahun 1552 yang mengusung misi: Gold (mencari rempah), Gospel (menyebarkan agama), Glory (memperjuangkan “nama besar dalam hegemoni kekuasaan). Seiring waktu yang terus bergulir dan dalam pergulatan dengan aneka tantangan, prosesi akbar ini telah membentuk cita rasa iman (sensus fidelium) umat yang berakar kuat pada devosi kepada Bunda Maria. Umat Larantuka memberikan atensi yang luar biasa kepada devosi Bunda Maria dan ini sudah menjadi devosi populer. Devosi kepada Bunda Maria begitu melekat kuat dalam religiositas umat yang mengerucut pada prosesi akbar Jumat Agung, di mana umat bersama Bunda Maria, Mat...

NUBA NARA - LAMAHOLOT

NUBA NARA: SIMBOL WUJUD TERTINGGI DALAM KEPERCAYAAN ASLI MASYARAKAT LAMAHOLOT (Vianey Leyn) I. Pendahuluan Kekristenan yang berkembang di Flores sesungguhnya ditenun dari suatu proses sejarah yang panjang dalam bingkai waktu dan kompleksitas budaya umat atau masyarakat. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh para misionaris ketika mereka mulai menjejakkan kaki di setiap jengkal tanah misi. Ketika para misionaris mulai mengadakan kontak dengan penduduk asli, di sana bisa muncul perbenturan antara misi para misionaris untuk menyebarkan agama (gospel, di samping misi gold dan glory) dengan kubudayaan asli masyarakat seperti kepercayaan asli serta berbagai ritus yang dipraktikkan; tetapi juga ada pendamaian antara keduanya. Perjumpaan antara para misionaris dengan masyarakat asli membentuk suatu proses dialog antara agama (evangelisasi) dan budaya yang melahirkan berbagai kemungkinan: asimilasi, bila yang terjadi adalah saling mengambil yang terbaik; konfrontasi, yakni bila te...

PANGAN LOKAL

Image
KONSUMSI PANGAN LOKAL: MENGAPA RISIH? Vianney Leyn) Pada kesempaan liburan beberapa waktu lalu, saya bertamu ke rumah tetangga yang adalah juga keluarga saya. Pada saat makan siang kami dijamu dengan menu beras yang dicampur dengan jagung, sayur rumpu rampe, dan ikan kering bakar. Sambil menghidangkan semuanya itu, dengan malu tuan rumah menguc¬apkan kata-kata ini: “No, jangan marah, kita makan hanya ini saja. Nasi kita kuning sekali”, (maksudnya karena sudah tercampur dengan jagung). Pengalaman yang sama dengan ungkapan yang sama pula kembali dilontarkan ketika sya berrtamu dan makan di ruma keluarga yang lain. Ketika membaca beberapa berita dan opini tentang pangan lokal yang dilansir dalam beberapa koran lokal (Pos Kupang dan Flores Po)s maupun nasional (Kompas), saya teringat akan pengalaman kecil di atas. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kita merasa rendah diri atau malu bila mengkonsumsi pangan lokal seperti jagung, ubi kayu, jagung titi atau pangan ...

DIALOG JIWA

Image
DIALOG JIWA (Vianney Leyn) Ketika kubuka tirai jendela, kulihat sang mentari pagi membawa sosok seseorang yang tidak kukenal. Sosok itu lewat sebentar di lorong depan kamarku. Kuberanikan diri untuk menyapanya: Selamat pagi matahari Engkau menyinari hari Selamat pagi embun Engkau yang mencair di daun kemarau Selamat pagi… ……. Engkau yang membuka kelopak mataku Lalu kutitipkan sebait pesan baginya sebelum ia berlalu pergi. Sama sekali tidak terpikir olehku bahwa kami akhirnya hanyut dalam sebuah dialog yang panjang. (DIALOG JIWA 1) AKU : Katakan kepada setiap orang yang kamu jumpai hari ini, bahwa aku sedang mencari jantung hatiku. Aku merindukannya. Dan sebelum mentari menggelinding pergi pada lekak-lekuk langit kotaku, katakan sesuatu kepadaku tentang semuanya biar aku tidak hanya mendengar suaramu tapi juga menatap wajahmu sebelum tirai malam menudungnya dan kabut mengaburkannya. DIA : Aku hanya ingin katakan bahwa engkau adalah yang berharga bagiku. Aku...

KAUM MUDA

Image
KAUM MUDA DI TENGAH KEGELISAHAN BENCANA* (Vianney Leyn) Tentu masih terekam baik dalam ingatan kita peristiwa kosmik yang mengguncang Padang Pariaman, Sumetera Barat, 30 September 2009. Gempa yang berkekuatan 7,6 SR itu tidak hanya meruntuhkan gedung-gedung megah ataupun gubuk tempat tinggal masyarakat kecil tetapi juga merobohkan cita-cita dan masa depan para korban. Guncangan bumi sesaat itu menelan banyak korban. Skenario kehidupan yang telah dirancang oleh manusia akhirnya menjadi sebuah kisah dengan alur yang lain sama sekali, pada latar puing-puing duka reruntuhan. Kegembiraan dan tawa pun berubah menjadi kesedihan dan air mata; suka cita berubah menjadi duka cita ketika orang menyaksikan realitas kehancuran itu: bukan hanya tempat tinggal dan harta benda tetapi juga sanak keluarga dan sahabat kenalan yang hilang- terkubur dalam pejam abadi mereka. Cerita hidup seolah-olah diputuskan secara tiba-tiba tanpa meminta sebuah persetujuan atau kompromi ketika kafan kematian...