NTT: NEGERI TERDAMPAR TANPA-TUJUAN?
Odysseus, raja Ithaka, adalah salah satu saksi kehancuran kota Troya. Ketika armada perang Yunani berlayar pulang setelah perang usai, Odysseus bersama sebagian besar prajurit Yunani terjebak malapetaka: mereka terlempar dalam pengembaraan yang panjang dan tak menentu. Berpuluh tahun lamanya ia berkelana mengarungi samudera yang sering tak bersahabat; arus pelayarannya dibungkam badai, rute yang tertunda, bahkan tersesat oleh kekuatan-kekuatan yang melampaui dirinya. Kapal pelayarannya bukanlah sekadar alat transportasi, tapi tubuh yang menatang rindu, identitas, juga harapan untuk kembali pulang. Petualangan Odysseus bukanlah gerak koordinat lurus. Ia terhenti, tertunda, terpenggal dalam ketidapastian waktu. (Edith Hamilton, Mitologi Yunani, 1942: 189-208).
„NTT Sejahterah“
Foto ini diambil pada liburan tahun kemarin di pantai depan Hotel Sotis, Kupang, NTT. Perahu motor yang bisu mesinnya dan kemudi yang digerogoti garam dan waktu terdampar di pantai Pasir Panjan. Kadang ia terendam sebentar di ombak pasang, seolah dipanggil kembali ke laut; namun segera menyatu karam di pasir pantai. Pada salah satu sisi buritannya tertulis „NTT Sejahterah“. Abjad-abjadnya mulai pudar dipanggang terik dan digarami laut. Maknanya dipertanyakan antara janji semantik dan disfunksi materi: antara pigura estetika dan mimbar politik.
Perahu motor itu adalah alat transportasi laut sekaligus sumber mata pencaharian seorang nelayan. Kemudinya menghubungkan eksistensi seorang nelayan, kebutuhan hidup ekonomi. Sebuah perahu yang tidak lagi berlayar lalu bukan berarti sekadar terhenti geraknya, tetapi juga denyut kehidupan: nafkah yang terputus, pemasukan yang mandek dan masa depan kehidupan yang tak tentu. Ia bukan hanya penghubung antar-pulau, tetapi jembatan antara karya dan kelayakan hidup (bermartabat).
„NTT Sejahterah“ – ini tentang interupsi janji. Sebuah ironi yang diam-diam berkibar di lautan nasib. Dalam diamnya ia menggugat: diam menagih janji karena „sejahterah“ hanya terdengar seperti litani liturgis tanpa inkarnasi, sebuah „sabda“ yang tidak „didagingkan“ hingga terjebak dalam lubang eskatologi sekuler – janji „keselamatan“ tanpa realisasi. Ia terdampar dalam janji, pudar dalam realitas.
Dalam karamnya, perahu ini menggetarkan resonansi kristologis. Ia mengingatkan semua pada panggilan „bertolaklah ke tempat yang lebih dalam“ untuk menebarkan jala. Panggilan ini bukan sekadar undangan religius, tetapi juga imperasi politis dan eksistensial. Sebab bagi seorang nelayan „bertolak ke tempat yang lebih dalam“ adalah sebuah jalan pulang: jalan pulang kepada hidup yang lebih layak.
Vian Lein


