PENULIS - AUTOR

My photo
Gera, Thüringen, Germany
Pernah Belajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Sekarang Mahasiswa pada Philosophisch-Theologische Hochschule SVD St.Augustin - Jerman

SUARA - KODA

KODA

Pana mai tada lewung, gawé mai tiru tana.
Pana éka sépat lewo, gawé éka sigan tana.

Gelekat tuén Lera Wulan, gewayang golén Tana Ékan.
Beta doré doan-doan, bauk tematan léla-léla.
Nubung nala méi menung, barang nala raa loma.

28 March 2026

NTT: NEGERI TERDAMPAR TANPA-TUJUAN?

 NTT: NEGERI TERDAMPAR TANPA-TUJUAN?

Odysseus, raja Ithaka, adalah salah satu saksi kehancuran kota Troya. Ketika armada perang Yunani berlayar pulang setelah perang usai, Odysseus bersama sebagian besar prajurit Yunani terjebak malapetaka: mereka terlempar dalam pengembaraan yang panjang dan tak menentu. Berpuluh tahun lamanya ia berkelana mengarungi samudera yang sering tak bersahabat; arus pelayarannya dibungkam badai, rute yang tertunda, bahkan tersesat oleh kekuatan-kekuatan yang melampaui dirinya. Kapal pelayarannya bukanlah sekadar alat transportasi, tapi tubuh yang menatang rindu, identitas, juga harapan untuk kembali pulang. Petualangan Odysseus bukanlah gerak koordinat lurus. Ia terhenti, tertunda, terpenggal dalam ketidapastian waktu. (Edith Hamilton, Mitologi Yunani, 1942: 189-208).

 

„NTT Sejahterah“

Foto ini diambil pada liburan tahun kemarin di pantai depan Hotel Sotis, Kupang, NTT. Perahu motor yang bisu mesinnya dan kemudi yang digerogoti garam dan waktu terdampar di pantai Pasir Panjan. Kadang ia terendam sebentar di ombak pasang, seolah dipanggil kembali ke laut; namun segera menyatu karam di pasir pantai. Pada salah satu sisi buritannya tertulis „NTT Sejahterah“. Abjad-abjadnya mulai pudar dipanggang terik dan digarami laut. Maknanya dipertanyakan antara janji semantik dan disfunksi materi: antara pigura estetika dan mimbar politik. 

Perahu motor itu adalah alat transportasi laut sekaligus sumber mata pencaharian seorang nelayan. Kemudinya menghubungkan eksistensi seorang nelayan, kebutuhan hidup ekonomi. Sebuah perahu yang tidak lagi berlayar lalu bukan berarti sekadar terhenti geraknya, tetapi juga denyut kehidupan: nafkah yang terputus, pemasukan yang mandek dan masa depan kehidupan yang tak tentu. Ia bukan hanya penghubung antar-pulau, tetapi jembatan antara karya dan kelayakan hidup (bermartabat).
„NTT Sejahterah“ – ini tentang interupsi janji. Sebuah ironi yang diam-diam berkibar di lautan nasib. Dalam diamnya ia menggugat: diam menagih janji karena „sejahterah“ hanya terdengar seperti litani liturgis tanpa inkarnasi, sebuah „sabda“ yang tidak „didagingkan“ hingga terjebak dalam lubang eskatologi sekuler – janji „keselamatan“ tanpa realisasi. Ia terdampar dalam janji, pudar dalam realitas.

Dalam karamnya, perahu ini menggetarkan resonansi kristologis. Ia mengingatkan semua pada panggilan „bertolaklah ke tempat yang lebih dalam“ untuk menebarkan jala. Panggilan ini bukan sekadar undangan religius, tetapi juga imperasi politis dan eksistensial. Sebab bagi seorang nelayan „bertolak ke tempat yang lebih dalam“ adalah sebuah jalan pulang: jalan pulang kepada hidup yang lebih layak. 

Seperti Odysseus yang akhirnya tiba menjumpai Penelopeia istrinya setelah pengembaraan panjang, demikian pula setiap pelayaran yang tertunda menyiratkan kemungkinan tafsir arah pelayaran. Lebih dari itu, „bertolak lebih ke dalam“ bukan hanya perubahan ruang gerak secara geografis, tetapi juga ontologis, yakni pulang kepada martabat diri dan kepada harapan. Kapal yang bernama NTT mesti terus berlayar menghantar para penumpang untuk menjumpai martabat diri, sebab janji „Sejahterah“ tidak dijumpai dalam diam yang pasiv, tetapi gerak pelayaran di antara gelombang dan angin pantai.

Vian Lein

27 February 2026

KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

 KWI DI PERSIMPANGAN OTORITAS DAN ORIENTASI

Sebuah Catatan Kaki Sambutan Uskup Emeritus Mgr. Frans Kopong Kung pada Tahbisan Episkopal Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro

Uskup Emeritus Frans Kopong Kung pada perayaan tahbisan episkopal Mgr. Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka, sejenak memecah alur perayaan liturgis dan menghadirkan jedah reflektif: "KWI harus menjadi kompas moral. Tetaplah menjadi sauh yang menyentuh dasar laut. Kalau kapal KWI mengalami guncangan, jangan sampai tenggelam."

Sambutan Uskup Frans tidak hanya berhenti sebagai peristiwa sesaat dalam arus waktu yang sekilas hadir lalu menghilang. Sudah banyak tulisan dan komentar yang mereflesikan lebih lanjut interupsi reflektif sang Uskup – juga Ketua KWI langsung merespon suara profetis Sang Gembala yang telah menuntun Gereja Keuskupan Larantuka selama kurang lebih 22 tahun.

Dalam horison persepsi sebagian umat dan rekan imam, Uskup Frans tidak tampil sebagai figur intelektual dalam arti akademis, melainkan sebagai gembala yang mengartikulasikan iman dan imamatnya lewat praksis pastoral. Oleh sebab itu, sebagian orang cenderung (terlanjur) menempatkan Frans Kopong Kung di luar kategori „intelektual“ dalam pengertian sempit lalu mengabaikan kedalaman refleksi yang tersembunyi di balik kesederhanaan bahasa Sang Uskup. Namun dalam momentum bersejarah Gereja Indonesia Frans Kopong menyuarakan ketegasan yang terang benderang tanpa kekaburan makna serta kedalaman pastoral tanpa berlindung di balik kerumitan bahasa. Suara Frans Kopong seperti hadir pada momentum yang menentukan bagi KWI, sebuah momen kairos bagi Gereja.

Gereja tidak (hanya) hidup dari Struktur, melainkan nurani yang membentuk kemanusiaan manusia. Pada alur sejarah Gereja (Indonesia) yang tergoncang kepercayaannya, KWI diharapkan dapat memberi orientasi bagi umat. Harapan ini berakar kuat pada tradisi Gereja sebagaimana ditegaskan oleh Karl Rahner, seorang Teolog terkenal Jerman, yang memahami Gereja bukan semata sebagai sebuah institusi, melainkan sebagai ruang rohani, di mana tangung jawab dan hati nurani saling terjalin. Dalam horison pemahaman ini, Konferensi Waligereja tidak dapat berhenti pada fungsi administratif belaka (verwalten), melainkan dipanggil untuk bersuara, menafsirkan tanda-tanda zaman, dan menuntun umat di tengah kepercayaan yang terguncang (Rahner: Schriften zur Theologie 1980: 287). Di sini, interupsi reflektif Frans Kopong bukanlah sebuah serangan frontal terhadap lembaga KWI atau menghakiminya, melainkan sebuah seruan pastoral untuk sebuah pembaharuan dalam tubuh Gereja. Justru dari pengalaman seorang gembala yang telah melayani selama bertahun-tahun, suaranya memperoleh bobot yang khas: bukan sekadar „asal omong“, tapi sebuah kesaksian dan kegelisahan.

Kegelisahan dan suara profetis Frans Kopong ini menunjukkan, bahwa intelektualitas bukan terutama terletak pada formulasi bahasa akademis yang rumit dipahami umat, melainkan kemampuan membaca kemendesakan persoalan (tanda-tanda zaman) dan membahasakannya pada waktu yang tepat secara jujur dan tegas. Dalam situasi kehilangan arah dan guncangan, justru suara yang kerap diabaikan atau kurang diperhitungkan itulah yang menjadi kompas penuntun.

Terima Kasih Mgr. Frans! Selamat Melayani, Mgr. Hans.

Goresan ini hanyalah catatan kaki yang turut membingkai kesatuan tubuh, spritualitas dan harapan iman umat Keuskuspan Larantuka di bawah tongkat kegembalaan Mgr. Hans Monteiro; ya seperti kaki yang turut melangka, mencari arah dan harapan bagi masa depan Gereja.


Vian Lein

Alumnus Kölner Hochschule für Katholische Theologie Köln, Jerman dan tenaga pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman.

Foto: Komsos Keuskupan Larantuka


HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN

HITAM PUTIH GAMBAR(AN) TENTANG TUHAN


Melukis Tuhan

Pada suatu kesempatan mengajar agama Katolik dengan tema "Siapa itu Tuhan?" di kelas 3 Sekolah Dasar di salah satu sekolah di Jerman, saya memberikan tugas kepada murid untuk melukis atau menggambar konsep atau pemikiran mereka tentang Tuhan. Setelah sekitar 15 menit, saya berjalan berkeliling melihat proses pengerjaan tugas mereka, seperti yang sering saya lakukan setiap kali memberikan tugas. Saya kerap memberi apresiasi atas apa yang sudah dan sedang mereka kerjakan; kadang rasa ingin tahu membuat saya bertanya, dan sering kali kami sampai pada diskusi tentang tema pengajaran, bahkan kehidupan pribadi mereka. Tak jarang, mereka juga meminta tanggapan dari saya atas ide-ide yang mereka tuangkan di atas lembaran tugas.

Sebagian besar murid melukis "Tuhan mereka" dengan gambaran wajah lonjong, berambut panjang, berjenggot, dan berkumis. Ada pula yang menggambar malaikat pelindung, lilin atau cahaya, pemandangan, matahari, bulan dan galaksi bintang, pelangi, roh halus, seorang ibu atau wanita, neraca keadilan, biji mata yang menatap bumi, tangan yang menyentuh bumi, hingga hati sebagai simbol cinta.
Di salah satu sudut kelas, tampak Matz (nama disamarkan) yang menopang dagu, memandang lembaran soal yang masih kosong kecuali namanya yang ia tulis di pojok kanan atas. Saya menghampiri Matz dan berjongkok di samping kursinya agar kami bisa berdiskusi tanpa mengganggu teman-temannya. "Pak Lein, memang boleh kita melukis Tuhan di atas kertas? Di Kitab Suci dibilang bahwa kita dilarang membuat gambaran tentang atau yang menyerupai Tuhan." Sebelum saya sempat menjawab, Matz melanjutkan, "Lagi pula, saya belum pernah bertemu langsung dengan Tuhan, dan menurut saya Tuhan itu tidak ada. Bagaimana saya bisa melukiskan sesuatu atau seseorang yang saya sendiri tidak kenal atau belum pernah jumpai?"

Pendidikan Agama dan Katekese

Baru dua minggu lalu, Matz menerima komuni pertamanya di gereja tempat tinggalnya, dan hari ini dia mempertanyakan Tuhan yang telah disambutnya. Nomenklatur kurikulum pelajaran agama di sekolah-sekolah Jerman memang tidak membenarkan indoktrinasi atau penyebaran agama tertentu secara terbuka dan terstruktur. Bahkan, pelajaran agama merupakan alternatif di samping pelajaran etika bagi siswa yang tidak dibaptis atau terdaftar dalam konfesi apapun. Berbeda dengan katekese yang menekankan misi gereja dan proses evangelisasi, pendidikan agama di sekolah harus memungkinkan siswa untuk berpikir kritis tentang Tuhan, manusia, dan dunia tanpa memaksa mereka untuk menjadi katolik atau kristen, serta berperilaku secara bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, juga dengan yang berbeda aliran kepercayaan, dan alam (bdk. Dokumen Konferensi Para Uskup Jerman tentang "Katekese dan Pendidikan Agama"). Berbeda dengan mata pelajaran lain, pendidikan agama mempertanyakan asal dan tujuan hidup, situasi batas, dan makna kehidupan manusia berdasarkan refleksi tradisi dan sejarah. Pendidikan agama bukanlah sekadar transfer ilmu atau dogma (indoktrinasi), tetapi harus menuntun siswa untuk pada akhirnya mengambil keputusan sendiri secara sadar dan bertanggung jawab atas hidupnya.


Anak Kecil dan Pertanyaan-Pertanyaan Besar

Kembali kepada Matz kecil dengan pertanyaan-pertanyaan besar-nya: Apakah Tuhan itu sungguh ada? Dan jika Tuhan memang ada, siapakah Dia atau seperti apa sosoknya? Di mana kita dapat menjumpainya? Pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan ini juga menjadi refleksi kritis di universitas-universitas dalam karya kajian ilmiah mahasiswa.

Pada giliran untuk mempresentasikan "gambaran" tentang Tuhan yang sudah mereka lukis, Matz meletakkan potretnya di lantai. Berbeda dari lukisan teman-temannya yang berwarna-warni, gambaran Tuhan versi Matz sangat abstrak dalam balutan hitam-putih. "Sketza berwarna putih menggambarkan momen ketika Tuhan ada; dan coretan hitam adalah saat di mana Tuhan tidak ada dalam hidup, atau mungkin ada, tapi saya tidak bisa melihat-Nya," jelas Matz dengan santai, layaknya seorang teolog atau filsuf yang sedang memberikan kuliah filsafat ketuhanan. Saya lalu meminta teman-temannya memberikan aplaus atas sketsa dan refleksi teologisnya.

Tuhan yang Paradoksal

Jauh sebelum Matz, biarawati dari Ordo Benediktin dan Penulis Silja Walter (1919-2011) juga pernah mendefiniskan Tuhan dalam sebuah sajak tanpa judul. Silja menulis: "Abwesenheit ist dein Wesen - darin finde ich dich" (Kealpaan [Ketiadaan] adalah ada-Mu. Dalamnya aku menemukan-Mu). Bagi Silja, hanya gambaran paradoksal seperti inilah yang dapat menghantar manusia lebih dekat pada pemahaman tentang Tuhan. "Abwesenheit" - (indonesia: Ketidakhadiran) dipahaminya dalam penggalan kata "Ab" (=fort) (pergi, berlalu) dan "Wesenheit"(keberdaaan). Artinya, hanya dalam "ketidakhadiran-Nya" Tuhan itu (dapat/mesti) ditemukan; dan ini merupakan suatu usaha manusia untuk mengungkapkan pengalaman mitis-religios dalam bahasa manusia.

Gambaran paradoksal ini juga juga ia gurat dalam bait-bait sajak selanjutnya.

Abwesenheit ist dein Wesen  - darin finde ich dich

Die Nägel meiner Sehnsucht bluten vom Kratzen

an den Eismeeren der Welt

Verkohlt ist die Sucht meiner Suche in seiner Kälte

Aber da bist du

darin - seit das Kind schrie bei den Schafen

und brennst lichterloh zu mir  

„Kuku-kuku kerinduanku mengucur darah – mencakar lautan es dunia. Hanguslah hasrat pencaharianku dalam dinginya. Namun di sana Engkau ada sejak sang bayi menangis di antara domba-domba. Dan kau kobarkan terang-Mu untukku“.

Dalam lirik-lirik ini, Silja membahasakan hasrat kerinduan (Sehnsucht) sebagai sebuah pencaharian (Suche), sebagai upaya untuk mengisi kekosangan atau kealpaan/ketidakhadiran agar dapat mengalaminya secara dekat. Namun tampak pencaharian itu sia-sia: „mencakar-cakar pada lautan es dunia hanyalah mendatangkan darah pada kuku, dan rindu pencaharian itu membara hangus dalam dingin“ Seperti yang kita tahu, membara hangus selalu bersinggungan atau berpaut  pada api, dan bukannya dipicu oleh dingin es. Itu realitas yang dilihat dan dirasakan penulis sang pengembara, bawa hubungan antara Tuhan dan Manusia itu begitu dingin. Namun kembara iman sang penulis tiba oada Kristologi inkarnasi, bahwa Tuhan yang ia sapa dengan „Engaku“ hadir untuk pertama kalinya ke dunia dalam sosok bayi yang menangis di antara domba-domba. Bayi itulah yang membawa terang untuk menyinari kerinduan akan pencaharian Tuhan yang hangus dalam dinginnya lautan es. Dari kata ganti diri orang kedua tunggal yang ia gunakan, puisi Silja ini juga merupakan sebuah doa yang melengking dari hasrat pencaharian, keraguan serta pengakuan akan suatu yang pasti. Lukisan manusia sebagai pengembara dalam pencaharian ini sesungguhnya dia persembahan untuk saudaranya yang ragu akan Tuhan dan keberadaannya.

Hari ini Matz tidak hanya melihat "hitam-putih" gambar(an) tentang Tuhan. Ia, teman-temannya, dan saya memandang pancarona lukisan tentang Tuhan. Usaha mereka untuk melukis gambaran tentang Tuhan bukan sekadar sebuah pergulatan nalar untuk berpikir ulang tentang gambaran Tuhan yang telah mereka wariskan, melainkan berusaha untuk menemukan gambar(an) sendiri – milik kepunyaan – tentang Tuhan.

Pertanyaan tentang Tuhan telah lama "mengganggu" kesalehan fundamentalis dan ketulian apatisme yang memandang dunia dan manusia dalam dikotomi "hitam-putih": baik vs jahat, surga vs neraka, saleh-kudus vs kafir. Lukisan-lukisan tentang Tuhan di kelas adalah kepingan puzzle yang tidak sempurna dan belum tuntas; ia membutuhkan kepingan lainnya untuk membentuk spektrum warna yang lebih luas. Bukan hanya hitam-putih!


Leinefelde, 06.10.2024

Vian Lein

Keterangan Foto: Lukisan anak-anak tentang konsep Ketuhanan mereka di kelas agama saya.

SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

 SEKOLAH TINGGI PASTORAL-KATEKETIS DAN KARYA PASTORAL GEREJA

P. Laurensius Woda, SVD, dosen Antropologi pada IFTK Ledalero dan pengasuh museum Bikon Blewut Flores, pernah mengguratkan mimpinya tentang sebuah institut Antropos di Bukit Sandar Matahari Ledalero pada dinding Facebook „Bikon Blewut“. Dalam nada penuh optimisme dia menulis:

Tahun ini ada 78 mahasiswa/i yg mengikuti ujian tesis dengan penelitian lapangan yg mendalam dan ketat. Semuanya menulis tema2 yg berkaitan isu sosial budaya dalam hubungan dgn ajaran Gereja. Hampir 70% menulis tentang ritus budaya tertentu.

Ketika ada yg bilang, 'anthropos tradition is dying out', tapi saya kok malah yakin, 'it is about to bloom'. Yah, dalam nada optimisme bisa kelihatan bahwa tradisi anthropos akan bermekaran lagi ke depannya. Akan tetapi, bukan dari Wina atau Jerman ke seluruh dunia, tapi dari Ledalero ke seluruh dunia.“

Tentu ini sebuah pemikiran yang bagus sebagai langkah awal memulai gebrakan baru untuk tidak hanya mempertahankan salah satu matra penting dalam karya misi Serikat Sabda Allah yang telah dirintis oleh Wilhelm Schmidt, Paul Arndt dan juga Piet Petu atau Sareng Orinbao (untuk menyebut beberapa nama), tetapi juga mengembangkan proyek-proyek penelitian dan merefleksikannya dalam konteks dunia kita dewasa ini.

Di sini saya tidak ingin mengurai mimpi besar teman kelas Rukhe Woda (Nama Akun FB). Goresan optimisme yang ia letupkan pada dinding dunia maya memantik tanya pada diri. Jika hampir 70% mahasiswi/a melebur diri dalam riset tentang budaya lokal, adakah dari yang tersisa 30% mahasiswi/a mengkiblatkan pemikiran intelektual mereka pada (teologi) pastoral Gereja? (Tentu kita tidak menafikan, bahwa karya pastoral Gereja hampir pasti beririsan dan berurusan dengan budaya yang adalah konteks berteologi; dan usaha untuk menceburkan diri ke dalam budaya setempat adalah bagian dari proses karya pastoral).  

Hampir sebagian besar lulusan IFTK Ledalero sudah dan akan berkarya dalam ruang lingkup pastoral Gereja, entah sebagai imam, biarawati, maupun awam (katekis, guru agama, penyuluh agama, dll).

Jika Laurensius dalam mimpinya mengenang Institut Antropos Sankt Augustin -  Jerman atau Sankt Gabriel – Austria, saya teringat akan Seri Pastoralia terbitan Nusa Indah yang tidak hanya membuat kajian teologis dogmatis atau teologi kontekstual, tetapi juga memberi bingkai pada refleksi pengalaman pastoral bersama umat.

Bila mengenang kembali masa perkuliahan di Bukit Leda, saya mendapat kesan, bahwa mata kuliah „Kateketik“ – yang oleh Dosen Pengasuh P. Bunga Ama Keban, SVD, dibaptis sebagai „payung segala ilmu“ itu, tidak se-atraktiv mata kuliah lain (mohon koreksi jika keliru atau ada pengalaman dan kesan lain) seperti Filsafat Ketuhanan-nya P. Leo Kleden, SVD atau Teologi Sosial-nya Almh. P. John Prior, SVD.

Saya merasa tertarik ketika Dosen Kateketik berulang kali mempersoalkan perumusan tujuan proyek kateketis di komunitas basis: antara membangung atau mendirikan; memajukan atau mengembangkan, dstrnya (bisa ditambahkan 😊). Di sini sebenarnya dia ingin menegaskan, bahwa suatu tindakan pastoral itu mesti dimulai dengan pertanyaan dasar „ What“.

Dalam setiap inisitiativ, rencana atau program pastoral kita mesti mengajukan pertanyaan pertama: Apa yang ingin saya capai bersama umat (Pertanyaan tentang tujuan). Tujuan-tujuan itu mesti dirumuskan secara konkret dan kemudian dapat diuji kembali. Tanpa ada tujuan yang jelas dari seluruh aksi yang akan dibuat, kita seperti kembara dalam belantara repetisi tradisi: mempertahankan, mengulang atau juga menghilangkan apa yang sudah diwariskan beratus tahun  tanpa ada pemaknaan secara baru. Kita tentu tahu: berjalan tanpa tujuan dan arah yang jelas adalah sebuah tugas dobel yang melelahkan.

Di balik pertanyaan “The What” tersirat visi dari seluruh proses karya pastoral. Pertanyaan selanjutnya adalah: “The How”: Bagaimana cara untuk mencapai tujuan yang telah dijabarkan. Pertanyaan “The How” berkaitan dengan metodologi sebagai alat untuk mencapai visi yang tertuang dalam tujuan-tujuan itu (aksi).

Kita bersyukur bahwa Flores memiliki Sekolah Tinggi Pastoral seperti STIPAR Ende, STP Reinha Larantuka dan juga IFTK Ledalero dengan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik. Para mahisiswi/a yang adalah calon katekis, guru agama dan imam atau pastor paroki mesti ditantang dan diberi ruang untuk berani menganalisis isu-isu pastoral Gereja dan model pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Karya pastoral Gereja - mulai dari rutinitas misa mingguan atau harian, persiapan penerimaan sakramen inisiasi seperti Permandian, Ekarisiti dan Krisma, pelayanan sakramen lainnya, hingga struktur Gereja dan persoalan pelecehan seksual di kalangan Gereja - adalah isu-isu penting dan selalu relevan untuk terus dikaji. Katekese bukanlah soal transfer nilai-nilai katekismus. Begitu pula dengan pelajaran agama di sekolah bukan sekadar penguasaan doktrin atau ajaran Gereja tanpa melibatkan peserta didik untuk berpikir „kritis“ tentang iman, Tuhan dan Ciptaan-Nya sesuai dengan alam pikir atau konsep “teologi anak-anak” (Teologi “untuk” dan “bersama” anak-anak). Ketika para mahasiswi/a telah dibekali secara teologis, pastoral dan dalam kerangka pedadogik agama, maka mereka siap untuk ditempatkan dalam karya pastoral dan dunia kerja. Dan itu tidak cukup hanya di ruang kuliah. Kesempatan praktek di lingkungan paroki akan membuka perspektiv mereka tentang cara hidup iman umat atau persoalan mereka seperti ketidakpuasan dengan kebijakan Gereja dalam urusan pelayanan sakramen.   Paroki-paroki di Flores, Solor, Adonara dan Lembata dapat berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di atas dalam karya pastoral, seperti persiapan penerimaan komuni atau krisma, pekan anak muda atau SEKAMI.

Tapi perkara iman dan karya pastoral bukan hanya sakadar urusan mempersiapkan umat untuk menerima sakramen, bukan hanya urusan misa mingguan atau doa rosario. Ruang karya pastoral itu kompleks; juga di Gereja Lokal Nusa Tenggara Timur. Sekolah-sekolah pastoral dan teologi di dipanggil untuk memulainya berdasarkan prinsip: Sehen (melihat), Urteilen (menilai/berefleksi) dan Handeln (bertindak). Siapa tahu nanti di Ledalero tidak hanya ada Institut Antropos, tetapi juga Institut Pastoral.

 

Vianey Soda Lein

Tenaga Pastoral pada Keuskupan Erfurt - Jerman

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

KONGA SEBAGAI „LOCUS THEOLOGICUS“

Sebuah Intepretasi Topologis atas Kegembalaan Mgr. Hans Monteiro

Sebagai pemimpin baru agenda pertama seorang selalu berada dalam sorotan publik. Rasa ingin tahu mengemuka: langkah awal apa yang hendak diambil oleh sang pemimpin: duduk tenang di ruang bera-AC menanti ucapan selamat, atau kesiapan melangkah ke sudut paling terpencil sebuah wilayah yang dipercayakan kepadanya. Langkah pertama seorang pemimpin dapat mendefinisikan ulang seluruh makna tugas tanggung jawab dan tugas pelayanannya. Saya bersyukur bisa menghadiri rangkaian acara tahbisan episkopal Mgr. Hans Menteiro, Uskup terpilih Keuskupan Larantuka, yang dahulu adalah guru saya sewaktu masih di bangku sekolah SMA Seminari San Dominggo Hokeng. Tulisan ini bukanlah  sebuah catatan nostalgia personal atau sebuah jurnal wisata spiritual pada liburan kemarin di kampung dan di kota Reinha Larantuka, melainkan refleksi atas gestur pastoral - yang menurut saya – sarat makna teologis.

Mengawali masa pontifikatnya di Keuskupan Larantuka, Mgr. Hans Monteiro mengunjungi Desa Konga, sebuah wilayah sunyi di Kabupaten Flores Timur yang termasuk dalam teritori tepi pastoral Keuskupan Larantuka. Konga bukanlah sebuah metropolitan geografis maupun religius. Pilihan ini tidak lahir dari romantisme sejarah misi atau napak tilas misi kekatolikan di keuskupan, sekalipun kawasan tersebut pernah dikenang sebagai “kampung Kristen tua di pantai tenggara,” yang dalam catatan sejarah tidak selalu menjadi pusat intensitas karya para misionaris (bdk. Karel Steenbrink, 2006: 146ff). Keputusan itu pun bukan karena daya pikat investasi ekonomis kemilau mutiara dari pulau Konga yang tersembunyi dari hiruk-pikuk narasi besar pembangunan dan asing untuk penduduk lokal. Keputusan Mgr. Hans lahir dari sebuah kemendesakan kemanusiaan, bahwa di tempat itu, di Konga, tinggal para penyintas letusan gunung Lewotobi yang beruntun. Para korban itu datang dari wilayah pinggiran Kabupaten Flores Timur yang sebelumnya bermukim secara normal di sekitar kaki gunung berapi Lewotobi.: punya rumah, punya lahan, punya mata pencaharian. Namun tiba-tiba rentetan letusan gunung Lewotobi menyabu habis semuanya. Mereka kehilangan tempat berteduh dan harus dievakuasi di Konga, memulai hidup dari nol besar. Mereka tinggal dalam kemah-kemah sempit dengan ruang gerak yang terbatas dan kehilangan privasi.

Tanpa bermaksud memaksakan paralel historis, langkah ini mengingatkan pada gestur awal Paus Fransiskus. Pada awal pontifikatnya, Paus Franziskus tidak memilih metropolitan dunia barat, meskipun ia memiliki akses ke banyak ibu kota megah di Eropa. Beliau bisa saja memulai tour kepemimpinannya ke pusat-busat peradaban barat yang gemerlap. Beliua justur memilih terbang ke Lampedusa, - pulau kecil yang menjadi tempat pendaratan para pengungsi, pulau di ujung selatan Italia, titik pendaratan ribuan pengungsi yang lari dari perang dan kelaparan. Banyak yang tenggelam sebelum menyentuh daratan. Di sepanjang pantai Lampedusa gelombang pengungsi mencari harap dan hidup yang layak. Esensinya serupa yang terjadi di Konga. Juga di Konga tinggal para penyintas dalam kemah-kemah sempit tanpa kepastian hidup: sampai kapan mereka berjuang di tempat ini, meradang kecemasan letusan susulan yang tak sulit ditebak dan tak dapat diajak kompromi.

Kepemimpinan dengan spirit melayani dimulai dari titik nol penderitaan manusia, memilih untuk hadir di pusat luka umat dan masyarakatnya. Dalam terang moto kegembalaan: „Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan“ rantai persatuan itu diuji dan diwujudkan. Di sini kehadiran sang Gembala bukanlah sekadar inspeksi atas batas-batas teritorial Gereja lalu berhenti pada afirmasi administratif atas wilayah pastoral, melainkan sebuah ziarah menuju „heterotopos“ di padang luas kegembalaan (Michel Foucault: „Andere Räume“: Ruang-ruang Lain: 1967).

Konga menjadi heterotopia pastoral: ruang di mana waktu seolah berhenti dan masa depan penghuni lenyap. Konga menjadi ruang ketidakpastian absolut: mereka waspada akan letusan susulan setiap saat. Di sana, di kemah-kemah sempit, Gereja ditantang untuk tinggal dan berkarya di antara ketidakpastian, bukan sekadar singgah. Sebagai „ruang (yang) lain“ dalam reksa pastoral, Konga tidak hanya merupakan konfigurasi spasial melainkan juga interupsi temporal (eschatologi): hidup dalam solidaritas kebersamaan sebagai satu tubuh, dibakar dalam api roh keberanian , dan menapaki setiap ambang kemungkinan perubahan dengan harapan yang selalu waspada di tengah rapuhnya kehidupan umat. Visitasi perdana ini hendak mengafirmasi, bahwa „locus theologicus“ – kebenaran dan refleksi iman - tidak lahir dari pusat yang aman, melainkan dari “horizon ancaman”, di mana Gereja dan umatnya menyadari rapuhnya eksistensi mereka.

Langkah awal Uskup Hans tidak bergerak menuju pusat, melainkan menuju tepian; bukan ke ruang yang telah mapan dalam peta devosi, melainkan ke horizon yang ditandai ketidakpastian alam. Di sana, di bawah bayang-bayang gunung berapi Lewotobi, pastoralitas menemukan topografinya yang konkret—sebuah ruang di mana iman tidak berdiri di atas kepastian sejarah dan menara gading kesalehan, melainkan berhadapan dengan rapuhnya kehidupan. Langkah awal sang gembala bukanlah sebuah perjumpaan di kapela dan gereja megah sarat simbol kekudusan dan memori misi, melaikan perjumpaan dengan bulir abu vulkanik dan bongkahan kegelisan umat akan hidup mereka. Di bawah tudurng erupsi, visi dan misi kesatuan umat juga sungguh diuji. Kata pengharapan berubah dari antifon mimbar dan altar menjadi kebutuhan primer untuk bertahan hidup.

Dalam arti ini, Konga menyingkapkan dirinya sebagai locus theologicus: tempat di mana pengalaman manusiawi, alam, dan kecemasan kolektif menjadi medan pewahyuan dan refleksi iman. Konga adalah tentang Gereja yang berdiri di bawah tudung kabut dan ruang awal kepulan erupsi, bukan di atas singgasana stabilitas; sebuah deklarasi diam, bahwa teologi tidak lahir pertama-tama di pusat kekuasaan religius, melainkan di tepian—di tempat di mana para penyintas menatap gunung yang dapat sewaktu-waktu meletus kembali.

Konga dan pulau budidaya mutiaranya menjadi simbol tajam dari kehidupan umat yang terpinggirkan. Di sana mutiara berkilau di dasar laut, tetapi tangan-tangan penduduk lokal tak kuasa menyentuhnya. Mereka seperti kerang di dasar laut. Mutiara terbentuk dari penderitaan. Seekor kerang pada awalnya hidup tenang. Lalu, tiba-tiba ada benda asing yang masuk dan melukai tubuh yang lunaknya. Benda asing itu menyakiti kerangnya; maka untuk bertahan hidup, kerang itu melindungi dirinya dengan mengeluarkan cairan – lapisan demi lapisan untuk membungkus iritan luka agar tidak merobek organ dalam. Proses ini terjadi bertahun-tahun dalam kesunyian yang gelap. Hasilnya: mutiara yang berkilau.

Ya, para penyintas dan mungkin juga masyarakat Konga hanya mengeram luka di tenda darurat dan ketabahan mereka itulah mutiaranya. Namun ada ironi tragis dari proses bilogis: mutiriara itu tidak bisa disentuh, apalagi dimiliki oleh kerang yang melahirkannya. Setelah mutiaranya dipanen olah orang lain, kerang yang telah kosong dan kelelahan itu ditinggal begitu saja. Ini seperti eksploitasi dan solidaritas yang hanya dibatasi oleh selaput luka di tubuh kerang: di hadapan realitas keterpurukan, apakah kita datang untuk menyembuhkan luka atau hanya untuk memanen, mengambil cerita ketabahan dan penderitaaan untuk kepentingan lain.  

Sebagaimana pernah ditegaskan Paus Fransiskus ketika masih menjabat sebagai kardinal Jorge Mario Bergoglio:

„Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri dan bergerak ke pinggiran; bukan sekadar ke pinggiran geografis, tetapi juga ke batas-batas eksistensi manusia: batas misteri dosa, penderitaan, ketidakadilan, masa-bodoh , batas minimnya praktik keagamaan, batas pemikiran dan batas kemiskinan. Jika Gereja tidak keluar dari dirinya sendiri untuk mewartakan Injil, ia akan hanya berkutat pada dirinya sendiri. Pada saat itu, ia menjadi sakit. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam institusi Gereja dalam ziarah waktu berakar pada sifat mementingkan diri sendiri. Dan ini adalah manifestasi dari roh narsisme teologis“ (Bergoglio: Die Kirche, die sich um sich selber dreht: 2013).

Fransiskus menegaskan, bahwa institusi Gereja memiliki panggilan absolut untuk keluar menuju pinggiran dan bukan menjadi narsistis, yang sibuk memoles citra dan urusan internal, mulai dari marmer gedung hingga „nama baik“ Gereja. Narsisme teologis itu tercipta ketia Gereja kehilangan pijakan realitasnya dan lupa akan panggilan pelayanan bagi yang terluka. Gereja yang berorientasi pada perjumpaan dengan „kaum pinggiran“ harus juga berani meredakan bara ketegangan, membuka ruang dialog dan hadir di tengah situasi "keterlukaan" umat. Kepemimpinan dengan spirit melayani adalah tentang menciptakan ruang baru, tempat harapan bisa dirakit kembali darin o, juga di atas luka kehancuran.

Akankah kelompok penyintas segera tiba di sebuah lahan subur sebagai akhir dari exodus panjang mereka? Akankah luka-luka mereka yang terendap di abu vulkan dan pasir belerang kelak juga menjadi mutiara indah milik sendiri?

Semoga empati kita pada korban murni solidaritas, bukan wajah lain eksploitasi di tepian pulau Konga!

Vian Lein

WNI (Warga Negara Indonesia, Mokantarak, Larantuka ), tenaga pastoral di Keuskupan Erfurt, Jerman.