KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“
Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan
Mgr. Hans Monteiro
Mengawali masa pontifikatnya di Keuskupan
Larantuka, Mgr. Hans Monteiro mengunjungi Desa Konga, sebuah wilayah sunyi di
Kabupaten Flores Timur yang termasuk dalam teritori tepi pastoral Keuskupan
Larantuka. Pilihan ini tidak lahir dari romantisme sejarah misi atau napak
tilas misi kekatolikan di keuskupan, sekalipun kawasan tersebut pernah dikenang
sebagai “kampung Kristen tua di pantai tenggara,” yang dalam catatan sejarah
tidak selalu menjadi pusat intensitas karya para misionaris (bdk. Karel
Steenbrink, 2006: 146ff). Keputusan itu pun bukan karena daya pikat investasi
ekonomis kemilau mutiara dari pulau Konga yang tersembunyi dari hiruk-pikuk
narasi besar pembangunan dan asing untuk penduduk lokal. Keputusan Mgr. Hans
lahir dari sebuah kemendesakan kemanusiaan, bahwa di tempat itu, di Konga,
tinggal para penyintas letusan gunung Lewotobi yang beruntun. Para korban itu
datang dari wilayah pinggiran Kabupaten Flores Timur yang sebelumnya bermukim
di sekitar kaki gunung berapi Lewotobi. Mereka kehilangan rumah, lahan, mata
pencaharian dan harus menata hidup baru dari nol.
Pada awal pontifikatnya, Paus Franziskus
tidak memilih metropolitan dunia barat, melainkan sebuah pulau di pinggiran
Eropa, yakni Lampedusa. Di sepanjang pantai Lampedusa gelombang pengungsi
mencari harap dan hidup yang layak.
Juga di Konga tinggal para penyintas dalam
kemah-kemah sempit tanpa kepastian hidup: sampai kapan mereka berjuang di
tempat ini, meradang kecemasan letusan susulan yang tak sulit ditebak dan tak
dapat diajak kompromi.
Dalam terang moto kegembalaan: „Satu Tubuh,
Satu Roh, Satu Pengharapan“ rantai persatuan itu diuji dan diwujudkan. Di sini
kehadiran sang Gembala bukanlah sekadar inspeksi atas batas-batas teritorial
Gereja lalu berhenti pada afirmasi administratif atas wilayah pastoral,
melainkan sebuah ziarah menuju „heterotopos“ di padang luas kegembalaan (Michel
Foucault: „Andere Räume“: Ruang-ruang Lain: 1967). Di sana, di kemah-kemah
sempit, Gereja ditantang untuk tinggal dan berkarya di antara ketidakpastian.
Sebagai „ruang (yang) lain“ dalam reksa pastoral, Konga tidak hanya merupakan
konfigurasi spasial melainkan juga interupsi temporal (eschatologi): hidup
dalam solidaritas kebersamaan sebagai satu tubuh, dibakar dalam api roh
keberanian , dan menapaki setiap ambang kemungkinan perubahan dengan harapan
yang selalu waspada di tengah rapuhnya kehidupan umat. Visitasi perdana ini
hendak mengafirmasi, bahwa „locus theologicus“ bukan lahir dari pusat yang
aman, melainkan dari “horizon ancaman”, di mana Gereja dan umatnya menyadari
rapuhnya eksistensi mereka.
Langkah awal Uskup Hans tidak bergerak menuju
pusat, melainkan menuju tepian; bukan ke ruang yang telah mapan dalam peta
devosi, melainkan ke horizon yang ditandai ketidakpastian alam. Di sana, di
bawah bayang-bayang gunung berapi Lewotobi, pastoralitas menemukan topografinya
yang konkret—sebuah ruang di mana iman tidak berdiri di atas kepastian sejarah
dan menara gading kesalehan, melainkan berhadapan dengan rapuhnya kehidupan.
Langkah awal sang gembala bukanlah sebuah perjumpaan di kapela dan gereja megah
sarat simbol kekudusan dan memori misi, melaikan perjumpaan dengan bulir abu
vulkanik dan bongkahan kegelisan umat akan hidup mereka.
Dalam arti ini, Konga menyingkapkan dirinya
sebagai locus theologicus: tempat di mana pengalaman manusiawi, alam, dan
kecemasan kolektif menjadi medan pewahyuan dan refleksi iman. Konga adalah
tentang Gereja yang berdiri di bawah tudung kabut dan ruang awal kepulan
erupsi, bukan di atas singgasana stabilitas; sebuah deklarasi diam, bahwa
teologi tidak lahir pertama-tama di pusat kekuasaan religius, melainkan di
tepian—di tempat di mana para penyintas menatap gunung yang dapat sewaktu-waktu
meletus kembali. Konga dan pulau budidaya mutiaranya menjadi simbol tajam dari
kehidupan umat yang terpinggirkan. Di sana mutiara berkilau di dasar laut,
tetapi tangan-tangan penduduk lokal tak kuasa menyentuhnya. Mereka seperti
kerang yang hanya mengeram luka di dasar lokan agar mutiara terbentuk; dan
kelak ditinggal setelah biji mutiara dipanen.
Akhirnya, seperti yang diingatkan Paus
Fransiskus ketika masih menjabat sebagai kardinal:
„Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya
sendiri dan bergerak ke pinggiran; bukan sekadar ke pinggiran geografis, tetapi
juga ke batas-batas eksistensi manusia: batas misteri dosa, penderitaan,
ketidakadilan, masa-bodoh , batas minimnya praktik keagamaan, batas pemikiran
dan batas kemiskinan. Jika Gereja tidak keluar dari dirinya sendiri untuk
mewartakan Injil, ia akan hanya berkutat pada dirinya sendiri. Pada saat itu,
ia menjadi sakit. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam institusi Gereja
dalam ziarah waktu berakar pada sifat mementingkan diri sendiri. Dan ini adalah
manifestasi dari roh narsisme teologis“ (Bergoglio: Die Kirche, die sich um
sich selber dreht: 2013).
Ya, Gereja yang berorientasi pada perjumpaan
dengan „kaum pinggiran“ harus juga berani meredakan bara ketegangan, membuka
ruang dialog dan hadir di tengah situasi "keterlukaan" umat.
Akankah kelompok penyintas segera tiba di
sebuah lahan subur sebagai akhir dari perjalanan exodus mereka?
Akankah luka-luka mereka yang terendap di abu
vulkan dan pasir belerang kelak juga menjadi mutiara indah milik sendiri?
Vian Lein
WNI (Warga Negara Indonesia, Mokantarak,
Larantuka

No comments:
Post a Comment