PENULIS - AUTOR

My photo
Gera, Thüringen, Germany
Pernah Belajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Sekarang Mahasiswa pada Philosophisch-Theologische Hochschule SVD St.Augustin - Jerman

SUARA - KODA

KODA

Pana mai tada lewung, gawé mai tiru tana.
Pana éka sépat lewo, gawé éka sigan tana.

Gelekat tuén Lera Wulan, gewayang golén Tana Ékan.
Beta doré doan-doan, bauk tematan léla-léla.
Nubung nala méi menung, barang nala raa loma.

27 February 2026

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan Mgr. Hans Monteiro

Sebagai pemimpin baru agenda pertama seorang selalu berada dalam sorotan publik. Rasa ingin tahu mengemuka: langkah awal apa yang hendak diambil oleh sang pemimpin: duduk tenang di ruang bera-AC menanti ucapan selamat, atau kesiapan melangkah ke sudut paling terpencil sebuah wilayah yang dipercayakan kepadanya. Langkah pertama seorang pemimpin dapat mendefinisikan ulang seluruh makna tugas tanggung jawab dan tugas pelayanannya. Saya bersyukur bisa menghadiri rangkaian acara tahbisan episkopal Mgr. Hans Menteiro, Uskup terpilih Keuskupan Larantuka, yang dahulu adalah guru saya sewaktu masih di bangku sekolah SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Tulisan ini bukanlah  sebuah catatan nostalgia personal atau sebuah jurnal wisata spiritual pada liburan kemarin di kampung dan di kota Reinha Larantuka, melainkan refleksi atas gestur pastoral - yang menurut saya – sarat makna teologis.

Mengawali masa pontifikatnya di Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro mengunjungi Desa Konga, sebuah wilayah sunyi di Kabupaten Flores Timur yang termasuk dalam teritori tepi pastoral Keuskupan Larantuka. Konga bukanlah sebuah metropolitan geografis maupun religius. Pilihan ini tidak lahir dari romantisme sejarah misi atau napak tilas misi kekatolikan di keuskupan, sekalipun kawasan tersebut pernah dikenang sebagai “kampung Kristen tua di pantai tenggara,” yang dalam catatan sejarah tidak selalu menjadi pusat intensitas karya para misionaris (bdk. Karel Steenbrink, 2006: 146ff). Keputusan itu pun bukan karena daya pikat investasi ekonomis kemilau mutiara dari pulau Konga yang tersembunyi dari hiruk-pikuk narasi besar pembangunan dan asing untuk penduduk lokal. Keputusan Mgr. Hans lahir dari sebuah kemendesakan kemanusiaan, bahwa di tempat itu, di Konga, tinggal para penyintas letusan gunung Lewotobi yang beruntun. Para korban itu datang dari wilayah pinggiran Kabupaten Flores Timur yang sebelumnya bermukim secara normal di sekitar kaki gunung berapi Lewotobi.: punya rumah, punya lahan, punya mata pencaharian. Namun tiba-tiba rentetan letusan gunung Lewotobi menyabu habis semuanya. Mereka kehilangan tempat berteduh dan harus dievakuasi di Konga, memulai hidup dari nol besar. Mereka tinggal dalam kemah-kemah sempit dengan ruang gerak yang terbatas dan kehilangan privasi.

Tanpa bermaksud memaksakan paralel historis, langkah ini mengingatkan pada gestur awal Paus Fransiskus. Pada awal pontifikatnya, Paus Franziskus tidak memilih metropolitan dunia barat, meskipun ia memiliki akses ke banyak ibu kota megah di Eropa. Beliau bisa saja memulai tour kepemimpinannya ke pusat-busat peradaban barat yang gemerlap. Beliua justur memilih terbang ke Lampedusa, - pulau kecil yang menjadi tempat pendaratan para pengungsi, pulau di ujung selatan Italia, titik pendaratan ribuan pengungsi yang lari dari perang dan kelaparan. Banyak yang tenggelam sebelum menyentuh daratan. Di sepanjang pantai Lampedusa gelombang pengungsi mencari harap dan hidup yang layak. Esensinya serupa yang terjadi di Konga. Juga di Konga tinggal para penyintas dalam kemah-kemah sempit tanpa kepastian hidup: sampai kapan mereka berjuang di tempat ini, meradang kecemasan letusan susulan yang tak sulit ditebak dan tak dapat diajak kompromi.

Kepemimpinan dengan spirit melayani dimulai dari titik nol penderitaan manusia, memilih untuk hadir di pusat luka umat dan masyarakatnya. Dalam terang moto kegembalaan: „Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan“ rantai persatuan itu diuji dan diwujudkan. Di sini kehadiran sang Gembala bukanlah sekadar inspeksi atas batas-batas teritorial Gereja lalu berhenti pada afirmasi administratif atas wilayah pastoral, melainkan sebuah ziarah menuju „heterotopos“ di padang luas kegembalaan (Michel Foucault: „Andere Räume“: Ruang-ruang Lain: 1967).

Konga menjadi heterotopia pastoral: ruang di mana waktu seolah berhenti dan masa depan penghuni lenyap. Konga menjadi ruang ketidakpastian absolut: mereka waspada akan letusan susulan setiap saat. Di sana, di kemah-kemah sempit, Gereja ditantang untuk tinggal dan berkarya di antara ketidakpastian, bukan sekadar singgah. Sebagai „ruang (yang) lain“ dalam reksa pastoral, Konga tidak hanya merupakan konfigurasi spasial melainkan juga interupsi temporal (eschatologi): hidup dalam solidaritas kebersamaan sebagai satu tubuh, dibakar dalam api roh keberanian , dan menapaki setiap ambang kemungkinan perubahan dengan harapan yang selalu waspada di tengah rapuhnya kehidupan umat. Visitasi perdana ini hendak mengafirmasi, bahwa „locus theologicus“ – kebenaran dan refleksi iman - tidak lahir dari pusat yang aman, melainkan dari “horizon ancaman”, di mana Gereja dan umatnya menyadari rapuhnya eksistensi mereka.

Langkah awal Uskup Hans tidak bergerak menuju pusat, melainkan menuju tepian; bukan ke ruang yang telah mapan dalam peta devosi, melainkan ke horizon yang ditandai ketidakpastian alam. Di sana, di bawah bayang-bayang gunung berapi Lewotobi, pastoralitas menemukan topografinya yang konkret—sebuah ruang di mana iman tidak berdiri di atas kepastian sejarah dan menara gading kesalehan, melainkan berhadapan dengan rapuhnya kehidupan. Langkah awal sang gembala bukanlah sebuah perjumpaan di kapela dan gereja megah sarat simbol kekudusan dan memori misi, melaikan perjumpaan dengan bulir abu vulkanik dan bongkahan kegelisan umat akan hidup mereka. Di bawah tudurng erupsi, visi dan misi kesatuan umat juga sungguh diuji. Kata pengharapan berubah dari antifon mimbar dan altar menjadi kebutuhan primer untuk bertahan hidup.

Dalam arti ini, Konga menyingkapkan dirinya sebagai locus theologicus: tempat di mana pengalaman manusiawi, alam, dan kecemasan kolektif menjadi medan pewahyuan dan refleksi iman. Konga adalah tentang Gereja yang berdiri di bawah tudung kabut dan ruang awal kepulan erupsi, bukan di atas singgasana stabilitas; sebuah deklarasi diam, bahwa teologi tidak lahir pertama-tama di pusat kekuasaan religius, melainkan di tepian—di tempat di mana para penyintas menatap gunung yang dapat sewaktu-waktu meletus kembali.

Konga dan pulau budidaya mutiaranya menjadi simbol tajam dari kehidupan umat yang terpinggirkan. Di sana mutiara berkilau di dasar laut, tetapi tangan-tangan penduduk lokal tak kuasa menyentuhnya. Mereka seperti kerang di dasar laut. Mutiara terbentuk dari penderitaan. Seekor kerang pada awalnya hidup tenang. Lalu, tiba-tiba ada benda asing yang masuk dan melukai tubuh yang lunaknya. Benda asing itu menyakiti kerangnya; maka untuk bertahan hidup, kerang itu melindungi dirinya dengan mengeluarkan cairan – lapisan demi lapisan untuk membungkus iritan luka agar tidak merobek organ dalam. Proses ini terjadi bertahun-tahun dalam kesunyian yang gelap. Hasilnya: mutiara yang berkilau.

Ya, para penyintas dan mungkin juga masyarakat Konga hanya mengeram luka di tenda darurat dan ketabahan mereka itulah mutiaranya. Namun ada ironi tragis dari proses bilogis: mutiriara itu tidak bisa disentuh, apalagi dimiliki oleh kerang yang melahirkannya. Setelah mutiaranya dipanen olah orang lain, kerang yang telah kosong dan kelelahan itu ditinggal begitu saja. Ini seperti eksploitasi dan solidaritas yang hanya dibatasi oleh selaput luka di tubuh kerang: di hadapan realitas keterpurukan, apakah kita datang untuk menyembuhkan luka atau hanya untuk memanen, mengambil cerita ketabahan dan penderitaaan untuk kepentingan lain.  

Sebagaimana pernah ditegaskan Paus Fransiskus ketika masih menjabat sebagai kardinal Jorge Mario Bergoglio:

„Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri dan bergerak ke pinggiran; bukan sekadar ke pinggiran geografis, tetapi juga ke batas-batas eksistensi manusia: batas misteri dosa, penderitaan, ketidakadilan, masa-bodoh , batas minimnya praktik keagamaan, batas pemikiran dan batas kemiskinan. Jika Gereja tidak keluar dari dirinya sendiri untuk mewartakan Injil, ia akan hanya berkutat pada dirinya sendiri. Pada saat itu, ia menjadi sakit. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam institusi Gereja dalam ziarah waktu berakar pada sifat mementingkan diri sendiri. Dan ini adalah manifestasi dari roh narsisme teologis“ (Bergoglio: Die Kirche, die sich um sich selber dreht: 2013).

Fransiskus menegaskan, bahwa institusi Gereja memiliki panggilan absolut untuk keluar menuju pinggiran dan bukan menjadi narsistis, yang sibuk memoles citra dan urusan internal, mulai dari marmer gedung hingga „nama baik“ Gereja. Narsisme teologis itu tercipta ketia Gereja kehilangan pijakan realitasnya dan lupa akan panggilan pelayanan bagi yang terluka. Gereja yang berorientasi pada perjumpaan dengan „kaum pinggiran“ harus juga berani meredakan bara ketegangan, membuka ruang dialog dan hadir di tengah situasi "keterlukaan" umat. Kepemimpinan dengan spirit melayani adalah tentang menciptakan ruang baru, tempat harapan bisa dirakit kembali darin o, juga di atas luka kehancuran.

Akankah kelompok penyintas segera tiba di sebuah lahan subur sebagai akhir dari exodus panjang mereka? Akankah luka-luka mereka yang terendap di abu vulkan dan pasir belerang kelak juga menjadi mutiara indah milik sendiri?

Semoga empati kita pada korban murni solidaritas, bukan wajah lain eksploitasi di tepian pulau Konga!

Vian Lein

WNI (Warga Negara Indonesia, Mokantarak, Larantuka ), tenaga pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman.

No comments:

Post a Comment